Kamis, 27 Agustus 2020

Membaca Alquran

 Oleh Syaifuddin


Di sebagian besar masyarakat kita membaca Alquran lebih penting daripada membaca huruf lainnya. Biasanya anak anak di surau/musholah/langgar belajar membaca kitab suci terlebih dahulu, setelah itu baru masuk sekolah formal, belajar menulis dan membaca abcd. Terlebih dahulu mengerti huruf hijaiyah ketimbang alfabet. 

Sebuah aib bagi kanak kanak yang tak kunjung bisa membaca Alquran. Belum boleh khitan, kalau belum bisa baca Alquran. Dan sholatnya belum sah, olok olok yang membuat semua anak kecil berlomba untuk menguasai kemampuan membaca Alquran. Tradisi tahun 1970 an di pedesaan Jawa ini tetap juga berlaku di kota kota pada tahun 2020, meskipun dalam balutan tradisi yang berbeda.

Menandai remaja memasuki akil baligh dengan khataman Alquran, sebagai tanda sudah sah menjadi seorang muslim, yang diiringi dengan khitan. Sebaik baik kalian adalah yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya. Besarnya nanti bercita cita jadi dokter, jadi insinyur, jadi apapun, tapi pelajaran Alquran yang ditanamkan terlebih dahulu.

Namun tidak semua wilayah di nusantara ini mempunyai kebiasaan membaca Alquran seperti itu. Di Ternate, perguruan tinggi Islam menghadapi tingginya calon mahasiswa yang tidak bisa baca Alquran. Penyebabnya sangat kompleks, mulai dari pendidikan agama di tingkat paling dasar sampai tinggi tidak cukup memadahi untuk memfasilitasi masyarakat dekat dengan Alquran. Sedikitnya jumlah taman pendidikan Alquran, madrasah, diniyah dan pesantren. Pesantren-madrasah-taman pendidikan Alquran, adalah mata rantai yang saling mempengaruhi. Jangan pernah berharap pengajaran Alquran jalan baik di lembaga pendidikan formal maupun non formal, kalau pesantrennya redup, sebab membaca Alquran tidak bisa diselesaikan oleh software atau program komputer.

Ada solusi jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek program baca tulis Alquran dan diniyah yang sedang dikerjakan oleh pemerintah kota Ternate bisa menyelesaikan masalah ini. Sembilan kabupaten dan kota lain di Propinsi Maluku Utara, dapat mengadopsi program ini sesuai dengan karakteristiknya masing masing.

Kampus Islam semestinya mengoptimalkan dalam memfungsikan ma’had al-jami’ah (pondok pesantren perguruan tinggi) dalam menghilangkan buta huruf Alquran di kalangan mahasiswa. Dengan kapasitas yang terbatas, tidak mungkin semua mahasiswa baru ditampung selama satu tahun penuh. Jalan keluarnya, satu angkatan bergantian tinggal di ma’had dalam 5 gelombang. Setiap mahasiswa baru mengalami masa dua bulan penuh tinggal di ma’had. Kampus merancang kurikulum keagamaan khusus semacam shortcours yang outcomesnya adalah mahasiswa menguasai baca tulis Alquran, dan ilmu ilmu keagamaan tingkat dasar.

Bagaimana pendanaannya dan manajemen kepesantrenan dengan sumberdaya insani yang terbatas? Ma’had aljami’ah Sunan Ampel UIN Maliki Malang dan Pesantren Padanglampe Universitas Muslim Indonesia Makassar sudah puluhan tahun menerapkan pola ini. Kedua perguruan tinggi itu akreditasinya A. Yang satu negeri yang satu swasta, kemungkinan besar ini berkah ma’had dan berkah Alquran.

Untuk membumikan Alquran, dalam jangka panjang dapat dilakukan dengan membangun tradisi pendidikan Islam melalui pangaji dan pondok pesantren.

Melanjutkan tradisi pengajaran pendidikan Islam melalui pangaji, yang menjadi warisan kearifan lokal. Tradisi ini tidak sekedar digali dan dihidupkan kembali, tetapi harus mengalami penyegaran konsep dan modernisasi manajemen. Yang tetap harus dipertahankan adalah perannya sebagai lembaga informal yang menjaga vitalitas pengajaran pendidikan Islam.

Menumbuhkan sebanyak mungkin pondok pesantren. Syukur syukur pondok pesantren yang mengajarkan turats, sehingga tradisi pengajaran keagamaan kitab-kitab klasik dapat terus lestari. Nyaris tidak mungkin mengajarkan khazanah kitab klasik tanpa mengajarkan baca tulis Alquran. Sebab melalui Alquran lah maka pengembangan tradisi intelektual, kajian keagamaan, tafaquh fiddin dapat berlangsung hingga kini. Pertumbuhan pondok pesantren yang pesat akan memberikan efek samping pada tumbuh kembang lembaga pendidikan keagamaan baik formal, informal maupun non formal.

Pesantrenlah yang membuat lahirnya pondok pesantren baru, lahirnya madrasah-madrasah, lahirnya diniyah-diniyah, lahirnya ma’had ali, lahirnya perguruan tinggi keagamaan Islam, lahirnya taman pendidikan Alquran, lahirnya halaqah halaqah ilmu diniyah. Pondok pesantren yang merupakan lembaga pendidikan khas nusantara, adalah warisan kelembagaan para ulama’ yang patut kita syukuri, hargai dan kembangkan. Sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para nabi. Dua warisan yang membuat agama ini tidak akan pernah padam di negeri tercinta, Indonesia.

Sangaji Ternate 

27 Agustus 2020

#109


2 komentar:

  1. Ulasan dan tawaran solusi yang mantap Pak Doktor

    BalasHapus
  2. Mudah mudahan segera kita bisa nenemukan solusi program ini Ustaz

    BalasHapus