Sabtu, 06 Juni 2020

MOOD TIDAK DIBUTUHKAN DALAM MENULIS


Hilangkan pamrih menulis,  pada saat sedang menciptakan kebiasaan dan mengasah keterampilan menulis.

Bila pamrih atau alasan menulis supaya mendapat pujian, maka hasrat menulis hilang pada saat pujian tiada, keinginan menulis melemah saat respon pembaca biasa saja, menulis jadi aktifitas yang tidak menyenangkan bila mendapat kritikan. Maka minimalkan pamrih pujian sebagai tanggapan yang diinginkan dari tulisan.

Bila pamrih menulis karena kewajiban, maka menulis menjadi tekanan. Menulis jauh dari kata mengasikkan. Biasanya dikerjakan pada saat mendekati tenggat. Mati matian memaksa diri, menciptakan kondisi, memberi sugesti supaya bisa mengerjakan dengan suka hati.

Fatamorgana yang kita ciptakan akan bertahan dalam sesaat. Kita berusaha memanipulasi tekanan kejiwaan. Hasil kerja tidak maksimal. Setiap datang kewajiban terciptalah siklus serupa.

Tidak pernah mengambil pelajaran dengan terpaksa selalu mengulang tindakan karena kewajiban selalu datang berulang. Kita tidak mencoba mengembangkan keterampilan menulis, sebagai persiapan menangani kewajiban.

Jika menulis karena takut dinilai, maka buntulah gagasan, mandeglah tulisan. Anggap saja tidak ada yang pernah menilai negatif, anggaplah tidak ada yang akan salah paham dengan tulisan. Penilaian positif tidak akan menaikkan manfaat bagi saya. Penilaian negatif tidak akan merugikan saya.

Tulisan yang dinilai baik bagi pembaca tidak memberikan dampak positif buat saya. Tulisan yang dinilai buruk oleh pembaca tidak memberikan dampak negatif buat saya. Penulis saja jika segera menilai tulisan sendiri, maka akan segera dihapus, merasa malu, merasa tidak tepat sebelum gagasan semua tulisan sempurna. Pun demikian jika satu paragraf selesai tidak segera bergerak melanjutkan, kita menilai kembali tulisan kita dan merasa puas dengan kualitas tulisan, kita akan berhenti, mengulang ulang membaca dan lupa gagasan utuh dari keseluruhan tulisan.

Tulisan orang yang baru menciptakan kebiasaan menulis tidak harus baik, bermutu. Tulisan awal awal dalam menciptakan kebiasaan menulis selayaknya muter muter, mbulet, berpanjang lebar, kadang kadang pangkal ujungnya tidak jelas.

Tulisan orang yang baru memulai kebiasaan menulis tidak punya struktur yang jelas, cenderung bebas, tidak beraturan. Kadang kadang tulisan enak dibaca mudah dimengerti, menyentuh hati dan bahkan menginspirasi, tapi lebih sering tulisan yang tidak teratur.

Biarkan saja. Kalau sudah lewat dua bulan dan dinilai secara menyeluruh, mungkin bisa dikaji apa yang menyebabkan pada momen tertentu tulisannya sangat bagus, pasti ada faktor faktor unik yang mempengaruhi kejiwaan penulis dan dapat dijadikan penciptaan kondisi yang sesuai dengan keadaan terbaik yang sesuai bagi penulis.

Apa kondisi terburuk yang menghasilkan tulisan terburuk yang dialami oleh penulis juga perlu dipelajari. Pada saat tulisan datar dan menyeret nyeret ditemukan dalam kondisi bagaimana juga perlu dikenali oleh penulis. Semua evaluasi tadi biarlah penulis yang menentukan cara dan waktu menilai dan tidak usah menghapus atau mengedit tulisan yang sudah jadi atau sudah dipublish di blog misalnya.

Apa yang menjadi alasan untuk menulis menjadi kebiasaan. Karena kalau tanpa alasan, tanpa motivasi, tanpa daya yang menggerakkan tidak akan aktifitas menulis. Oprah winfrey menyampaikan dalam salah satu shownya, kebiasaan dapat diciptakan dengan mengulang secara konsisten selama 30 hari.

Mungkin setiap orang mempunyai karakter yang berbeda beda, sehingga waktu pengulangan supaya menjadi kebiasaan, perilaku menjadi otomatis berbeda beda. Jadi intinya ada repetisi perilaku yang diulang ulang bisa selama 30 hari, 40 hari dan seterusnya silahkan dipraktikkan sampai menulis yang konsisten menjadi habit.

Senada, serupa dengan itu, dapat mencoba kebiasaan hidup yang dibuat oleh Imanual Kant sepanjang hidupnya 80 tahun. Kant punya kebiasaan yang rutin dan nyaris mekanis. Suka tidak suka, mau tidak mau Kant mengikuti jadwal harian yang telah ditetapkan. Saking tepatnya Kant dalam mematuhi jadwalnya masyarakat Konikgsberg berseloroh, Kant lebih tepat waktu dari jam.

Kant tidak pernah mengikuti dorongan perasaan dorongan hati (mood) untuk mengerjakan sesuatu, perasaannya yang menyesuaikan waktu. Jadwal hidup Kant tidak pernah berubah semenitpun  dalam 60 tahun : Jam 4.55 bangun pagi, jam 5.00 minum Teh, Sampai Jam 07.00 mempersiapkan bahan bahan kuliah, Jam 07.00-09.00 memberi kuliah, Jam 09.00-12.45 menulis dan membaca, 12.45-16.00 makan siang sambil diskusi, Jam 16.00 jalan jalan kaki harus sendirian sambil berpikir, lanjut bekerja lagi, membaca, jam 22.00 tepat sudah naik ke tempat tidur.

Jadwalnya tepat dijalani tanpa ada yang meleset dan dilanggar. Para penulis sejarahnya mencatat hanya sekali saja dalam hidupnya Kant lupa jalan jalan sore, karena terlalu asik membaca buku Rousseau yang menurutnya buku itu sangat bagus.

Disiplin dalam membuat jadwal yang sudah ditetapkan akan membantu kita mengatasi persoalan mood yang sering dikambinghitamkan sebagai hambatan tidak menulis. Kant mempraktikkan produktifitas manusia dalam berpikir dan menulis ternayat bisa direkayasa. Perasaan yang harus mengikuti waktu, bukan waktu yang mengikuti perasaan.

Barangkali ini yang menjadi alasan Tuhan bersumpah demi waktu. Waktu dapat kita atur, sehingga hidup kita, mood menulis kita menyesuaikan dengan waktu.

Jumat, 05 Juni 2020

BUKU KOPERASI SYARI'AH PERTAMA DI INDONESIA

Koperasi adalah lembaga keuangan unik yang sering disalahpahami dan disalahgunakan. Banyak orang menganggap koperasi hanya lembaga yang memberikan pinjaman, banyak pula pihak yang mendirikan koperasi sebagai lembaga pelepas uang (bank plencing, bank titil, mindring  syari’ah), itu diantara bentuk penyalahpahaman. Di zaman orde baru koperasi digunakan sebagai tempat mencari keuntungan segelintir orang. Sudah lazim KUD (Koperasi Unit Desa) dijadikan alat mempengaruhi dan mempertahankan kekuasaan. Inilah salah satu bentuk penyalahgunaan.

Masyarakat lebih asyik menggunakan arisan sebagai cara kolektif mengumpulkan modal, daripada memanfaatkan koperasi sebagai cara menghimpun kekuatan ekonomi kolektif untuk memberdayakan anggota kelompok, paguyuban atau perkumpulan.

Lembaga keuangan sekala mikro sebenarnya lebih tepat disebut sebagai Lembaga Keuangan Mikro berdasarkan UU RI No 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro. Lembaga keuangan mikro merupakan payung kelembagaan dari berbagai nama lembaga simpan pinjam yang banyak berkembang sebelum tahun 2013. Beberapa nama dapat disebutkan antara lain Usaha Bersama (UB), Credit Union (CU), Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), Kelompok Tani Hutan (KTH), dan lain lain termasuk BMT (Baytul Mal wa Tamwil) dan BTM (Baytul Mal Muhammadiyah). Dua yang terakhir merupakan lembaga keuangan mikro syari’ah.

Buku LKM Koperasi Syari’ah-Tinjauan Sosial dan Manajemen Organisasi yang diterbitkan tahun 2015 oleh Penerbit Idola Press Surabaya adalah upaya penulis untuk memperkaya literatur koperasi syari’ah yang sangat terbatas informasinya di masyarakat. Bila koperasi saja banyak disalahpahami kemudian disalahgunakan, apata lagi koperasi syari’ah. Terbukti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melakukan kesalahan fatal dengan mengkategorikan beberapa koperasi syari’ah ke dalam lembaga pemberi pinjaman keuangan online ilegal. Informasinya dapat digoogling di berita berita online pertengahan Mei 2020.

Buku tersebut, merupakan buku pertama yang bicara tentang koperasi syari’ah sebelum tahun 2015. Sebab selama penyusunan buku, tidak ditemukan buku dengan judul koperasi syari’ah atau koperasi jasa keuangan syari’ah. Di Indonesia belum ada koperasi yang mentereng peran dan fungsinya bagi masyarakat seperti di Jepang atau Jerman. Kita masih bisa berharap dari ratusan ribu koperasi yang ada di Indonesia akan muncul beberapa yang ideal. Di Sidogiri, ada pesantren yang memiliki koperasi syari’ah berbentuk BMT dengan asset di atas 4 triliun Rupiah, membanggakan dan diharapkan.

Buku yang diedit dengan baik oleh Dr. Nirwan Umasugi ini dicetak dalam kertas book paper, berisi 7 Bab dengan 184 halaman. Buku ini tidak banyak berteori, tapi lebih berorientasi praktis. Lembaga keuangan koperasi syari’ah ini dibutuhkan di level mikro karena keuangan syari’ah di level menengah dan besar sudah memiliki banyak pelaku industri. Di level menengah sudah ratusan Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) dan di level besar sudah ada puluhan Bank Umum Syari’ah (BUS).

Bagi pembaca yang ingin segera mendirikan koperasi syari’ah maka isi dari buku ini sangat aplikatif. Disediakan pedoman yang praktis bagaimana menyiapkan manajemen organisasi koperasi syari’ah supaya bisa segera melangkah. Perangkat organisasi dan kelengkapan manajemen apa saja yang diperlukan oleh sebuah koperasi yang berharap berkembang di masa mendatang penting untuk merivew organisasi melalui buku ini. Kelengkapan manajemen dari mulai Rapat Anggota (Pemegang Mandat Tertinggi koperasi), Badan Pengawas, Dewan Pengawas Syari’ah, Manajer, Pengawas Internal, Bagian Operasional dan Bagian Pemasaran, tersedia tugas pokok dan fungsi serta standar operasional prosedurnya.

Koperasi syari’ah mempunyai sistem operasional yang hampir sama dengan bank syari’ah dan BPRS, skala organisasinya yang fleksibel bisa dari yang berukuran kecil sampai dengan yang berukuran besar. BMT Sidogiri bila dilihat dari asset yang dikelola setara dengan bank umum syari’ah, namun perangkat manajemennya tetap koperasi syari’ah. Buku ini juga sudah menyediakan sistem operasional koperasi syari’ah.

Yang membedakan lembaga keuangan konvensional dengan lembaga keuangan syari’ah adalah dasar produk keuangannya. Bila lembaga keuangan konvensional menggunakan bunga sebagai instrumen pokok produk keuangan maka lembaga keuangan syari’ah menggunakan prinsip prinsip syari’ah dalam mendesain produk keuangannya.

Maka di buku ini juga menguraikan desain produk keuangan koperasi syari’ah dalam penghimpunan dana maupun penyaluran dana. Dalam penghimpunan dana koperasi menggunakan akad mudharabah muqayadah dan muthlaqah pada investasi terikat, investasi tidak terikat dan simpanan berjangka, serta akad wadi’ah  yadul amanah dan wadi’ah yadudh dhamanah pada akad titipan di koperasi syari’ah.

Pada kegiatan penyaluran koperasi syari’ah buku ini juga membahas kontrak atau akad penyaluran dana koperasi dalam syirkah (kemitraan) , bay’ (jual beli), ijarah (sewa), Qardh (Pinjaman), Rahn (Gadai). Pembiayaan kemitraan menggunakan akad mudharabah dan musyarakah. Pembiayaan jual beli menggunakan akad Murabahah, Salam dan Istishna’.

Buku ini juga membahas organisasi manajemen  pembiayaan yang menjadi organ penting berhasil tidaknya koperasi syari’ah. Sebagai organisasi bisnis pada salah satu sisi fungsi koperasi, maka peran komite pembiayaan menjadi krusial dalam mengelola dana anggota koperasi. Prinsip kehati hatian/prudens mengelola kepercayaan dana masyarakat membuat penulis memberikan perhatian khusus pada manajemen pembiayaan di koperasi syari’ah, dalam buku ini.

Kamis, 04 Juni 2020

MENGAPA MENULIS LAGI?


Menulis, mengajar, ceramah, menjadi narasumber adalah spirit memberi. Kran tidak dapat mengeluarkan air jika  tidak ada isinya dan tidak terisi.

Membaca, yang tersirat dan tersurat, mendengarkan kuliah, mengikuti seminar, sarasehan, peserta worksop, menonton youtube, menyimak tutorial dan lain sebagainya adalah spirit menerima.

Berpikir, mengolah, merefleksikan pengetahuan yang kita serap adalah memberi nilai tambah terhadap pengetahuan yang kita terima.

Air panas ditambahkan daun teh menjadi minuman teh yang menyegarkan. Kopi gayo digrinding dengan takaran yang pas, diseduh denga air panas, meningkatkan konsentrasi. Bersama air, parutan kelapa, ketan, dan gula merah dipanaskan menjadi dodol legit yang mengenyangkan. Air yang diolah bersama bahan lainnya menghasilkan formula baru, memberi nilai tambah pada air.

Bejana yang diisi terus menerus maka airnya akan tumpah, bila tak ada celah bejana akan pecah.

Para penikmat bacaan, pemburu pengetahuan, orang yang haus ilmu, pasti mencari terus literatur bermutu. Mengagumi gagasan dan tulisan yang bagus, tersentuh dan terinspirasi. Mengapa inspirasi tidak membuat kita tergerak untuk melakukan. Mengapa hanya berhenti sampai mengagumi dan menshare tulisan bagus atau pengetahuan baru yang kita anggap menarik.

Berhenti hanya sampai mengagumi dan menshare saja, berarti belum memberikan nilai tambah buat kita. Tidak mengubahnya menjadi tindakan dan tulisan berarti belum berorientasi pada spirit memberi.

Kita harusnya mengagumi otak dan daya nalar yang dianugerahkan Tuhan. Semakin otak sering digunakan, semakin berkembang kemampuan menyimpan dan menalar. Saat kita terus menerus menulis, ide, variasi kata dan kalimat yang keluar semakin kaya dan semakin bervariasi dengan sendirinya.

Pikiran menjadi cerewet dan banyak maunya, menderas jika kita biasakan menulis. Antusias kadang datang dengan sendiri akibat kebiasaan menulis. Simpanan pengetahuan yang tertutup berlapis lapis memori bermunculan saat antusias. Lapis demi lapis memori ingatan yang muncul membentuk gagasan baru yang terangkai terus menerus.

Apakah ada kalanya anda tidak ingin berhenti menulis? apa saja yang ingin dituliskan tiba tiba datang bertubi tubi.  Kesempatan itu akan datang bila kita membiasakan menulis setiap hari. Dan akan semakin kaya dan canggih bila diimbangi dengan membaca yang konsisten.

Menulislah dari hal yang paling di kuasai. Menulis dengan cara bebas, free writing. Jika bersepeda lancar, maka belajar sepeda motor akan lebih mudah. Belajar sepeda angin menggunakan sepeda motor, akan menghasilkan trauma, ahirnya tidak bisa naik dua duanya. Banyak terpelajar yang tidak belajar menulis berjenjang, dari menulis bebas lancar menuju menulis serius dan berat.

Doktor kok tulisannya tidak berkualitas. Si Doktor makin hati hati, takut salah, takut mencemarkan titelnya, makin senior makin hati hati menulis. Kalau tidak karena kewajiban, tidak menulis. Lambat laun makin pelit menulis. Ilmunya berkembang, nyali menulisnya mengkerut. Keilmuannya berkembang, tapi keterampilan menulisnya menghilang. Semakin pandai dia berbicara, karena makin luas bacaan dan pengetahuannya. Karena ilmunya tidak diikat dalam tulisan, semakin lama semakin lantang dan keras dia berkhutbah, tapi hanya mengulang yang itu itu saja.

Ilustrasi di atas terjadi pada sebagian masyarakat terpelajar yang punya masalah dengan kemampuan menulis. Sangat diperlukan tulisan bagus dengan standar penulisan yang baku. Tembok yang menghambat mental kelancaran menulis dan labirin yang membatasi kreatifitas menuangkan gagasan harus dihilangkan dulu. Menulis lancar sebaiknya menjadi prioritas, sebab menulis bagus sudah dikerjakan dunia akademik.

Di alam modern, nyaris tak ada profesi yang tidak menuntut kemampuan menulis yang baik. Persoalan rendahnya minat membaca bangsa ini masih ditambah lagi dengan rendahnya minat menulis. 

Rabu, 03 Juni 2020

MENULIS MENYELAMATKAN SAYA DARI KEBOSANAN



Tiba tiba harus work from home, gegara virus. Bagi sebagian besar penduduk bumi yang masih bisa berkumpul dalam keluarga besar, pembatasan ini bisa menjadi berkah yang tersembunyi. Jika terpaksa harus keluar rumah yang penting, tetap bisa dilakukan dengan hati hati, patuh protokol, ihtiar maksimal, tidak meleng, jauhi takabur, luruskan niat, insyaAllah tetap selalu dalam perlindungan dan pertolongan. Lain lagi dengan yang saya alami. Sendiri, dalam rumah yang ditinggali sendiri.

Rumah yang biasanya hanya jadi tempat mampir tidur dan mandi, sekarang harus difungsikan sebagai penjara pribadi, jadi sipir dan jadi napi sendiri. Hukuman tanpa dakwaan dan kesalahan. Harus menerima dengan pasrah semua titah. Hukum yang diciptakan oleh keadaan. Keselamatan yang bertumpu pada kesadaran dan kesukarelaan. Di tengah segelintir masyarakat pongah yang dengan kebenaran palsu menisbikan pandemi, berkeliaran menantang maut, sambil membahayakan nyawa orang lain secara sembunyi karena keracunan ilusi.

Selalu muncul masalah tambahan setiap hari, dari interaksi dengan pandemi. Ya politik, ya ekonomi, ya disiplin pegawai, ya psikologi dan halusinasi. Makin lama makin banyak masalahnya. Sampai di ujung persimpangan yang mengharuskan memilih apakah menerima kenyataan dilanjutkan dengan melakukan tindakan yang positif dan produktif, atau sambil rebahan meneruskan merutuki dan menambah daftar panjang masalah yang akan muncul bertubi tubi.

Kewajiban sebagai abdi dengan tugas dan fungsi maupun dengan tugas tambahan tidak sulit untuk dikerjakan dengan peralihan menuju ‘kerja di rumah saja’. Masalahnya energi yang tersedia luas dan berlimpah limpah ini harus dikemanakan. Sawah ladang tidak ada, peralatan tukang pun tiada. Kerja fisik diperlukan untuk menjaga stamina. Pompa adrenalin diperlukan supaya raga tetap siaga dan waspada. Kalau tidak ada solusi maka perjalanan moksa dimulai. Mengerdil dalam lingkaran keputusasaan, sibuk mencari kesalahan dan mencari siapa saja yang layak ditimpakan kesalahan. Sungguh situasi yang tidak mboys dan keren.

Lingkaran dan lingkungan penulis dan giat literasi menjadi solusi. Melalui disiplin bersama, saling menguatkan, menyemangati dan memotivasi untuk menyalurkan limpahan energi dan waktu untuk menulis. Menulis dalam berbagai genre dan gaya selingkung. Menulis membutuhkan kaki ketiga sebagai penopang yaitu membaca, jika hanya dengan dua kaki saja yaitu berfikir dan menulis maka jalannya akan timpang. Menulis, membaca dan berpikir proses simultan yang bisa dilatih dan ditrampilkan. Masing masing mempunyai metode dan cara kerja yang paling efektif.

Kerja di rumah saja dengan kelimpahan waktu dan energi merupakan kesempatan yang tepat untuk melatih ketiga keterampilan tersebut secara konsisten, senyampang alasan alasan-yang sebenarnya enggan dan malas- sudah ditiadakan oleh pandemi. Setiap orang punya kenyamanan dan kelengkapan yang mendukung untuk lancar menulis, dan tidak sama satu sama lain, kadang kadang unik. Waktu terbaik untuk menulis, ada yang memilih sebelum subuh, setelah subuh, saat dhuha, setelah maghrib atau menjelang tidur. Ada yang merasa nyaman dengan suasana bising tapi ada juga yang nyaman menulis dalam keheningan. Ada yang nyaman menuliskan konsep besarnya dalam sketsa kertas terlebih dahulu, ada yang bisa lancar menuangkan gagasannya di depan mesin ketik manual, sebagian besar menulis di notebook, PC dan smarthphone.

Saya selalu menyiapkan colornote untuk segera menuliskan secara garis besar gagasan yang melintas di pikiran. Jika ada tulisan yang menarik segera saya salin ke colornote,  termasuk menyimpan link referensi untuk tulisan artikel ilmiah yang memerlukan referensi standar penulisan baku. Colornote di dalam smarthphone, secara sempurna bahkan lebih baik lagi menggantikan peran notes book. Leonardo Da Vinci juga mengembangkan kebiasaan membawa ke manapun notes untuk mencatat semua ide dan gagasan yang muncul, yang belakangan ide idenya banyak memberikan sumbangan pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu, tehnik, medis, hukum dan filsafat. Pola Davinci yang digeser ke smartphone sangat membantu saya dalam mengorganisir tulisan, sebab smarthpone juga yang selalu standby dan ikut ke mana mana.

Cara kedua, serupa dengan cara di atas, tapi dalam beberapa hal mempunyai kelebihan dan kecepatan dalam mengorganisir data, referensi untuk menjadi tulisan yaitu notebook yang punya daya baterei lama. Karena saya belum bisa membuat jadwal yang tetap waktunya dan konsisten pelaksanaannya sehingga kehadiran notebook sangat membantu memperlancar penulisan. Dibandingkan dengan smartphone, maka kecepatan mengorganisir dan menuliskan gagasan di notebook dua kali lebih cepat dan efisien.

Keberadaan notes book masih diperlukan walau dalam tingkat kebutuhan yang lebih terbatas. Karena kecepatan dalam merangsang otak untuk berpikir bagan, gambar dan sketsa tangan menghasilkan performa gagasan tulisan yang lebih menyeluruh dan detail. Itu sebabnya dalam menangani tulisan tulisan jenis tertentu notes book masih sangat membantu

Bagi saya, meletakkan tulisan di mana juga penting untuk mendorong produktifitas menulis. Disimpan di smarthphone saja, disimpan di notebook saja, dikirim ke Jurnal ilmiah, dikirim ke penerbit dalam bentuk naskah buku, dipublish di Blog, ditampilkan di website, diunggah di status media sosial atau dikirim ke WA group. Seabrek tulisan dan serenteng tujuan penulisan inilah yang kerap menggairahkan bagi saya untuk menulis, membaca, berpikir dan menuliskan kembali. Jika sibuk membaca dan menulis walaupun dalam kesendirian rasanya waktu tidak cukup, kurang, minta ditambah. Apakah meluap luapnya energi Bung Karno, Buya Hamka dan Sayyid Qutb yang memberi dorongan besar untuk menyelesaikan karya karya besarnya dari dalam penjara. Indonesia Menggugat & Dibawah bendera Revolusi, Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Fi Dhilalil Qur’an.

Selasa, 02 Juni 2020

MEMBANGUN BUDAYA LITERASI DI SPICE ISLAND, TERNATE


Menumbuhkan budaya literasi sebenarnya mudah. Dunia akademik, lingkungan kampus seharusnya lahan yang subur untuk menumbuhkan budaya literasi. Nyatanya tidak segampang yang dibayangkan. Di tengah situasi yang unyu unyu menggemaskan ini, kehadiran penggerak yang komitmen dengan penuh kecintaan dan dedikasi merawat tumbuh kembang budaya literasi di kampus, bagaikan oase. Dr. Ngainum Naim, M. Ag., biasa dipanggil Kyai Naim adalah asa itu. Kecintaannya terhadap ilmu dan kepedulian pada literasi, mendorognya membenamkan dalam belantara gersang IAIN Ternate.

Kyai Naim didapuk sebagai narasumber menulis civitas IAIN Ternate pada awal Juli 2019. Tidak muda awalnya membongkar blok yang menghambat para dosen supaya menulis secara konsisten. Hal sederhana tetapi penting adalah menyingkirkan anggapan bahwa menulis itu sulit, terlalu banyak syarat dan aturan, terlalu banyak ketakutan dan kehawatiran. Kyai Naim berusaha mengembalikan kepercayaan diri peserta klinik menulis. Menekankan pada usaha melakukan, langsung praktekkan menulis.

Sebagai penulis otodidak, pelajaran paling penting untuk membongkar hambatan saya dalam menulis adalah menulis bebas. Terbukti menulis bebas yang diajarkan Kyai Naim memperlancar saya menulis apa yang saya ingin tulis. Tehnik meyusun pertanyaan sebagai outline tulisan, membantu saya membangun kerangka tentatif supaya tulisan mempunyai alur, punya pengantar dan berahir pada kesimpulan.

Dua tehnik tersebut, terlihat sederhana, namun bagi saya sangat besar, dapat memperlancar menuangkan gagasan dalam tulisan. Saya bisa mempercepat menulis 1000 karakter dalam waktu 40 menit dengan lancar tanpa ada perasaan bersalah, berdosa dan tertekan.  Kecepatan itu meningkat terus seiring dengan kebiasaan menulis. Dengan keasyikan metode ini saya dapat bertahan dua jam non stop menulis, tanpa disela membuka rujukan. Murni apa yang dapat keluar dari pikiran. Selanjutnya mengedit, mencari referensi, mengoreksi bahasa, membetulkan data dan seterusnya pekerjaan teknis yang tidak sulit untuk diselesaikan.

Klinik yang diberikan Kyai Naim tidak lama, total 3 jam antara brainstorming, curah pendapat dan praktik. Yang panjang dan lama pendampingannya. Sebab merawat budaya menulis seperti memelihara tanaman, dilakukan setiap hari. Kalau lama tak disiram layu, jika tak ditengok tumbuh rumput gulma di sekitarnya, jika dibiarkan merana. Setiap saat harus dijaga, kadang kadang dipupuk dan diberi nutrisi supaya tumbuh bagus. Media memelihara  adalah dengan WA group.

Awalnya semua peserta dibebaskan menulis dan mengunggah di WAG. Peserta mengirim secara sukarela. Awalnya semua mengirim tulisan, setelah itu  beberapa saja yang mengirim setiap hari. Lewat satu bulan tulisan yang diunggah mulai sporadis. Tanda tanda layu mulai menampak, gairah menguap. Ketika Kyai Naim menyemangati, tulisan mulai datang lagi, tapi tidak berlangsung lama, sepertinya silent reader lebih dominan, penulisnya sudah kembali ke mental sebelum klinik.

Tiba tiba WAG mulai ramai lagi yang banyak dikirim copas, kiriman kiriman gambar dan komentar yang semakin menjauh. Menulis menjadi suatu kemewahan lagi. WAG penulis menjadi WAG pembaca dan komentar, dan komentarnya pun dengan ikon. Rupanya tulisan menjadi langka dan menulis seakan aib dan dosa. sembilan bulan rumah produksi gagasan berubah menjadi kuburan dan taman pujian dan bacaan.

Dari 32 memberi WAG, yang pernah menulis, kadang kadang menulis di kisaran 20 persen.

Bulan April  2020, Kyai Naim selaku wali kelas membuat daftar unggah tulisan peserta WAG. Diminta secara sukarela menentukan hari mengunggah tulisan, kewajiban satu kali satu tulisan setiap minggu dan bisa memilih lebih dari satu bersifat sukarela. Strateginya setengah memaksa. Ternyata langkah wali kelas ini cukup efektif sehingga tulisan berikutnya lancar, bahkan kadang melebihi target minimal, meskipun pesertanya belum 100 persen menulis.

Saat akan memasuki satu tahun WAG menulis IAIN Ternate semakin hidup dan bersemangat. Tentu bagi yang masih bisa disemangati. Mulai muncul inisiatif mempublish di Blog, kompasiana dan media penampil lainnya. Gairahnya juga sudah mulai menjalar ke mahasiswa. Mungkin akan segera menjadi budaya bersama civitas akademika IAIN Ternate. Kita tunggu satu tahun lagi memasuki pertumbuhan kedua. Bayi sudah bisa berjalan, mungkin masih jatuh bangun, gigi mulai tumbuh, tapi jangan langsung nelan jagung. Akan banyak ujian, hambatan dan tantangan. Tapi yakinlah masih ada harapan tumbuh bersama meraih janji melalui jalan literasi.

Mencermati langkah Kyai Naim dalam memelihara dan menghidupkan halaqah literasi seperti betul betul Kyai. Kyai tanpa pesantren, asramanya WAG, kamarnya Blog, pengajiannya klinik, kitabnya alam raya, santrinya dari dosen-guru-hingga mahasiswa, bayarannya do’a-terimakasih-dan alhamdulillah. Yang paling penting menulis menjadi obat anti hoaks, karena didalam share copas WAG 65 % adalah hoaks.

Terahir. Pada era ‘di rumah saja’, pembelajaran dan perkuliahan sangat efektif dengan tulisan, dengan menulis mahasiswa akan membaca, mengolah dalam pikiran dan menuliskannya (semuanya melakukan bukan sekedar mendengar dan melihat). Dari sisi biaya pulsa lebih murah untuk mahasiswa. Mempublish di blog gratis juga dapat membangun budaya literasi, sebagai medan latihan sampai dengan menyelesaikan skripsi dan tesis. Lebih ramah lingkungan karena paperless.

DILEMA SANTRI KEMBALI KE PONDOK


Tidak mudah melepas belahan jiwa di usia muda kembali ke Pondok setelah liburan panjang. Apalagi bagi orang tua yang tinggal 1.300 km jauh dari anaknya, tertahan di karantina wilayah menyaksikan, dan hanya bisa mengarahkan dari jauh. Terbelah jiwanya, tertahan dalam tidak berdaya. Orang tuanya di Ternate, anaknya di Surabaya, mondoknya di Ponorogo. Berikut ini ceritanya.

Pondok Modern Darussalam Gontor di Jawa, punya 10 kampus putra putri yang tersebar dari Banyuwangi di ujung timur pulau Jawa sampai Magelang di pusat pulau Jawa dekat Gunung Tidar. Liburan Gontor dua kali dalam satu tahun, 10 hari di bulan Maulud dan 50 hari dimulai tanggal 20 Sya’ban sampai 10 Syawal. Tahun ini karena covid 19 Gontor memperketat kunjungan dan secara ketat melakukan penguncian pondok sehingga interaksi di dalam pondok normal, karena tidak ada virus masuk pondok. Protokol sehat dan keren sudah dijalankan dengan disiplin, tidak ada kendala dan kesulitan apapun, semua santri happy, meskipun banyak wali santri guncang hatinya sudah tidak bisa mudif/kunjung lagi. Semuanya serba protokal dan ketat, jika terpaksa ingin berkunjung, hanya bisa dada dada dari jauh, tidak berbeda jauh seperti yang kita saksikan di rumah sakit Wuhan, bedanya ini penghuni dan pengunjung sama sama sehat, hanya supaya saling melindungi saja.

Mulai 13 Maret 2020 sejak pemerintah menetapkan Indonesia wilayah pandemi covid 19, para santri sudah memasuki ujian akhir semester. Harap dimaklumi Gontor memang unik, ujian dilaksanakan sampai 45 hari dengan mata pelajaran sampai 40 an dan bermacam macam jenis ujian, waktunya siang dan malam. Waktu ujian adalah masa yang berbahagia sekaligus penuh perjuangan. Berbahagia karena biasanya dimanja dalam hal ketersediaan makanan. Perjuangan karena batas tidur, belajar dan ujian bisa saling tumpang tindih, memerlukan manajemen waktu yang baik dan kesehatan yang prima. Di rentang waktu ujian inilah santri gontor juga mendapat ujian dari luar berwujud covid 19, dan sampai dengan santri pulang sesuai jadwal libur pondok tanggal 23 April 2020, dua puluh ribu santri putra putri dapat diantarkan pulang sampai ke daerah masing masing, tanpa ada satupun yang terinveksi virus.

Mengelola santri melewati wilayah virus sekeluarnya dari Gontor bukan hal yang mudah. Karena para santri berasal dari seluruh kota di tanah air yang bermacam macam zona dan tingkat kesulitan transportasinya di dalam situasi menuju puncak pandemi. Juga harus mengelola perpulangan santri ke Malaysia, Singapura, Brunai dan Thailand yang sistem penanganan pandeminya rumit, njelimet, ketat dan mahal. Itupun bisa dilaksanakan dengan baik tanpa ada insiden. Waktu itu nyaris seluruh pondok sudah memulangkan santri satu bulan sebelumnya. Gontor masih patuh pada jadwalnya dan taat pada protokol yang dibuat pemerintah. Semua proses itu dapat berjalan karena soliditas koordinasi antara manajemen pondok, dewan ustadz, para santri dan IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern Gontor) yang senantiasa menyiapkan dan memperbaiki rencana ‘evakuasi’ mujahid pulang ke keluarga tercinta.

Sesuai dengan tradisi Gontor tidak semua santri pulang. Santri yang naik ke kelas 6 KMI (sama dengan kelas 3 SMA) tetap tinggal di Pondok sampai dengan 1 tahun kedepan. Merekalah yang mengelola dan menggerakkan roda kehidupan pembelajaran para santri satu tahun kedepan, membantu para ustadz dan Kyai menyelenggarakan pembelajaran ta’alim muta’alim yang terlihat rumit dan sulit dijalankan bagi orang luar yang melihatnya. Mereka umumnya terahir bertemu keluarga 6 bulan sebelumnya. Jadi total general sampai dengan yudisium kelulusan, mereka 1,5 tahun tidak bersua keluarga. Setelah lulus dan mengabdi, mereka satu tahun lagi tidak bertemu keluarga. Itulah masa masa penuh gizi perjuangan di usia pancaroba, 17-18 tahun mengambil alih tanggung jawab pondok dan mempraktikkan ilmu yang didapatkan selama 5 tahun sebelumnya.

Setelah 50 hari, diperpanjang menjadi 80 hari pulang ke rumah karena PSBB dan hambatan yang beraneka ragam dari berbagai wilayah, tibalah saatnya para santri harus kembali ke pondok tanggal 23 Juni. Mengevakuasi para santri dari pondok ke rumah masing masing lebih mudah, karena pondok mampu menjaga para santri selama 45 hari bersih virus pada saat pulang dari pondok. Orang tua tidak lebih pintar dari pondok dalam menjaga putra putrinya dari kemungkinan tertular virus. Lingkungan di luar pondok juga lebih keruh virus dibandingkan di dalam Gontor, dari sinilah masalah dan kerumitan bermula.

Maka IKPM menyusun rencana. Konsulat di masing masing daerah, propinsi atau negara menjadi garda terdepan pengelola proses evakuasi dari luar ke dalam pondok, dari wilayah campur aduk ke wilayah steril. Orang tua santri mengantarkan hanya sampai ke titik pemberangkatan. Selanjutnya tanggungjawab diambil alih konsulat dan IKPM masing masing daerah. Santri lama kelas 2 sampai dengan 4, calon santri baru, para ustadz lama, para ustadz baru, diperiksa, diseleksi dan diatur proses evakuasinya. Kelas 5 dan 6 sudah mapan di Gontor, bersama para ustadz dan Kyai mempersiapkan pengaturan di lokasi pondok. Tiga minggu sebelum tanggal keberangkatan semua pendaftaran google form. Peserta evakuasi sudah melakukan karantina mandiri 14 hari, rapid test covid 19 dan surat keterangan sehat dari dokter/rumah sakit, dan surat surat kelengkapan lainnya.

Covid 19 mengharuskan gontor mengubah kebiasaan yang sudah dipertahankan lebih 60 tahun, yaitu mengubah administrasi pembayaran secara manual dan lewat kantor pos menjadi aplikasi ADM Gontor. Kantor administrasi yang legendaris tempat antrian yang panjangnya bisa ratusan meter, mungkin tidak akan dijumpai lagi. Penyelesaian daftar ulang dan pembayaran lainnya sudah diselesaikan di 10 Syawal. Pembayaran selanjutnya sudah bisa lewat aplikasi dan wali santri sudah harus bertabah hati, berjumpa dengan buah hati 6 bulan lagi.

Bagi orang tua yang tertahan di kejauhan, menjadi semacam ujian tambahan dan sekaligus ujian susulan, karena hanya dapat menyaksikan, mengikuti  perkembangan informasi buah hati dari kejauhan. Melihat wajah dan mendengar suara melalui gawai. Sudah 14 bulan tidak bertemu dengan santri pertama dan 8 bulan dengan santri kedua. Masih harus menunggu 6 bulan lagi untuk bertemu, bila kondisi sudah baik, itupun jika santri pertama tidak segera pergi mencari ilmu di tempat yang lain lagi.

Senin, 01 Juni 2020

BURJO FALAJAWA



Syaifuddin
Senin, 1 Juni 2020

Pagi masih sejuk. Jalanan sepanjang taman Falajawa depan masjid Muhajirin Ternate masih lengang. Mentari baru muncul dari sela sela pulau antara pulau Tidore dan sisi barat pulau Halmahera. Kabut tipis masih menyelimuti puncak gunung Tidore, ditimpa sinar mentari, kabut perlahan lahan mulai memudar. Di arah yang sama kesibukan mulai terlihat di pelabuhan Ahmad Yani. Rutinitas yang tidak banyak berubah sejak belanda mengangkut cengkeh dan pala dari pulau pulau di sekitar Ternate mulai abad 15. Falajawa, awalnya memang kampung tempat tinggal orang Jawa yang diundang dan didatangkan Sultan Babullah ke Ternate pada abad 15 para santri Sunan Giri, Gresik Jawa Timur.

Di arah yang berlawanan nampak Gunung Gamalama bertahta agung di puncak pulau. Asap tipis mengepul dari puncak kepundan. Hijauan hutan di lerengnya bagai permadani terhampar. Angin berhembus semilir membawa aroma dedaunan dari puncak gunung. Apakah ini yang dimaksud dengan angin surga?
Asap dari knalpot dan bising deru kendaraan belum keluar, sehingga aroma laut dan gunung menumpuk di Falajawa, menyegarkan paru paru, menenangkan pikiran,  menambah segar suasana. Tak ada bedanya dengan masa sebelum pandemi.

Yasir bersama 5 penjual bubur kacang hijau lainnya sudah siaga setelah turun dari solat subuh. Saat jalanan masih lengang, dia mendorong gerobak dagangan dari rumah petak kos kosan di kelurahan Gamalama ke Taman Falajawa, kurang lebih 2 km. 16 tahun menekuni profesinya secara bertauhid, hanya satu pekerjaan berjualan bubur kacang hijau tidak menyekutukan dengan pekerjaan lain, misal jual batu bacan atau jadi tukang kayu. Tempat jualannya pun tetap selama 16 tahun di Falajwa dan Masjid Al Munawar.

Sejak 2006, Fasad Falajawa dan lingkungan Al Munawar mengalami perubahan lebih baik. Jalan semakin bersih banyak dibangun taman taman hijau yang bersih dan asri. Bangunan bangunan di sepanjang jalan tersebut ditata rapi menghadap ke laut, membuat masyarakat Ternate semakin betah berjemur di pagi hari dan bersantai di sore hari. Tapi Yasir dan gerobaknya tidak pernah berubah penampilannya, mungkin omzetnya yang naik turun menyesuaikan dengan selera pembelinya.

Pendapatan Yasir sebelum pandemi rata rata 700 ribu setiap hari, pada saat harga per mangkok masih 7 ribu. Ia berjualan  pagi 4 jam dan sore 3 jam, 7 hari dalam seminggu, tidak pernah liburan, karena dijalani pekerjaannya dengan santai merdeka. Pandemi mengubah pendapatannya, omzetnya turun menjadi 500 ribu per hari. Tidak ada yang perlu disesali, apalagi ditangisi, malah perlu dinikmati dan disyukuri ditengah lesunya ekonomi dan pengangguran yang meninggi.

Setelah lebaran dia naikkan harga per porsi menjadi 8 ribu, sudah naik 2 kali lipat dibandingkan 10 tahun lalu. Di Ternate inflasi cukup tinggi, harga makanan pun terdampak. Jangan heran kalau setiap habis lebaran beberapa harga makanan melakukan penyesuaian.

Yasir pernah menjadi TKI di Malaysia satu tahun. Sejak dia merantau ke Ternate, keputusan yang tidak pernah disesali, seperti kampung halamannya yang baru, tidak pernah terpikirkan lagi olehnya menjadi buruh migran di luar negeri. 16 tahun di Ternate sudah menghasilkan rumah megah dan tambak di Widang Tuban seberang Pondok Langitan di sepanjang bengawan Solo. Belum terpikirkan untuk mempunyai rumah di Ternate, karena ia berharap di usia 50 tahun ia bisa membuka usaha di kampung halamannya.

Yasir mempunyai 2 anak, perempuan 16 tahun dan laki laki 5 tahun. Setelah hampir dua dekade mendiami Ternate ia mulai berpikir ulang tentang masa depannya. Mengapa tidak menetap dan mengembangkan usaha di Ternate hingga hari tua. Pulau yang ditinggalinya telah memberi kehidupan, masa depan dan kedamaian. Yang mengubah kulitnya lebih legam dibandingkan awal dia datang, juga memberikan masa depan dan kehidupan yang lebih mapan.

Putrinya sekolah di SMAN Babat Lamongan, tinggalnya di Widang Tuban. Beda kabupaten, tapi berbatasan. Perbatasannya adalah jembatan, yang kokoh berdiri di atas bengawan Solo, batas bentang alam. Sependek pengamatan saya, banyak masyarakat pendatang yang mengirimkan anaknya studi di kampung halaman sejak lulus SD. Anak anak ini mempunyai wawasan yang lebih menusantara karena pernah tinggal di berbagai daerah di nusantara. Pengalaman yang menjelma menjadi tindakan, bukan bacaan.

Dengan bekal ilmu ala kadarnya, lulusan SMA di Babat ini membuat rencana strategis pekerjaan sektor informal yang dianggap tidak penting. Tidak perlu angan angan tinggi dan modal besar, yang penting dieksekusi tiap hari, dievaluasi dan diperbaiki sambil jalan. Dia tidak gengsi menerima saran, di masa pandemi ini ternyata dia punya tabungan. Mungkin dia akan segera pastikan membeli rumah di saat harga properti di Ternate akan segera turun, karena pemilik properti sudah mulai kehabisan tabungan, dan rumah di Ternate paling cepat untuk diuangkan.

Krisis membuat pikirannya terbuka, rencana harus segera diubah. Jika ia punya rumah sendiri dia bisa perluas usahanya sekaligus menghilangkan biaya kontrak rumah. Anak terkecilnya akan segera masuk TK, istrinya bisa segera membantunya untuk memperluas usaha. Putrinya juga akan segera kuliah, perlu biaya. Peluang sudah di depan mata, tidak ada salahnya untuk segera berubah. Di usia 40 an tahun pencapaian Yasir jauh lebih baik dibandingkan sanak saudara dan kerabatnya yang menjadi buruh migran di Malaysia. Juga lebih baik dibandingkan teman temannya yang bertani di Widang Tuban, atau teman temannya yang jualan seafood, pecel lele di kota kota besar di Jawa seperti Surabaya, Malang, Semarang, Bandung, Jakarta.

Kewirausahaan baiknya dipraktikkan, tidak sekedar diajarkan, dianalisis, diwacanakan, kemudian berhenti menjadi angan angan. Setiap usaha pasti ada kendalanya, pada saat dijalankan akan ketemu solusinya. Saat di angan angan, masalah dan solusi bisnis tidak nampak. Orang orang seperti Yasir, lebih mengutamakan tindakan daripada berencana. Mulai dari yang kecil, mulai dari yang bisa dilakukan, mulai dari sekarang juga. Masuk ke kamar mandi dulu, keperluan yang belum terpenuhi bisa menyusul. Tidak penting menyiapkan terlebih dahulu sabun, sikat, odol, sampo, handuk, baju, ganti, air panas, air dingin. Kalau nunggu semua siap, kapan mandinya. Demikian juga berbisnis dan berwirausaha.