Kamis, 20 Agustus 2020

Tionghoa Peranakan

 Oleh Syaifuddin

Rasulullah Muhammad Saw., adalah manusia pilihan, hamba Allah dan utusan Nya, sosok manusia dengan penuh teladan. Pergaulannya dengan sesama manusia, cara menghormati sesama manusia, meskipun berbeda agama layak dijadikan teladan. Suatu ketika Rasulullah berhenti berdiri khidmat menghormati jenazah orang Yahudi yang sedang diusung menuju ke sebuah pemakaman. 

Masyhur sebuah kisah relasi Nabi dengan seorang Yahudi. Di masa Nabi, tinggallah seorang pengemis Yahudi buta yang tinggal di pojok sebuah pasar. Entah apa yang dirasakannya, sehingga selalu kampanye negatif tentang Muhammad, bahkan melarang siapapun untuk mendekat. Sebagai manusia yang mulia ahlaknya, Nabi tidak pernah memasukkan ke dalam hati kelakuan si pengemis ini. Setiap pagi Nabi menyempatkan menyuapi pengemis buta dengan penuh kasih sayang. Itu dilakukan sampai wafatnya Baginda. Ketika Rasulullah sudah berpulang, Sayyidina Abu Bakar bertanya kepada Aisyah kebiasaan Nabi yang luput dari pengamatan para sahabatnya. Maka Abu Bakarpun mencoba mengikuti jejak Nabi menyuapi si Yahudi di pojok pasar.

Saat suapan pertama, masuk ke mulutnya, pengemis bertanya, kau siapa? Aku orang yang biasanya menyuapimu. Pengemis bilang tidak. Orang yang biasa menyuapiku, tidak seperti ini, ia menyuapiku dengan lembut, makanan sebelum dimasukkan ke mulutku dikunyahnya terlebih dahulu. Abu Bakar tidak dapat menahan rasa sedihnya, dengan berlinangan air mata menjelaskan kepada pengemis. Ketahuilah bapak tua, orang yang biasanya menyuapimu adalah Muhammad, dan dia telah wafat. Si Yahudi merasa haru, terguncang jiwanya, tersentuh kemanusiaannya, kagum dengan agungnya budi pekerti Rasul. Orang yang selalu dihina, bahkan di depan yang bersangkutan, tidak sakit hati bahkan sepanjang sisa hidupnya berbuat baik untuk orang yang selalu memfitnahnya.

Dari cerita ini kita tahu bahwa lingkungan hidup Nabi di Madinah adalah kosmopolit, tidak ada segregeasi berdasarkan suku, ras, agama dan golongan. Kaum muslimin bercampur dengan masyarakat non muslim. Nabi dan para pengikutnya berbisnis, bertransaksi dengan siapapun. Kehidupan masyarakat muslim, kalau kita baca sirah, sejarah, tarikh mulai dari masa kepemimpinan Nabi sampai masa masa kemajuan dunia Islam, pusat pusat peradaban itu bersifat multikultural. Cara cara hidup yang kita jalani saat ini dengan beragam agama, suku, bangsa dan bahasa adalah hal yang biasa. Nabi berinteraksi dengan sesama masyarakat lainnya secara inklusif.

Bagaimana seharusnya pola hubungan masyarakat sebaiknya mengikuti teladan Nabi. Nabi tidak hidup dalam perkampungan muslim secara eksklusif dan hanya bermuamalah dengan orang orang Islam. Nabi memberi teladan, bagaimana membentuk masyarakat, memberi contoh dalam bergaul dengan sesama manusia dalam berbagai suku, ras agama dan golongan. Sesungguhnya bangunan relasi kita sangat ditentukan oleh bagaimana sikap saling mengenali dan memahami perbedaan. Tak kenal maka tak sayang. Munculnya prasangka, timbulnya sikap curiga karena kurang saling mengenal.

Sebagai muslim, sebagaimana pengalaman saya, pemahaman kita sangat ditentukan oleh interaksi. Dulu,  saya merasa punya jarak dengan etnis Tionghoa, kaarena di lingkungan desa saya tidak ada Tionghoa, begitupula dengan etnis lain. Lambat laun persepsi itu berubah seiring dengan pergaulan dan lingkungan, prasangka itu lama lama menjadi pemahaman yang lebih baik, setelah saling mengenal. 

Tetangga saya pertama saat masih tinggal di kontrakan adalah perempuan Tionghoa muslim. Walaupun sesama muslim ternyata terasa berbeda pada awalnya. Adat istiadat, cara berbicara orang Jawa dengan orang Tionghoa bertolak belakang. Interaksi setiap hari kemudian menciptakan tenggang rasa. Dua puluh tahun berlalu masih sering silaturahmi, walaupun tidak bertemu langsung. Masih saling bertukar kabar, meskipun si Noniknya tinggal di Hawai.

Setelah pindah rumah, tetangganya lebih pelangi lagi. Mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk belajar menghargai perbedaan. Menerima perbedaan sebagai anugerah. Karena Allah sengaja membuat keragaman dan perbedaan, jika mau mudah bagi Nya membuat umat ini menjadi satu. Kanan  rumah saya Tionghoa, ada Bu Yulia, menantunya mas David, cucunya Mathew. Kiri rumah saudara saya dari NTT Om Yustinus Fabiano Tibo yang semua keluarganya nasrani. Anaknya lelaki satu satunya mas Yanus, kalau tahlilan ikut melafalkan tanpa teks yasin dan tahlil, hafal dan lancar sekali. Cucunya Alfonso biasa bermain dengan anak anak saya. Menantunya, mbak Lusi juga saling bantu jualan, membantu kelahiran anak anak saya di klinik.

Saya merasa Rasul manusia idola, begitu indahnya berinteraksi dengan Yahudi yang miskin, buta dan nyinyir, tak pernah berhenti memfitnah, tapi Rasul memperlakukannya dengan penuh kasih, menyuapinya tiap pagi. Mengapa saya tidak mengikuti cara beliau. Agama bukan pemisah, agama adalah perekat kemanusiaan. Allah jadikan menausia bersuku suku dan berbangsa bangsa supaya saling mengenal.

Di lingkungan yang baru saya lebih mengenal indahnya perbedaan. Meskipun saya takut anjing tapi tidak mengurangi interaksi dengan tetangga tetangga saya yang baik hati lagi suka menolong. Lebar mata kami berbeda, warna kulit gradasinya jauh, tahlilannya lain, adat istiadatnya tidak sama, dengan saling mengenali, prasangka menjadi hilang. Dengan saling mengenal kita belajar bertenggang rasa. Perbedaan membuat hidup kita lebih berwarna.

Bila tidak mengenal dekat dengan saudara saya yang Tionghoa mungkin prasangka saya yang lama akan tetap bertahan. Itu pula yang dilakukan oleh junjungan kita Rasulullah. Nabi tidak menciptakan penduduk Madinal al-Munawar terklaster klaster berdasarkan agama dan ras. Kalau sejarah pernah mendokumentasikan pengusiran beberapa klan Yahudi dari Madinah, itu tidak disebabkan perbedaan agama. Pengusiran itu buntut dari pelanggaran dan penghianatan mereka terhadap kesepakatan atau perjanjian yang tertuang dalam Piagam Madinah.

Pemahaman terhadap budaya Tionghoa makin membaik setelah bertemu dengan mbak Yuyun. Saudari saya ini beda agama, beda ras, beda suku, tapi banyak membantu keluarga kami. Bersaudara layaknya kerabat sendiri. Bu Yuyun, seorang peranakan Tionghoa Kediri dengan pergaulan sangat luas lintas kota, lintas propinsi lintas negara. Hampir di seluruh wilayah nusantara ada teman dan saudaranya, beberapa kerabatnya juga tinggal di Ternate. Dari mbak Yuyun, saya tahu betapa luas dan kuatnya ikatan masyarakat Tionghoa, tapi tentu saja ada friksi dan faksi. Sesuatu yang lumrah dalam masyarakat manapun. Pertemuan pertemuan kami sering menjadi silaturahmi kebudayaan.

Dengan lugas dia nyatakan tidak setuju, waktu anak saya yang pertama saya kirim ke Pondok Gontor. Dia takut lulusan pondok ini nanti yang akan bermusuhan dan membasmi orang orang Tionghoa. Tersenyum saya mendengarnya. Dan ahirnya dari waktu ke waktu rasa takutnya menjadi rasa percaya. Bahkan mbak Yuyun sering mengunjungi (mudif) waktu anak anak di Gontor. Dia kagum dengan banyaknya bahasa yang diajarkan, kedisiplinan, etika pergaulan santri dan kerapian manajemen pondok modern Darussalam Gontor. Setiap liburan pondok pasti diingatkan untuk berkunjung ke rumah usahanya.

Prasangkanya terhadap Islam, kepada santri, karena didasarkan informasi terbatas yang berkembang di media yang bias, kadang kadang penuh framing. Keterbatasan interaksi dan pergaulan dari sumber informasi yang lebih akurat menjadi sebab. Dengan bebas, dia bisa bertanya kepada saya tentang Islam, karena saya tidak akan tersinggung terhadap pernyataan karena tidak tahu.

Dari cerita ceritanya saya menjadi tahu, tidak semua Tionghoa beragama Nasrani. Ada yang Konghucu, Budha dan Muslim. Kakak sepupunya pak Aling adalah Tionghoa muslim, dulu supir Kyai Pondok Lirboyo, kemudian diambil menantu seorang Kyai dari pondok Mojo Kediri. Pak Aling pengusaha travel yang maju dan menjadi bendahara partai yang berafiliasi ke NU. Darinya saya tahu ikatan kekeluargaan sesama Tionghoa tetap kuat walaupun berbeda beda agama. Selama hampir 20 tahun mengikuti naik turunnya bisnis restoran dan katering yang dihadapi oleh mbak Yuyun, dan bagaimana ulet dan tekunnya orang Tionghoa dalam berbisnis.

Tidak sedikit dan kecil hambatan dan rintangan dalam bisnis, termasuk diskriminasi. Tetapi selalu punya cara untuk menaklukkan rintangan dan hambatan. Pernah diusir dari restoran yang dikontrak karena persaingan bisnis. Mendapat lokasi yang dipinggiran sehingga restorannya sepi. Hikmahnya kateringnya jadi ramai orderan. Dikerjai pejabat pada penanganan katering PON Jawa Timur. Merevitalisasi tanah PT. KAI sehingga menjadi restoran yang ramai lagi. Disiplin dan kreatif membuat inovasi kuliner nusantara. Membangun jaringan dengan penguasaha pengusaha kecil. Karyawan dan mitra bisnis usaha kecilnya ratusan. Biasanya merayakan kebersamaan dengan 2-3 bus berdarmawisata. Cara mengelola karyawan dan mitra bisnis sangat manusiawi dan menghargai.

Pernah punya ART seorang bibik yang saking lamanya sampai menjadi nenek. Karena sudah merasa tua Simbok ini berhenti, istirahat di rumah. Selama Simbok lanjut usia sudah diperlakukan sebagai warga senior di rumah itu, tidak diberikan beban rumah tangga. Menemani ibunya mbak Yuyun. Setelah beberapa bulan di rumah Simbok minta ijin kembali ke rumah semangnya dan diijinkan, karena pada awalnya yang ingin pulang Simbok sendiri. Dan masih banyak karyawannya yang bertahan lama karena perlakuan bos yang sangat baik. Ada nilai kekuatan persaudaraan warga Tionghoa, yang tidak saya ketahui sebelumnya.

Pada hari hari besar masyarakat Tionghoa mbak Yuyun memperkenalkan kami dengan budaya Tionghoa terutama kulinernya. Diperkenalkan kami dengan dimsum, lontong capgomeh, manisan buah, kue keranjang, cara menggunakan sumpit. Anak anakpun dapat berinteraksi secara terbuka secara kekeluargaan tanpa takut menyinggung perasaan. Di sini interaksi memegang peran penting membuka dialog pemikiran dan kebudayaan. Kemauan untuk saling mengerti dan memahami. Bersedia menerima perbedaan.

Menarik mengamati apa yang dilakukan oleh Azmi Abubakar, pemuda Aceh yang mau menekuni interaksi sehat antar budaya. Ihtiar lita’rafu dengan mendirikan Musium Pustaka Peranakan Tionghoa di Tangerang Selatan. Azmi menggali eksistensi dan kontribusi masyarakat Tionghoa yang tenggelam oleh berbagai sebab. Langkah yang elegan, dan mengundang kekaguman, karena dilakukan oleh mayoritas terhadap yang dianggap minoritas. Muslim dan Tionghoa nyaris seperti minyak dan air, tak kan pernah menyatu di republik ini. Stigma yang terlanjur kaprah. Kalau yang melakukan usaha ini peranakan Tionghoa, meskipun muslim menjadi hal biasa. Tapi karena yang melakukan ini muslim dari Aceh, mengangkat hazanah Tionghoa peranakan, usahanya menjadi luar biasa.

Melalui musium peranakan Azmi melakukan inventarisir dan mempublish apa yang seharusnya. Misalnya dalam momen perayaan kemerdekaan 17 Agustus, secara tidak sadar kita bersikap diskriminatif terhadap saudara kita peranakan. Azmi mengangkat para pahlawan yang tenggelam ditelan sejarah dan stigma. Orang semua tahun Pangeran Diponegoro, Bung Karno, Bung Hatta, Tuanku Imam Bonjol, Kapitan Patimura, Sam Ratulangi, Sultan Hasanuddin. Tapi apakah kita tahu tentang Tjoei Bou San, Lie Eng Hok, John Lie, Sho Bun Seng, Ferry Sie King Lien, Tjia Giok Thwam. Kita saja mungkin sering salah dalam menulisnya. Mudah mudahan tidak salah ketik nama pak Kwik Kian Gie.

Para pahlawan perempuan ada RA. Kartini, H. Rasuna Said, Dewi Sartika, Laksamana Malahayati, Cut Nya’ Dien, Martha Christina Tiahahu. Tapi diantara kita siapakah yang mengenal The Sin Nio, seorang pejuang perempuan dari Wonosobo, prajurit yang di ahir hayatnya terlunta lunta di Jakarta, dan meninggal sebagai tuna wisma yang tinggal di gubuk dekat rel kereta api. Pejuang dari Wonosobo ini, Sin Nio profilnya diekspose oleh Azmi pada momen peringatan kemerdekaan tahun lalu. Prajurit perempuan yang tergabung dalam Kompi 1 Batalyon 4 Resimen 18, dengan gagah berani bersenjatakan golok dan bambu runcing kerap berada di front depan melawan penjajah Belanda. Dengan ketekunan dan kesabarannya setahun kemudian media mainstream mulai memberitakan. TNI menelusuri jejak prajurit perempuan. Ada usaha pemerintah untuk mengembalikan harkat dan martabat pejuang wanita ini.

Sebagai sebuah bangsa kita direkatkan oleh pelbagai perbedaan. Kita punya nilai pemersatu yang dijadikan pegangan bersama Bhineka Tunggal Ika, berbeda beda tetapi tetap satu jua. Perbedaan menjadikan kita saling melengkapi. Dijadikan manusia bersuku suku dan berbangsa bangsa supaya saling ta’aruf.

Khidmat Jumat Keramat

21 Agustus 2020

#104


Tidak ada komentar:

Posting Komentar