Senin, 31 Agustus 2020

Mengusir Mental Miskin

 Oleh Syaifuddin



Menulis itu satu cara menolak bermental miskin. Menurut Jack Ma, orang yang bermental miskin punya satu kesamaan sikap: sepanjang hidup mereka hanya menunggu. Menulis adalah pekerjaan mendatangi, aktif, bergerak, tidak pasif atau menunggu.

Menurut Jack Ma, orang bermental miskin adalah orang yang paling susah dilayani. Diberi peluang gratis katanya jebakan. Diberi penawaran investasi kecil, tidak mau, karena hasilnya tidak banyak. Diajak berbisnis besar, tidak punya modal, tak ada uangnya.

Diajak melakukan hal baru, katanya tidak ada pengalaman. Ditawarkan bisnis tradisional seperti jualan makanan, berat terlalu banyak pesaingnya. Ditawarkan model bisnis baru, wah itu Multi Level Marketing/MLM. Diajak buka toko, merasa tidak bebas. Semua jenis bisnis yang ditawarkan, selalu alasannya tidak punya keahlian.

Mereka punya kesamaan : bertanyanya ke Google, patuh dengan kawan kawanya seangkatan sepenanggungan tukang mengeluh dan putus asa. Berpikir lebih banyak dari profesor, bertindak lebih sedikit dari orang buta.

Ayo kita lihat diri kita apakah alasan untuk menunda menulis. Mental seperti itu pernah menjadi bagian dari hidup saya. Diajak menulis yang sederhana, menulis bebas, buat apa tulisan seperti itu, tidak bermutu, tidak berguna. Diajak menulis artikel dengan standar akademik yang rigit, alasan berat, tidak ada waktu, susah harus cari referensi.

Diajak latihan menulis di media sosial atau blog, merasa remeh amat. Diminta mengirim ke media masa, takut ditolak. Diajak menulis yang sederhana, merasa tidak penting, diajak menulis yang penting merasa tidak mempunyai keahlian.

Kebiasaan yang saya tinggalkan. menilai tulisan semua orang selalu salah, tapi disuruh menulis takut salah. Malu menulis, takut menulis, tapi ingin punya karya. Lebih banyak menimbang kata daripada merangkai kata. Lebih sering merencanakan menulis daripada membuka gadget langsung menulis. 

Bangga membagikan tulisan orang lain, daripada menulis pendapat dan opininya sendiri. Mati matian membela pendapat orang, tapi lupa dengan aspirasi dan gagasannya sendiri.

Sebelum membangun Alibaba, perusahaan holding yang membuat Jack Ma menjadi orang kaya, ditawarkan gagasan kepada teman-temannya, semuanya menolak, mau menunggu hasil kerja Jack Ma. Ketika dia sukses dengan Alibabanya, orang orang itu sudah tak sanggup lagi mengejarnya, meskipun hanya membeli saham.

Mereka berpikiran, Jack Ma memang beda. Semuanya sama. Sebenarnya yang membedakan hanya satu berbuat, bertindak, melakukan.

Mungkin diantara kita ada yang berpikir seperti teman-teman Jack Ma. Saat diajak menulis banyak sekali pertimbangan : belum waktunya, tidak punya keahlian, tidak bisa menulis, nanti kalau ada waktu luang, takut salah, malu, tidak penting menulis, tidak ada alat tulis, banyak sekali kegiatan yang lebih penting dan prioritas, menulis itu pekerjaan jurnalis novelis, begini saja sudah dapat gaji, puas dengan keadaan saat ini dan banyak lagi.

Sekali lagi yang membuat perbedaan Jack Ma dengan teman-temannya adalah action. Bukan yang pintar, bukan yang punya banyak waktu, bukan yang mempunyai koleksi referensi melimpah, bukan yang mempunyai fasilitas tanpa batas untuk menulis, bukan imbalan besar, bukan insentif pajak, bukan pembajak, bukan yang punya rencana besar, bukan yang terlatih. Yang menentukan perbedaan adalah menulis dan terus menulis.

Tatkalah banyak temannya menanti perubahan, menunggu peluang, Jack Ma melakukan tindakan untuk berubah. Kalau kita menunggu masa yang tepat untuk menulis sampai kapan? Lebih baik salah, lebih baik malu, lebih baik gagal menghasilkan tulisan berkualitas tapi kita sudah melakukan daripada menunggu sampai perubahan menjauh dan meninggalkan kita.

Action. Lakukan. Menulislah. Maka akan kau temukan keajaiban.

Sangaji Ternate 

31 Agustus 2020

#113



Tidak ada komentar:

Posting Komentar