Minggu, 16 Agustus 2020

Menulis Untuk Merdeka

 Oleh Syaifuddin

Indonesia telah merdeka 75 tahun, yang hari ini dirayakan. Banyak makna dan persepsi tentang merdeka. Yang paling penting, semua warga negara mempunyai kebebasan untuk mendapatkan penghidupan dan pengajaran yang layak. Warga negara bebas mengembangkan pengetahuan, sekolah setingi tingginya, mencari ilmu sejauh jauhnya.

Sayangnya kebebasan itu belum sepenuhnya dimanfaatkan dengan baik. Tidak jarang kebebasan mengekspresikan pendapat dan aspirasi disalahgunakan. Perbaikan kondisi ekonomi, infrastruktur pendidikan dan sarana belajar belum dimanfaatkan secara optimal oleh bangsa Indonesia. Budaya baca masyarakat kita tertinggal jauh dibandingkan dengan bangsa lain. Produktifitas menerbitkan buku kondisinya lebih menghawatirkan lagi. 

Dengan majunya teknologi informasi dan ketersediaan media menulis yang melimpah dan murah belum sepenuhnya didayagunakan. Sejak berahirnya orde baru tahun 1998, kebebasan berbicara dan mengemukakan pendapat dibuka lebar, tetapi peningkatan literasi masyarakat juga berjalan lambat. 

Maka 75 tahun merdeka seharusnya punya makna yang lebih baik bagi kita sebagai bangsa. Marilah kita isi kemerdekaan dengan perjuangan. Memberikan kontribusi positif bagi pengetahuan. Memberikan manfaat sebesar besarnya dengan produktif menghasilkan tulisan. Jadikanlah menulis untuk merdeka. Menulis sebagai sarana membebaskan, memberi arti, memberi manfaat bagi sesama.

Cara mengisi kemerdekaan apapun profesinya adalah dengan menulis. Produktif menulis dapat mengoptimalkan waktu, untuk menghasilkan pelbagai karya tulis yang menginspirasi orang lain. Untuk menjadi penulis yang produktif menurut Pak Cahyadi Takariawan, harus menciptakan habit menulis. Kebiasaan itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus dibentuk dan direncanakan polanya. Menurutnya kebiasaan yang menjadi tulang punggung habit menulis sebagai berikut:

Pertama, rutin menulis setiap hari. Setiap orang bisa menentukan waktu, media dan tempat yang paling nyaman untuk menulis setiap hari. Yang dipentingkan adalah selalu menulis secara konsisten tidak banyaknya tulisan yang dibuat. Menciptakan habit adalah membuat tradisi, mempraktikkan konsistensi. Jika menulis dilakukan setiap hari maka akan terbentuk budaya menulis, tradisi menulis, bahkan ritual menulis. Seperti orang yang tepat shalat lima waktu setiap hari secara tepat waktu. Maka ada perasaan tidak nyaman, ada perasaan yang mengganjal kalau waktunya shalat kita lalai atau lupa.

Caranya? Supaya menulis dapat dilakukan setiap hari, melakukan dengan kesanggupan masing masing. Jika mampunya 500 kata setiap hari lakukan itu secara terus menerus, jangan beralasan dan jangan menunda. Mereka yang menulis setiap hari dan memostingnya adalah yang tidak beralasan dan menunda. Tidak ada alasan sibuk, tidak mood, belum ada inspirasi, tidak ada waktu. Menulis tidak bisa dilakukan dengan mencari waktu luang kata Pak Ngainun Naim, tapi luangkanlah waktu untuk menulis. Kalau alasan diberikan tempat, maka menunda menulis dan tidak menulis menjadi logis. Alasan selalu benar kalau kita ijinkan menjadi dasar. Karenanya supaya dapat menulis setiap hari, buanglah alasan.

Kedua, berhentilah menunda nunda. Salah satu habit yang perlu dilakukan agar mempunyai budaya menulis produktif adalah tidak suka menunda. Alasan menunda selalu masuk akal. Kebiasaan menunda nunda membuat kita tidak pernah menulis dan tidak akan menghasilkan karya tulis selamanya. Nanti saja, besok saja, kalau sudah selesai mengerjakan ini, kalau sudah longgar, minggu depan, bulan depan, tahun depan. Karena banyak tugas hari ini, menulis dikerjakan besok saja. Besoknya capek, ditunda lusanya, lusanya sakit ditunda besok lusanya.

Supaya tidak menunda nunda Pak Cahyadi Takariawan menawarkan beberapa tips. Membuat jadwal harian dan menetapkan waktu untuk menulis. Mematuhi jadwal yang sudah ditetapkan sesuai dengan kesiapan kondisi masing masing. Membuat prioritas hidup, dan menempatkan menulis sebagai deretan daftar prioritas. Katakan tidak untuk kepada penggoda untuk tidak menulis. Singkirkan pekerjaan lain pada saat jadwal menulis. Semua peralatan dan perlengkapan untuk menulis harus tersedia dengan baik, supaya tidak muncul malas karena tidak didukung peralatan yang memadahi. Kenali momentum menunda nunda. Kita yang tahu kebiasaan diri kita. Beberapa penulis mengenali momentum menunda terjadi di antara pembuatan outline dengan proses menuliskan ide.

Ketiga, Banyak Membaca. Pendukung paling utama dalam mensuplai bahan menulis adalah dengan membaca. Kebiasaan positif yang mendukung untuk menulis produktif adalah banyak membaca. Menurut Mas Hernowo makna mempunyai hubungan unik dengan menulis dan membaca. Membaca membuat kita menangkap makna, menulis membuat kita mengikat makna. Semakin banyak kita membaca semakin banyak makna yang dapat kita tangkap, tapi kalau tidak mengikatnya, menuliskannya maka makna cepat terlepas kembali. Semakin banyak membaca akan bermakna bila diikuti dengan banyak menulis. Kebiasaan banyak membaca memberikan support besar terhadap produktifitas menulis.

Membaca tidak hanyak yang tersurat tetapi juga yang tersirat. Membaca yang tersurat adalah membaca teks, membaca sumber sumber bacaan tertulis dalam bentuk print atau digital, media suara dan gambar bergerak, semuanya adalah bacaan tersurat. Dengan membaca teks kita jadi paham, mempunyai wawasan baru, menginspirasi, mempertajam emosi, memperluas gagasan, memberi ide, motivasi dan banyak lagi manfaat yang didapatkan. Membaca yang tersirat adalah membaca konteks, membaca realitas, ayat ayat kauniyah. Kejadian kejadian yang berlangsung dalam kehidupan kita secara langsung, hujan, petir, banjir, sidang hukum, rapat dengar pendapat, perbincangan penjual dan pembeli, perkuliahan dan seterusnya adalah teks kehidupan yang harus ditangkap maknanya. Sumber bacaan realitas sangat kaya dan memberikan makna yang besar terhadap inspirasi kita untuk menulis.

Itulah tiga hal awal yang penting untuk membangun kebiasaan menulis paling dasar tapi sangat penting untuk menjadikan diri kita produktif menulis. Waktu waktu yang kita punya akan selalu bermakna dan memberi makna kepada orang lain jika diisi dengan menulis dan menulis. Kebiasaan menulis tidak datang dengan sendirinya tapi harus didesain dan dirancanakan.


Sangaji Ternate 

17 Agustus 2020

#99


2 komentar: