Minggu, 02 Agustus 2020

Langit Merah Jagat Maya


Di dalam masyarakat kita, literasi mengalami pergeseran dan pemaknaan secara terus menerus. Konten media sosial sekarang ini sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat digital. Di era digital dunia datar. Informasi bisa diproduksi oleh siapa saja. Produktifitas, kreatifitas dan inovasi yang menentukan perhatian pembaca, viewer, atau subscriber. Maka orang yang benar, pikiran yang lurus produsen konten positif tidak boleh pasif, tidak bisa hanya diam. Sebab konten negatif yang memenuhi atmosfer media sosial, suatu ketika akan berdampak buruk dan merusak kehidupan kita. Masa depan ditentukan oleh apa yang terjadi saat ini.

Di luar sana orang orang yang tidak bertanggungjawab atau yang punya agenda, membobardir langit media sosial dengan informasi dan konten yang menyesatkan. Hoaks dibuat besar besaran, sementara orang yang benar, orang yang waras diam, menganggap bahwa tidak ada persoalan di media sosial. Apakah orang yang waras tidak ada? Banyak, tapi tidak berbuat atau enggan untuk berbuat.

Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan, jumlah dosen lulusan S3 mencapai 39.000 orang dan 241.000 lulusan S2. Kalau semua aktif melahirkan konten konten positif baik melalui tulisan maupun produk digital lainnya maka media sosial lebih positif dan konstruktif. Konten hoaks dan konten negatif akan tenggelam dalam lautan kebenaran. Problemnya dari 280 ribu dosen itu terjebak dengan mengajar dan lupa menulis atau menghasilkan karya akademik positif. Puluhan ribu lainnya dengan kemampuan memadahi tapi tidak peduli, tidak menganggap penting, takut dilaporkan, takut diancam, takut dibuli jika tidak menyuarakan kebenaran.

Di jagat media sosial misalnya dosen dosen berhaluan Islam “ramah” digempur habis habisan oleh pemikiran pemikiran yang berbeda. Mengapa dosen-dosen yang berwawasan Islam yang lebih luas tidak mengambil peran lebih aktif di media sosial? Padahla publik menunggu edukasi dan informasi Islam seluas luasnya, sehingga mendapat pencerahan. 

Sejak pandemi misalnya tidak sedikit para ulama’ dan Kyai pesantren mulai menghasilkan konten konten yang membimbing dan mencerahkan. Sementara kelompok kelompok agresif sudah jauh jauh hari dengan penguasaan teknologi informasi, memenuhi media sosial dengan konten yang mengkampanyekan gagasan mereka. Hasil positif dari pandemi sebaiknya terus dilanjutkan. Pesantren tradisional dengan dakwah tradisional sudah saatnya membawa diri ke dalam dunia digital, media sosial, sebab masyarakat masa depan sudah berpindah ke media sosial.

Dakwah tradisional mempunyai pengikut karena dakwah menyesuaikan dengan tradisi masyarakatnya. Menggunakan bahasa daerah dirasa lebih mengena, karena itu bahasa yang paling dipahami oleh mereka. Sekarang ini masyarakat dengan tradisi baru sedang terbentuk yaitu generasi millenial, generasi X dan generasi Z yang mulai migrasi dari dunia nyata ke dunia maya. Ke depan yang disebut masyarakat  tradisi ya masyarakat digital atau citizen. Bila dakwah tidak menyesuaikan dengan perubahan tradisi generasi baru, jika konten tidak mengikuti perkembangan zaman dan perubahan masyarakat, maka akan ditinggalkan oleh masyarakat.

Media sosial menjadi medan pertempuran langsung memperebutkan pengaruh dan menjajakan keyakinan dan idiologi. Bila Islam yang representasi aspirasi mayoritas tidak aktif di jagat media sosial, maka secara perlahan generasi masa depan akan ditentukan siapa yang lebih aktif mewarnai media sosial. Jangan salahkan keadaan bila suatu ketika aliran ini lebih diminati daripada aliran itu. Yang kanan lebih disukai daripada yang tengah, karena yang kanan rajin dan aktif menghasilkan konten kanan sementara yang merasa tengah pasif.

Dunia telah berubah. Literasi digital dan literasi informasi menjadi tantangan baru. Big data dan kecerdasan buatan menjadi peluang baru, sekaligus ujian berat. Karenanya jika kita terlambat menyadari pentingnya literasi digital dan literasi informasi, maka masyarakat menjadi bulan bulanan hoaks dan menjadi terasing di belantara informasi. Big data dan kecerdasan buatan dapat menjadi sangat bermanfaat bagi yang memahami caranya, namun menjadi beban buat yang buta literasi digital dan literasi informasi.

Minggu lalu saya baca tulisan yang lewat di beranda media sosial, “Yang Waras Jangan Diam”, penulisnya prihatin dengan diamnya para sarjana terhadap berbagai fenomena yang berseliweran di media sosial. Hanya beberapa gelintir saja para intelektual seperti Ade Armando, Syafiq Hasyim, Nadirsyah Hosen, Sumanto Al-Qurtuby, Ahmad Ishomuddin, Akhmad Sahal, putri putri Gus Dur yang rajin bermedsos, menyuarakan perspektifnya dan memberi pencerahan, meskipun didera bully dan berbagai ancaman dipolisikan.

Kita tidak kekurangan orang baik. Tetapi orang baik yang diam, tidak memberikan pencerahan di jagat media sosial dengan konten konten positif dan keilmuan, maka kegelapan dan distorsi keilmuan merajai dan membentuk opini publik.

Mari yang waras, yang berilmu jangan hanya diam. Berbuatlah. Cerahkan dunia digital dengan literasi ideologis yang mencerahkan, yang menginspirasi, sehingga hoaks, konten negatif, faham faham sesat, takfiri tidak menjadi arus utama media sosial dan jagat maya.


Sangaji Ternate 
3 Agustus 2020
#85

2 komentar: