Sabtu, 22 Agustus 2020

Mengusir tikus


Pandemi membuat hidup saya menyempit. Tinggal di ruang 20 meter persegi sendirian. Mulanya terasa nyaman, terutama bagi yang senang tinggal sendirian. Setelah lewat tujuh hari semua jadi membosankan. Ini mungkin sebab ada tahlil tujuh hari. Dan waktupun berlalu, menderik seperti berjalan lamban. Satu satunya yang menghubungkan, bahwa di dunia luar kehidupan masih berjalan adalah layar 11 inci.

Italia, Spanyol berlomba memecahkan rekor penularan virus, video dan berita duka melayang layang dalam jagat maya. Wuhan mulai mereda, Amerika semakin jumawa. “Flu Wuhan itu flu biasa, di Amerika korban meninggal akibat flu jumlahnya ratusan ribu, Amerika tak kan tersentuh”, sesumbar presiden negara adikuasa.

Penularan virus di Indonesia, awalnyapun berjalan lamban. Walau dengan bahasa yang agak berbeda, nyatanya masyarakat dan para pemimpin, dengan nada sangat percaya diri meyakinkan bahwa virus tidak akan menjamah. Ada nasi kucing, ada rempah-rempah, matahari melimpah dan banyak do’a. Tapi ahirnya jatuh korban juga. Bukan tidak ada penularan virus, tapi tidak terdeteksi penularan. Sikap pertama yang salah. Tapi ya sudah, konsekuensi sikap bersama, yang harus dipikul secara berjamaah sebagai sebuah bangsa.

Dari rumah mungil ini, jalanan terdengar semakin lengang. Suara sirine ambulan semakin sering meraung raung, whatsapp mengabarkan mulai jatuh korban. Dari masjid sekitar rumah mungil makin sering ada pengumuman, setelah salam lanjut “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”, yang lanjut usia atau yang muda meninggal, berlanjut dengan dengug suara tahlilan.

Di dalam rumah, semakin terasa ramai. Binatang pengerat paling kecil ternyata merajalela. Keadaan yang tidak pernah saya insafi selama ini. Intensitas dari ruang ke ruang, berdiam dari waktu ke waktu, menyadarkan saya bahwa rumah ini sudah meriah dengan mahluk halus tapi nyata. Apa hendak dikata, saya pikir rumah ini steril dari semua jenis pengerat, ternyata banyak sekali. Semakin dekat semakin paham. 

Mau keluar cari pembasmi semua toko tutup, sampai warung makanan yang buka pun tinggal sedikit, untuk langkah pengamanan sampai menyediakan logistik sampai setelah lebaran. Karena pandemi waktu itu, tidak tahu sampai kapan. Tapi tidak berlebih lebihan menghimpun stok seperti di luar sana sampai timbul kelangkaan pangan. Tinggal tersisa satu jalan, yaitu berdamai dengan keadaan. Membiasakan dengan lalu lalang banyak pengerat yang sudah berkembang biak.

Pengerat ini tinggal karena tiga alasan. Ada jalan masuk, ada tempat persembunyian dan ada makanan. Menutup rapat sampai celah yang terkecil, bentuk usaha mustahil. Membongkar tempat potensial sebagai perumahan pengerat, tidak bisa. Dipindah kemanapun, dia akan ikut. Mau pindah pindahkan barang setiap waktu, mau bongkar bongkar tempat setiap waktu. Tinggal satu peluang, tidak boleh ada sisa makanan sampah yang tercecer meskipun  sebutir nasi.

Setiap hari sampah harus langsung dibuang. Sampah makanan mikro diamankan dalam kotak plastik tertutup. Ada kesempatan buang. Dua minggu ahirnya teman teman jerry yang paling mungil berkurang drastis. Tersisa satu dua, mungkin yang mampir sesekali untuk mengamankan bekal wilayah jarahannya. Atau jerry yang mencoba mencari peruntungan siapa tahu penghuni rumah lengah.

Sebagai manusia kita berada di dalam dua dunia. Jagat makro dan jagat mikro. Kadang karena terlalu asik dengan dengan dunia makro, kita lalai dan abai terhadap jagat mikro kita. Terlalu sibuk dengan urusan urusan besar, urusan jasmani, dunia luar, ruhani kita, jiwa kita, aspek mikro kita telah rimbun bersemak, bahkan bersemayam hama yang pada ahirnya membuat ruhani sakit. Harus ada usaha menyeimbangkan jasmani dan ruhani kita, karena dua jagat tempat kita tinggal saling mempengaruhi. Kalau ruhani kita sakit akan berpengaruh kepada jasmani kita demikian pula sebaliknya.

Intensitas kita dengan ruhani, akan membuat kita punya kepekaan, normal atau tidak normal. Jangan sampai pengerat pengerat jiwa telah beranak pinak, berkuasa dalam ruhani kita tanpa pernah kita sadari. 

Saat kita sadar bahwa dalam jagat mikro kita ada penyakit, ada hama sebaiknya segera lakukan perbaikan. Pembersihan terus menerus, menjaga kejernihan jiwa, kesehatan ruhani sehingga penyakit itu tidak betah tinggal dalam jagat kita. Rajin membersihkan sampah sampah ruhani yang menjadi asupan penyakit jiwa. Mungkin dia sesekali datang untuk berniat tinggal lagi. Tapi tidak akan betah bila jiwa kita rajin dibersihkan dan tidak tersisa sampah yang membuat penyakit ruhani ingin tinggal berlama lama.

Sangaji Ternate 

23 Agustus 2020

#106


2 komentar: