Jumat, 16 Juli 2021

Kebangkitan Bisnis Syariah

 



Oleh Syaifuddin

 

Pada ulang tahun pertama 4 juli 2021, harian Disway menyelenggarakan beberapat seminar zoom yang sangat menarik. Salah satunya adalah seminar zoom ekonomi syariah. Seminar dengan tema Menanti Kebangkitan Ekonomi Syariah menghadirkan narasumber penting : Wapres KH. Prof. Dr. (HC) Makruf Amin, Prof. Muhammad Nuh, Komisaris BSI Arif Rasyid dan Pemimpin BI Surabaya. Acara dipandu langsung oleh Dahlan Iskan, selaku founder harian Disway.

Sosok Dahlan Iskan terasa penting dalam lingkungan pegiat ekonomi syariah di Indonesia. Rasanya diluar ekspektasi banyak orang. Dahlan adalah Direktur Nusuma, bank yang digagas oleh Gusdur untuk membuat ‘bank syariah’ versi lain. Meskipun eksperimen ini  gagal pada saat krisis ekonomi 1998. Sepertinya Dahlan Iskan diam diam mempunyai ketertarikan dengan perkembangan ekonomi syariah. Kelebihan Dahlan dalam penguasaan dunia media menjadi penting untuk mendukung literasi dan inklusi keuangan syariah.

Melalui seminar ini kita banyak tahu kebangkitan ekonomi syariah pantas untuk dinanti. Harapan itu muncul melalui komite nasional keuangan syariah yang berubah menjadi komite nasional ekonomi dan keuangan syariah (KNEKS) yang dipimpin langsung oleh presiden Joko Widodo.

Konsolidasi kekuatan ekonomi syariah sedang dilakukan. Kebijakan ekonomi nasional sudah didesain dengan mengakomodir aspirasi ekonomi syariah. Gebrakan terbaru KNEKS berhasil memergerkan 3 bank syariah milik pemerintah menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI).

Lima point paling penting yang dapat disarikan dari seminar ini yaitu : masalah utama kebangkitan ekonomi  syariah, prasyarat untuk membangkitkan ekonomi syariah, bentuk kebangkitan ekonomi syariah, capaian ekonomi syariah saat ini, kapan kebangkitan ekonomi syariah di Indonesia.

Menanti bangkitnya ekonomi syariah menyiratkan dua makna. Ekonomi syariah akan bangkit, sekarang belum, sehingga ada harapan menunggu kebangkitannya. Kebangkitan tidak akan datang sendiri, mengalir sampai datang waktunya. Dia harus diperjuangkan, diupayakan.

Kehadiran wakil presiden yang Kyai, akademisi dan pegiat ekonomi syariah memberikan peran penting akselerasi gerakan ekonomi syariah.

Jantung dan nadi Ekonomi syariah adalah keuangan syariah yang memberikan ekosistem yang subur untuk tumbuh kembang bisnis syariah. Berbagai inisiatif sudah dimunculkan, bagian bagian yang menghambat arus perkembangan bisnis syariah sudah diidentifikasi dan diperbaiki. Maka jalan menuju kebangkitan ekonomi syariah sudah terlihat.

 

16 Juli 2021

#156


Jumat, 02 Juli 2021

Corak Ragam Bisnis Syariah di Indonesia

 


 



Oleh Syaifuddin

Perkembangan ekonomi syariah di Indonesia memberikan bukti bahwa penerapan konsep ekonomi syariah dapat berkembang dengan dipraktikkan terlebih dahulu. Kalau mencari jawaban apakah sistem ekonomi Islam itu ada dan dimana ada bukti bisa menyelesaikan persoalan ekonomi di suatu negara, maka tidak akan pernah ditemukan jawabannya. Tapi perkembangan bisnis syariah yang kita saksikan di berbagai negara pada 30 tahun terahir menjawab pertanyaan skeptis tersebut.

Bisnis syariah belum dikenali sebelum ada bank syariah atau bank Islam. Bank syariah menjadi triger munculnya lembaga keuangan syariah lainnya. Asuransi syariah diperlukan kehadirannya karena pembiayaan memerlukan jaminan yang hanya dapat dipenuhi oleh asuransi syariah. Pembiayaan keuangan sektor mikro mendorong kebutuhan layanan jasa keuangan mikro syariah, maka muncullah bank pembiayaan rakyat syariah. Di sektor supra mikro syariah juga mendesak didirikannya koperasi jasa keuangan syari’ah dan lembaga mikro keuangan syariah.

Lembaga lembaga keuangan syariah tersebut memerlukan modal dan keuangan di pasar uang yang sesuai dengan prinsip keuangan syari’ah, maka pasar modal dan pasar uang syari’ah muncul dalam sistem perekonomian Indonesia. Efek atau surat berharga syari’ah yang menjadi komoditas di pasar uang dan pasar modal dibuat karena keperluan ini. Maka muncul produk saham syariah, surat berharga syariah nasional dan obligasi syariah (sukuk).

 

Gadai atau rahn dalam bahasa Arab merupakan praktik keuangan syari’ah yang sudah ada sejak awal Islam, menjadi bersifat konvensional karena adanya unsur ribawi dalam transaksinya. Seiring perkembangan bisnis syariah, pegadaian dikembalikan ke khittahnya dengan menghilangkan unsur pinjaman berbunga dalam sistem gadai sehingga namanya menjadi gadai syariah. Sebagai gantinya digunakan akad sewa (ijarah), titipan  (wadi’ah), jual beli (murabahah), atau kemitraan bagi hasil (mudharabah). Aslinya rahn atau gadai sudah termasuk akad bisnis syariah, dan pegadaian adalah lembaga keuangan syariah.

 

Bank syariah dan bank pembiayaan rakyat syariah adalah lembaga keuangan syariah berbentuk bank. Pegadaian syariah, asuransi syariah, koperasi jasa keuangan syariah, pembiayaan syariah, baytul mal wa tamwil dan modal ventura syariah adalah lembaga keuangan syariah non bank. Saham syariah, sukuk, surat berharga syariah nasional adalah instrument keuangan yang diperdagangkan di pasar modal syariah. Reksadana syariah merupakan lembaga keuangan yang membantu masyarakat berinvestasi di instrumen keuangan dan pasar modal syariah yang pengaturannya dilakukan oleh manajer investasi.

 

Dalam sistem ekonomi syariah terdapat lembaga keuangan syariah yang sangat has dan tidak terdapat dalam sistem keuangan konvensional yaitu badan pengelola zakat infak sedekah dan wakaf. Lembaga amil zakat (LAZ) adalah pengelola zakat infaq dan sedekah yang dikelola oleh lembaga non pemerintah dengan ijin sesuai dengan ketetapan UU Zakat. Pengelola zakat infaq dan sedekah yang dilakukan oleh badan pemerintah disebut sebagai badan amil zakat nasional (BAZNAS). Sedangkan pengelola wakaf adalah badan wakaf yang ketentuannya diatur tersendiri melalui UU wakaf. Tiga bentuk lembaga ini merupakan lembaga keuangan syariah non bank yang ketentuannya diatur dalam undang undang tersendiri dan menjadi ciri unik lembaga ekonomi yang hanya ada di Indonesia dan belum tentu serupa di negara negara Islam lainnya.

 

Tidak hanya di bidang bisnis atau jasa keuangan syariah saja memunculkan bisnis syariah tetapi juga di bidang non keuangan seperti : pasar syariah, hotel syariah, perumahan syariah, pariwisata syariah. Di bidang produk industri halal, lahirlah bisnis restoran dan rumah makan halal, bisnis makanan dan obat obatan halal, kosmetik dan fashion halal.

 

Munculnya bisnis bisnis syariah bak cendawan di musim hujan, sangat menggembirakan dalam perekonomian Indonesia. Namun ada dampak negatif yang timbul, yakni penipuan berkedok bisnis syariah seperti First Travel, 212 Mart, dan Karapoto. Ketiga kasus tersebut menggunakan klaim bisnis syariah, tetapi tidak memenuhi syarat sebagai bisnis syariah. Menyatakan diri sebagai bisnis syariah, tetapi tidak memenuhi persyaratan ijin sesuai dengan peraturan dan perundang undangan yang berlaku di republik ini. Menyatakan diri dengan sistem bagi hasil, tetapi tidak memenuhi syarat dan rukun mudharabah. Memproklamirkan sebagai tolong menolong, tapi tidak memenuhi syarat syirkah ta’awun serta tabarru  dan seterusnya.

 

 

2 Juli 2021

#155

Kamis, 01 Juli 2021

Tren Bisnis Syariah

 


Oleh Syaifuddin

Masjid komunitas muslim Indonesia dan Melayu di Bangkok bernama Masjid Jawa, mempunyai cara unik untuk membiayai operasional masjid. Setahun sekali pada bulan Ramadhan mereka menyelenggarakan bazar dengan keuntungan sampai 5 miliar rupiah. Dana tersebut yang digunakan untuk memakmurkan masjid untuk kegiatan keagamaan, Pendidikan Islam dan pengenalan budaya Indonesia selama satu tahun. Lebih dari lima puluh tahun komunitas muslim di Bangkok, terutama di masjid Jawa membiayai masjid dengan cara ini. Padahal jama’ah masjid tidak sedikit yang berlatar belakang pebisnis. Mengapa tidak menggunakan bisnis syari’ah sebagai alternatif pendanaan masjid ?  

Bisnis Syariah berkesempatan tumbuh dalam satu dasawarsa terahir. Pandemi justru memberikan peluang lebih besar kepada bisnis syariah untuk berkembang pesat. Beberapa hal yang menyebabkan bisnis syariah menjadi tren bisnis sekarang dan masa depan yaitu: adanya kebutuhan bisnis alternatif, kebutuhan akan produk yang sesuai dengan konsumen muslim, kejenuhan konsumen pada bisnis konvensional, pembatasan interaksi akibat covid memerlukan solusi kebutuhan konsumen yang berbeda.

Istilah bisnis syari’ah relatif baru dikenal oleh masyarakat Indonesia, padahal praktik bisnis syari’ah sudah dijalankan sejak awal agama Islam diturunkan. Sejak generasi awal Islam yang telah mempraktikkan perilaku ekonomi umat Islam dan menjadi ciri has generasi Mekah dan Madinah,  yaitu perniagaan syari’ah. Ciri perniagaan Syariah (tijarah) adalah bisnis yang tidak mengandung unsur riba, maysir, gharar dan hal hal  yang dilarang oleh syariat Islam. Usman bin Affan yang pertama kali membebaskan umat Islam Madinah dari praktik monopoli air oleh pebisnis Yahudi, merupakan sedikit contoh pelaksanaan bisnis syariah.

Praktik bisnis Syariah itu terus berlangsung dari generasi ke generasi, antar wilayah bahkan sampai pula ke tanah air Indonesia pada masa pra kemerdekaan. Organisasi massa Nahdhatul Ulama (NU) berusaha menggelorakan bisnis Syariah dengan mengusung Gerakan Nahdhatut Tujar atau kebangkitan para pebisnis. Usaha menjalankan bisnis syari’ah di kalangan muslim terus berlanjut sampai Indonesia merdeka hingga orde baru meskipun belum menggunakan istilah bisnis Syariah. Mulai populernya ekonomi Syariah membuka peluang bisnis Syariah semakin Nampak di permukaan. Dari yang semula hanya bank syari’ah kemudian meluas sampai ke bidang bidang non keuangan dan wilayah ekonomi yang tidak terjangkau oleh bisnis konvensional. Bisnis syari’ah menjadi bisnis alternatif.

Kesadaran konsumen muslim untuk mendapatkan produk barang dan jasa halal semakin lama semakin menguat. Fenomena kesadaran ini tidak hanya ditunjukkan oleh konsumen muslim di Indonesia tetapi menjadi kesadaran muslim global. Keinginan untuk mendapatkan jasa keuangan halal yang bebas riba mendorong berdirinya ribuan bank Islam dan  Lembaga keuangan Syariah lainnya di seluruh dunia. Market share Lembaga keuangan Syariah terus membesar dengan pertumbuhan yang pesat, bahkan di negara negara yang mayoritas penduduknya non muslim.

Paling Mutahir adalah kebutuhan produk halal, makanan, pakaian dan obat obatan menciptakan pasar baru yang bernilai ribuan trilyun. Kebutuhan sertifikasi halal sebagai tuntutan pasar mendorong riset riset, kelembagaan dan dihasilkannya para ahli di bidang produk halal. Darinya muncul bisnis bisnis Syariah di bidang makanan, pakaian, kosmetik halal.

Ribuan tahun bisnis  syariah dan bisnis konvensional dijalankan dengan nama yang sama yaitu bisnis saja. Masyarakat muslim berniaga secara syari’ah, tapi sebagian muslim lainnya tidak bisa membedakan antara yang halal dan yang haram terutama dalam masyarakat yang majemuk. Beruntung masyarakat muslim yang hidup di abad 21 karena masyarakat mendapat pengakuan secara terbuka ciri ciri bisnis syariah dan konvensional. Terlebih masyarakat Indonesia, perundang undangan dan kebijakan negara memberi batasan dan penjelasan yang jelas dan lugas pada eksistensi bisnis syariah.

Ratusan tahun dalam kehidupan bisnis konvensional, masyarakat mencoba berbagai alternatif konsep bisnis yang lebih sesuai dengan ideologi dan kearifan lokal masyarakatnya. Namun diantara sekian banyak alternatif, bisnis syariah ahirnya yang paling menonjol dan menjadi kebutuhan yang sesuai dengan aspirasi lebih dari satu setengah milyar penduduk bumi. Kelebihan paling penting dari praktik bisnis syariah adalah sifat dasarnya yang saling menguntungkan dan tidak eksploitatif. Bisnis syariah didasarkan pada prinsip paling fundamental yaitu keadilan dan kemanusiaan.

Bisnis syariah memberikan banyak alternatif skema bisnis yang sesuai dengan perkembangan masyarakat. Semakin digali, semakin banyak alternatif yang tersedia, seperti tanpa batas. Karena bisnis syariah terbuka peluang inovasi tak terhingga. Semua alternatif bisnis boleh dilakukan asalkan tidak terdapat unsur riba, gharar, maysir dan perniagaan yang diharamkan.

Di masa pandemi makanan halal dan kesehatan menjadi isu penting. Untuk mencegah terinveksi virus covid daya tahan dan imun tubuh manusia harus kuat. Kebutuhan produk halal dan obat obatan yang alami menjadi tak terelakkan. Demand dua produk tersebut meningkat dalam berbagai varian. Maka peluang bisnis syariah terbuka lebar.

Dalam kondisi ekonomi yang tertekan ekspansi kredit menjadi sulit, sebab risiko ekonominya cukup besar. Maka skema bisnis syari’ah yang berdasarkan kemitraan, lost and profit sharing lebih menarik, karena risiko dan keuntungan menjadi tanggungjawab bersama. Keamanan dan kenyamanan skema musyarakah dan mudharabah dalam bisnis syariah di masa pandemi lebih sesuai. Banyak peternakan sapi, kambing, domba di Jawa Tengah yang tetap eksis dan berkembang pada masa krisis kesehatan menunjukkan bahwa bisnis syariah semakin terdepan.

  

1 Juli 2021

#154

Rabu, 30 Juni 2021

Menulis Tidak Ada Matinye

 

Oleh Syaifuddin

 


Di era digital yang sudah berseri seri, sekarang sudah sampai 4.0 (four poin yero), telah memunculkan pesan komunikasi menggunakan multimedia atau berbagai macam media. Yang pokok saja misalnya menggunakan media tulis, suara, vigur dan gambar bergerak. Termutahir bermunculan ragam bentuk komunikasi di media sosial (medsos). Ada facebook, twiter, Instagram, yotube dan lain sebagainya. Semula orang bermedsos sebagai platform hiburan semata dan main main, namun pada ahirnya menjadi platform serius yang menghasilkan pundi pundi uang.

 

Pada mulanya orang bermedsos untuk urusan tidak serius, namun semakin kemari dapat digunakan untuk berbagai kepentingan yang sangat serius. Mantan presiden Amerika, Donald Trump menggunakan twiter untuk kemunikasi politiknya, bahkan perannya menggeser peran juru bicara Gedung Putih. Tweet Elon Musk pemilik CEO Tesla dapat melipatgandakan harga bitcoin ribuan persen dalam sekali tweet, sekaligus dapat meruntuhkannya dalam waktu sekejap.

 

Hiruk pikuk youtube dan keuntungan adsense yang dijanjikannya telah mendorong ribuan bahkan jutaan anak muda menjadi youtuber. Publik tanah air disuguhi karya video yaoutuber tanah air yang berpenghasilan milyaran setiap bulannya. Kita tidak asing lagi dengan Atta Halilintar, Rafi Ahmad, Baim Wong, Ria Ricis dan Dedy Curbusier. Sekarang ini, hampir semua selebritis membekali diri dengan chanel youtube sebagai penghasilan tambahan, terutama pada masa masa pandemic dua tahun belakangan. Subscriber mereka mulai jutaan sampai puluhan juta. Beberapa youtuber menjadi orang kaya baru.

 

Perkembangan bermacam media di era digital, seakan akan meminggirkan media komunikasi yang cukup tua yaitu tulisan. Nyatanya meskipun banyak koran gulung tikar, majalah mati suri, buku bermetamorfosa dalam bentuk pdf dan ebook, tetapi kebutuhan menulis/script dibalik munculnya semua media itu masih terus terjadi.

 

Kitab kitab suci ditulis dari wahyu Tuhan yang disampaikan dalam berbagai medium, pada ahirnya harus diawetkan dalam bentuk symbol tulisan sehingga dapat diwariskan dari waktu ke waktu. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau firman Tuhan diwariskan secara lisan berdasarkan ingatan. Terjadi distorsi besar besaran karena keterbatasan manusia dalam menerima dan mentranfer informasi. Juga sama  kalau pengetahuan hanya diawetkan informasinya melalui media film, pas diperlukan listrik mati atau alat penyimpannya rusak, maka menguaplah pengetahuan itu.

 

Sebagus apapun hasil penelitian yang dipresentasikan dalam bentuk power point, bagan dan gambar yang menarik, pada ahirnya harus ditulis dalam struktur yang baku supaya bisa masuk jurnal bereputasi. Semenarik apapun youtube, menjadi sulit dijadikan referensi dan dikaji ulang sebelum digubah dalam bentuk buku atau tulisan.

 

Sejauh apapun perkembangan teknologi komunikasi, maka kecanggihan menulis dan mengungkapkan gagasan dalam bentuk tulisan selalu diperlukan untuk mendampingi perkembangan media komunikasi. Kitab, koran, majalah, radio, televisi, media sosial, youtube tidak bisa menggantikan atau mematikan keterampilan menulis sebagai Bahasa manusia yang tetap bertahan.

 

Di dunia perguruan tinggi tempat bersemainya pengetahuan dan reproduksi pengetahuan, menulis dan tulisan sebagai medium ilmu pengetahuan tidak akan pernah mati. Mahasiswa boleh presentasi skripsi, tesis dan disertasi dalam bentuk power point, tetapi gagasan runtut tulisannya harus dilaporkan dalam bentuk skripsi tesis dan disertasi. Karya tulis itu tidak bisa digantikan dengan tayangan film dokumenter, atau temuan teknologi baru misalnya.

 

Tulisan dan keterampilan menulis sejatinya tidak pernah mati dan selalu dibutuhkan dari masa ke masa. Dia menjadi tulang punggung dari berkembangnya media komunikasi. Eksistensinya tidak selalu terlihat, tapi akan selalu ada. Menulis tidak ada matinye.

 

30 Juni 2021

#153

 

Jumat, 23 Oktober 2020

Lingkungan Pembentuk Budaya Santri

 

Oleh Syaifuddin




Masih dalam spirit peringatan hari santri. Santri itu profesi seumur hidup. Sejak menjadi santri maka seumur hidup kita adalah santri. Seorang kyai pun adalah santri. Syaikhona Kholil, dari Bangkalan Madura adalah guru dan kyainya Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Suatu ketika Kyai Hasyim sepulang dari Makkah, kyai Kholil segera mendatanginya untuk belajar ilmu ilmu hadith, kyai menjadi santri. Ketika keluar dari Majelis, keduanya berebut menyiapkan alas kaki gurunya, sebagai penghormatan. Sebab kedua Kyai merasa santri dari yang lainnya.

Santri itu menjadi lifestyle, gaya hidup. Clifford Geertz memilah masyarakat jawa dalam tiga kelompok, yaitu : santri, abangan dan priyayi. Santri menjadi subkultur tersendiri dengan pola hidup dan gaya tersendiri. 

Kemajuan zaman tidak melunturkan tradisi santri dan pesantren. Dia senantiasa mengalami evolusi, transformasi dan penyesuaian. Santri yang diidentikan oleh Clifford dengan nada minor,  “kethu miring”, “sarung nglinting” dan “gudiken” tidak lagi dapat kita jumpai sekarang. Harum, bersih, rapi, wangi, higienis menjadi tampilan santri masa kini. Goodlooking, smart, tangkas, santun, tawadhu’ adalah profil santri kekinian. Sesekali berdasi, berjas bersentuhan dengan teknologi informasi di laboratorium seakan menjadi gaya baru santri masa kini.

Santri menjadi kultur, menjadi budaya tidak berdiri sendiri dan tiba tiba saja muncul. Kultur santri memerlukan ekosistem kebudayaan dan tradisi yang berkembang dan menjalar pada masyarakat. Selalu berkembang dan acapkali menyusut dan bermigrasi.

Sepanjang yang saya ingat mulai kakek saya sudah terhubung dengan dunia ponpes. Mbah saya adalah santri. Tidak tahu persisnya di pesantren mana saja, tapi jaringan pertemanannya adalah santri dan ulama’ aswaja. Di masa menjelang revolusi kemerdekaan, para santri tidak hanya mondok di satu tempat. Untuk belajar Fiqh mondok di Lirboyo, belajar tasawuf mondok di Langitan, belajar hadith mondok di Tebuireng dan seterusnya. 

Mertua kakek saya seorang advokat yang tinggal di Surabaya, sehingga kerap berinteraksi  dengan pemerintahan hindia Belanda, dalam penyelesaian persoalan persoalan hukum kaum pribumi. Dalam masa revolusi kemerdekaan di seputar perang 10 Nopember, kakek pernah menjadi kurir Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, untuk berkoordinasi antar para pejuang kemerdekaan. Masa revolusi dan agresi militer Belanda yang membonceng sekutu, memaksa santri turun gelanggang, berada di medan laga. Hidungnya yang mancung dan kulitnya yang putih, dianggap dapat mengkamuflase tentara hindia Belanda, dapat bergerak antar tempat tanpa hawatir dicurigai.

Penyamarannya tidak selalu berhasil, sebagai komandan Hizbullah, kakek yang santri senantiasa diburu Belanda. Rumahnya yang di kampung kauman, 20 km dari kota Gresik, dekat jalan Dendles pesisir utara Jawa, sering disatroni Belanda. Di kakinya masih bersarang peluru oleh oleh santri dalam kontak fisik dengan tentara penjajah. Tembok rumahnya yang gosong karena dibumihanguskan oleh tentara Belanda, masih sempat saya saksikan pada dekade 80 an.

Selepas revolusi kemerdekaan tradisi mengirim putra putri kakek ke ponpes terus berlanjut. Anak pertamanya dikirim ke Liroboyo, Denanyar, Peterongan, berahir di Langitan. Putrinya dikirimkan ke pondok takhfid di Surabaya, kemudian dicarikan jodoh santri hafid dari Pasuruan. Ada yang dikirimkan ke ponpes terdekat atau dicarikan suami Kyai. Keterhubungan dengan dunia ponpes terus dipertahankan.

Jaringan kekerabatan dengan orang orang alim, dengan para santri terus dipertahankan. Biasanya berlanjut dengan jaringan dan silsilah ketarekatan.

Sampai generasi cucunya memondokkan atau mengirim ke ponpes tetap menjadi kebiasaan. Santri dan ponpes menjadi satu satunya jalur memberikan pendidikan terbaik untuk generasi penerus kaum santri, meskipun mengalami sedikit pergeseran dengan bergesernya formalisme pendidikan Islam di ponpes. 

Untuk menjaga keterhubungan jaringan pesantren tidak hanya berlangsung di Indonesia, tetapi diperluas hingga dunia internasional atau antar negara. Anak dan cucu kakek dijejaringkan dengan keulama’an dan dunia pendidikan Islam di beberapa negara (di Mesir, Saudi dan Yaman tidak menggunakan nama ponpes). Beberapa anak cucu kakek pergi nyantri ke al-Azhar di Mesir, ke Sayyid Maliki di Arab Saudi dan Tarim di Yaman

Perluasan pengaruh dan tradisi santri juga berlangsung melalui proses perkawinan. Abah membawa tradisi mengirim ke ponpes pada keluarga istrinya. Beberapa adik ipar diperkenalkan dengan pendidikan Islam dengan mengirimnya mondok di Langitan atau Sungilebak, ke ponpes ponpes yang bisa dijangkau. Untuk memperluas dan menjaga ketersambungan silsilah keilmuan. Selanjutnya akan berpengaruh pada lingkungan baru yang semakin terkoneksi dengan ponpes dan lahirlah santri santri baru.

Para santri ini di masyarakat kemudian menjadi tokoh agama, guru ngaji, mudin, tempat masyarakat memohon bimbingan dalam beragama. Tidak sedikit yang menjadi kyai, baik kyai yang mempunyai pesantren maupun kyai yang mengajar agama dari masjid ke masjid, dari musholah dan langgar. Lulusan ponpes mengajarkan kitab turats/kitab kuning di masyarakat secara langsung, terutama di bulan Ramadhan. 

Kita fatkhul wahab, fatkhul qarib, fatkhul mu’in dan kitab kita fiqh lainnya dibacakan secara tetap sampai tamat pada masjid masjid tertentu selama bulan puasa. Untuk yang ringan ringan aqidatul awam, sulam dan safinatunnajah. Di forum forum yang lebih spesifik diajarkan kita uquduljain. Itulah pekerjaan para santri yang utama selain sampingannya sebagai pebisnis atau pegawai. Atau yang sebaliknya. Tergantung pilihan para santri.

Tatkala pesantren telah mengalami transformasi bantuk dan strategi pengajaran, menyesuaikan tuntutan zaman, para cicit dari kakek saya tetap mempertahankan pilihan sebagai santri untuk mendapatkan pendidikan ilmu dunia dan akhiratnya. Ketika ponpes tidak hanya salaf, bahkan sudah menjadi ponpes kholaf dan ponpes modern tidak menyurutkan minat calon calon santri dari generasi keempat mempertahankan statusnya sebagai santri.

Ponpes dan santri dapat terus lestari dan bahkan berkembang, karena tradisi ini ditopang oleh sebagian besar keluarga dan masyarakat yang menjaga keberlangsungan agama. Ponpes menjadi subkultur yang membuat Islam menjadi praktik dalam kehidupan sehari hari masyarakat muslim nusantara. Ponpeslah yang menjaga tafaquh fiddin. Eksistensi santri dan ponpes adalah eksistensi Islam. Selama masih ada santri syiar dan kemurnian berIslam akan tetap terjaga dan menjadi lifestyle Islam nusantara.


23 Oktober 2020

#152


Kamis, 22 Oktober 2020

NU-Santri di Era New-Santri


 

Oleh Syaifuddin


Pondok pesantren (ponpes) telah hidup ratusan tahun dalam tradisi pendidikan Islam di nusantara. Usia ponpes dengan sendirinya hampir seusia Islam di nusantara ini. Dalam tradisi lisan dan tulis yang sempat kita dapatkan, pada masa Walisongo (Wali Sembilan) ponpes sudah eksis. Raden Ainul Yakin kecil, nama kecil Sunan Giri pernah nyantri di ponpesnya Raden Rahmat atau Sunan Ampel di daerah Ampel Denta, Surabaya. 


Di masa kemudian Sunan Giri bertransformasi dari santri menjadi Kyai yang wali, sehingga diberi gelar Sunan. Ponpes Sunan Giri berada di ketinggian kota Gresik yang disebut sebagai Giri Kedaton. Santrinya berasal dari penjuru nusantara. Sultan Zainal Abidin Syah, raja muslim kedua dari Kesultanan Ternate pernah nyantri di Gresik.


Demikian pula seorang santri aswaja yang bertahan di pesisir Lamongan di daerah Paciran mendirikan ponpes di Sendang Duwur. Kelak di kemudian hari Kyainya bergelar Sunan Drajad, menjaga tradisi pendidikan Islam di pesisir utara pulau Jawa.


Bila penelitian Prof. Ayzumardi Azra berhasil memetakan jaringan ulama’ nusantara, maka sudah menjadi keniscayaan sejarah bahwa sejak masa lampau para ulama’ sudah berjejaring. Kyai Hasyim membuat simpul jaringan ulama’ dalam jam’iyah NU, sesungguhnya melanjutkan tradisi keulamaan yang sudah dikerjakan pada masa masa sebelumnya.


KH. Hasyim Asy’ari mengkonsolidasikan kekuatan jaringan Kyai, ponpes dan santri dalam wadah NU untuk menghadapi tantangan zaman yang berubah. Awalnya adalah Ihtiar mengamankan praktik keagamaan aswaja yang mendapat rintangan pada permulaan abad 20 di wilayah pusat Islam oleh Raja Saud. Komite Hijaz yang ditunjuk untuk menghadap raja Saudi berhasil memperjuangkan aspirasi umat Islam nusantara. 


Tradisi keagamaan yang menjadi amaliyah sebagian besar muslim nusantara, sejak zaman para wali yang mengIslamkan tanah Jawa, terus dipelihara oleh ponpes ponpes di Jawa. Lembaga pendidikan Islam ini menjadi pusat intelektual sekaligus benteng tradisi ahlus sunnah waljama’ah yang disebut sebagai Islam Nusantara oleh Kyai Said. Islam nusantara bukan agama baru atau aliran baru, tetapi Islam yang khas nusantara yang dipraktikkan sejak masa Walisongo.


Islam yang sama dan menjadi praktik beragama yang bertahan hampir 5 abad di nusantara, kemudian oleh Kyai Hasyim Asy’ari diorganisir dalam wadah jam’iyah Nahdhatul Ulama’ (NU). Kyai kyai pengasuh jutaan murid pada ponpes ponpes berpaham ahlu sunnah waljama’ah an nahdhiyah yang melahirkan santri aswaja (NU santri).


Santri NU dari waktu ke waktu berhadapan dengan persoalan kemasyarakatan yang berbeda beda. Santri generasi milenial dan santri generasi Z (Gen-Z) berada pada suasana pendidikan yang berbeda. Dunia pendidikan Islam juga mengalam modernisasi. Fasilitas infrastruktur, kurikulum, manajemen ponpes dan ekosistem pendidikan Islam juga sudah berubah. 


Ponpes yang kholaf dan salaf pada masa menjelang kemerdekaan sudah mengalami transformasi bentuk yang beraneka ragam. Ada tujuh macam lebih bentuk ponpes. Dalam setengah abad terahir ponpes mengalami bentuk dan perubahan sistem dengan pesat. Maka santri tempo dulu berbeda dengan new santri. 


Undang undang nomor 18 tahun 2019 tentang pesantren, memberikan tantangan dan peluang bagi NU santri dan New Santri. Pondok pesantren tidak lagi menginduk pada UU nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan UU nomor 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi.


Dalam beberapa dekade ponpes mengalami tantangan, santrinya tidak dianggap oleh dunia kerja dan lembaga pendidikan formal. Akibatnya ratusan ribu ponpes mendirikan lembaga pendidikan formal di dalam pesantren : SD, SMP, SMA, SMK atau MI, MTs, MA. Supaya para santri dapat berkompetisi di sektor formal. Usaha ponpes memperkuat masa depan santri.


Usaha ponpes mempertahankan melahirkan ulama’, ihtiar ponpes menghasilkan santri yang tafaquh fiddin menghadapi tantangan berat sebelum UU nomor 18 tahun 2019. UU ini menaikkan ponpes mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai lembaga pendidikan formal dan non formal. Inilah peluangnya.


Untuk fungsi sebagai lembaga formal, mulai dasar sampai menengah berbentuk muadalah dan diniyah formal. Untuk pendidikan tinggi berbentuk ma’had aly, berjenjang dari S1, S2 sampai S3. Semua kurikulumnya fokus pada pendalaman agama dan berbasis kitab turats/kitab kuning. Untuk fungsi ponpes sebagai lembaga pendidikan non formal berbentuk pengajian kitab kuning saja.


Tantangan ponpes terletak pada komposisi fungsi ponpes menurut UU tersebut. Fungsi ponpes ada tiga yaitu fungsi pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Dari 55 pasal yang ada, 21 pasal berkaitan dengan fungsi pendidikan, 6 pasal berbicara tentang fungsi dakwah dan 3 pasal tentang pemberdayaan masyarakat.


Tantangan berikutnya bagi NU santri adalah mengembalikan kitab kuning sebagai jati diri ponpes. Sebelum tahun 1980 an muncul istilah yang sangat populer: Pesantren adalah kitab kuning dan kitab kuning adalah pesantren. Tantangan mengembalikan ke jati diri pesantren setelah terbawa arus ke pendidikan formal ala sistem pendidikan nasional.


Santri dan ponpes berada dalam dunia pendidikan Islam yang sangat dinamis, dengan tantangan yang cenderung keras. Momentum hari santri menyuguhkan peluang dan tantangan baru bagi NU Santri di era New Santri.



Ternate

22 Oktober 2020

#151


Selasa, 20 Oktober 2020

Spirit Jihad Dalam Peringatan Hari Santri

 

Oleh Syaifuddin



Hari santri ditetapkan setiap tanggal 22 Oktober sejak 6 tahun lampau. Tanggal tersebut dipilih bersamaa momen dikeluarkannya resolusi jihad oleh hadratus syaih Hasyim Asy’ari, pendiri dan ra’isyul akbar organisasi ummat Nahdhatul Ulama’ (NU). Resolusi yang memberikan pijakan kepada umat Islam terutama para santri,  dengan segenap jiwa raga mempertahankan bumi pertiwi dari agresi penjajah dan negara negara sekutu yang telah memenangkan perang dunia II.


Peristiwa yang memberikan arti pentingnya perjuangan membebaskan negeri dari penjajahan. Melahirkan kepahlawanan ‘arek arek Suroboyo’ dalam peristiwa heroik 10 Nopember 1945. Yang sama pentingnya dengan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, menghalau kekuatan asing, melawan campur tangan kekuatan internasional yang akan mengambil kemerdekaan.


Santri adalah produk pondok pesantren. Santri hasil pendidikan Islam, pola pendidikan yang digali dari makna pembelajaran sepanjang hayat. Pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian material, kemakmuran jasmani, mulia di dunia. Lebih jauh dari itu pendidikan Islam menjangkau pada capaian spiritual, kesejahteraan ruhani, kemuliaan di dunia hingga keselamatan di kehidupan berikutnya yang dipercayai Islam.


Pondok pondok pesantren menjadi tulang punggung yang melahirkan pejuang pejuang kemerdekaan. Santri bukan hanya pelajar seperti yang kita pahami sebagai manusia yang menempuh pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Santri melampau pelajar, karena dia belajar dari sejak dalam buaian sampai ke liang lahat, seperti yang diajarkan oleh Islam.


Pondok pondok pesantren adalah basis perjuangan dan perlawanan terhadap pemerintah penjajah di tanah air. Melalui pendidikan di pesantren, kesejahteraan dan keberadaban masyarakat di negeri terjajah dapat terus diupayakan. Para santri dan tentu saja para Kyai dan civitas pondok pesantrenlah  yang menggelorakan perjuangan membebaskan negara, kemerdekaan dan kebebasan menjalankan agama.


Santri adalah jaringan terpelajar yang bekerjasama antar pondok pesantren dan para alumninya di masyarakat, menjadi bantalan sosial yang membangun dan mengembangkan kesadaran keIslaman dan keIndonesiaan. Santri ini mayoritas muslim tradisional yang berada di depan pada saat bangsa memanggil, tetapi surut ke belakang pada masa tertib sipil. Pembawa praktik nilai nilai Islam, berjuang, berkorban. Memberikan manfaat kepada manusia lainnya sebagai tujuan.


Jaringan santri dan pondok pesantren ini paling giat berorganisasi untuk menyelesaikan persoalan masyarakatnya melalui tiga gerakan : gerakan kebangsaan (hizbul wathan), gerakan ekonomi (nahdhatut tujar) dan gerakan pemikiran (tazwirul afkar). Tiga gerakan yang dianggap penting untuk mengangkat harkat dan martabat kaum muslimin melalui gerakan politik, ekonomi dan pendidikan.


Maka peristiwa 22 Oktober, dikeluarkannya resolusi jihad, merupakan salah satu bagian titik penting dari perspektif gerakan kebangsaan yang dilakukan oleh kaum santri di tanah air. 


Bila ditarik ke belakang, santri dengan salah satu organisasinya NU, juga menjadi aktor dan jaringan yang penting dalam memelihara bangsa dari pengaruh ideologi yang tidak sesuai dengan jati diri masyarakat Islam nusantara. Sebutlah bagaimana pertentangan NU dengan ideologi komunis pada masa sebelum Indonesia merdeka. 


Dalam transisi revolusi kemerdekaan, yang menjadi korban pembantai PKI dalam pemberontakan Madiun adalah para Kyai dan santri di pondok pondok pesantren. Karena santri dan pesantren adalah penghalang utama ideologi PKI. Demikian pula dalam menangkis infiltrasi ideologi lain yang tidak sejalan dengan jati diri masyarakat Indonesia, santri dan pesantren menjadi benteng pertahanan masyarakat.


Santri adalah pelaku di dunia pendidikan, “pelajar muslim”, penuntut ilmu. Santri adalah abdi ilmu pengetahuan keagamaan Islam. Ilmu keagamaan Islam menjadi jati diri santri untuk mencapai tujuan dunia dan akhiratnya. Di dalam Islam ilmu pengetahuan tidak dipisah pisahkan, sejauh bertujuan untuk mewujudkan perannya sebagai “khalifatun fil ardh” dan ibadah, maka sah sebagai ilmu pengetahuan Islam.


Santri tidak hanya terpelajar di masjid dan lembaga keagamaan lainnya. Karena santri juga berperan nyata dalam berbagai bidang untuk kemaslahatan umat manusia. Karenanya pemilihan 22 Oktober sebagai hari santri, menegaskan kembali peran santri di berbagai bidang. Semangat jihad dalam hari santri, selalu mengingatkan bahwa pengorbanan dalam menciptakan kemaslahatan umat dilakukan dengan kesungguhan dan kerelaan mewakafkan jiwa dan raga.


21 Oktober 2020

#150


Nahdhiyin Perkotaan

 Oleh Syaifuddin





Ada gejala perilaku ekonomi Islam warga Nahdhatul Ulama’ (NU) atau yang familiar dengan sebutan warga nahdhiyin. Njelimet sekali mungkin istilah yang saya gunakan, ada perilaku ekonomi ada perilaku ekonomi Islam. Untuk menyederhanakan pembahasan, yang saya maksudkan dengan perilaku ekonomi Islam adalah bagaimana warga nahdhiyin berhubungan dengan istilah istilah dan praktik ekonomi syari’ah, perbankan syari’ah, pasar modal syari’ah, bisnis syari’ah, mudharabah, musyarakah, bay’ almurabahah dan seterusnya.


Semula saya menangkap di permukaan, ada yang berbeda antara cara nahdhiyin di Ternate dan tempat lain, terutama di kota kota besar Jawa dalam mempraktikan ekonomi syariah. Setidaknya di kalangan menengah ke atas yang sangat dekat dengan terma, istilah dan praktik ekonomi syari’ah, seperti perbankan syari’ah, baytul mal wa tamwil. Sementara saya menyebutnya dengan perilaku ekonomi nahdhiyin perkotaan.


Islam berkemajuan masyarakatnya dulu disebut dengan masyarakat Islam perkotaan, sementara muslim tradisional dewasa ini mengidentifikasi sebagai Islam nusantara. Sejak kemunculannya di tahun 1990 an yang gegap gempita, berakrab ria dengan ekonomi syari’ah adalah muslim perkotaan. Muslim tradisional masih menjaga jarak, sembari mencari format respon yang paling tepat terhadap fenomena ini. Sementara nahdhiyin Ternate sudah familiar dengan ekonomi syari’ah sejajar dengan muslim perkotaan.


Dalam praktiknya, muslim perkotaan dengan nahdhiyin perkotaan amaliah beragamanya nyaris serupa. Tidak ada perbedaan yang fundmental. Cukup lama saya kesulitan membuat kesimpulan terhadap fenomena ini. Setelah munculnya fenomena Ustadz Abdus Shomad dan pergerakan FPI dari waktu ke waktu, saya mulai bisa membuat benang merah. Semakin jelas dengan teori amaliah, fikrah dan harokah untuk melihat perilaku nahdhiyin.


Waktu meneliti tentang perilaku konsumen nahdhiyin di perbankan syari’ah, saya kesulitan untuk mengidentifikasi responden dari segi amaliahnya. Semuanya mengamalkan sholawat, tahlil, manakib dan ziarah kubur. Sebagai pembeda supaya jelas responden saya, maka pengurus organisasi di lingkungan NU sebagai indikator lainnya.


Dan itu cukup efektif menjelaskan apa ciri uniknya perilaku konsumen nahdhiyin pada bank syari’ah di Ternate. Memberikan landasan argumen yang kuat, mengoreksi kesalahan saya menempatkan pengurus MUI sebagai responden, meskipun yang bersangkutan juga pengurus wilayah NU. Unsur nahdhiyinnya yang didahulukan, keulamaannya di MUI sebagai pendukung. 


Gejala perilaku ekonomi Islam nahdhiyin perkotaan di Ternate tidak terlalu terlihat di masyarakat kota di Jawa. Sebenarnya berkembang, tetapi dalam kantong kantong yang terbatas. Program studi ekonomi syari’ah, di berbagai perguruan tinggi Islam yang memberikan andil berkembangnya praktik ekonomi syari’ah, yang terbatas itu misalnya dengan keberadaan BMT di Pondok Sidogiri dan BPRS di Salafiyah Syafi’iyah. Namun, secara umum konsumen atau nasabahnya masih masyarakat muslim perkotaan yang berkemajuan. 


Mulai terlihat ada pergeseran gejala.

Dua rois syuriah NU KH. Sahal Mahfudh dan KH. Ma’ruf Amin adalah kontributor utama lahirnya fatwa fatwa keuangan syari’ah sebagai pedoman lembaga lembaga ekonomi syari’ah dapat tumbuh dan berkembang pesat seperti saat ini.  Kedua tokoh ini memberikan pijakan “Islamic Yuris” yang kokoh dan bahkan tidak dimiliki oleh negara negara lain. Fatwa keuangan syari’ah nampaknya sederhana, tapi sesungguhnya itu yang paling utama dibutuhkan industri keuangan syari’ah dan ekonomi syari’ah.


Nah, jika di level tinggi tokoh tokoh NU berperan penting dalam membangun struktur ekonomi dan industri keuangan syari’ah, mengapa di level menengah sampai bawah terjadi anomali? Gejala nahdhiyin perkotaan dan teori amaliah, fikrah dan harakah bisa memberikan penjelasan, sekaligus seperangkat solusi untuk memperbaiki keadaan. 


20 Oktober 2020

#149


Senin, 05 Oktober 2020

Belajar Dari Nilai Filosofis Pondok Pesantren

 

Oleh Syaifuddin



Pondok pesantren menjadi inspirasi lahirnya madrasah, berdirinya pondok pesantren lain  atau munculnya universitas Islam sesuatu yang lumrah. Tapi menjadi inspirasi lahirnya padepokan seni, yang didirikan oleh pak Bagong seniman keraton Jogjakarta, baru tidak biasa.


Tanpa modal harta yang memadahi, tidak dibekali ilmu pedagogi pak Bagong Kussudardja mendirikan Padepokan Seni Bagong Kussudardja (PSBK) gara gara kesengsem dan kesetrum kehidupan pesantren. Pak Bagong yang kristen sebelumnya ikut shooting film Al Kautsar, salah satu lokasinya di pesantren Pabelan, Mungkid, Magelang.


Pak Bagong kepincut kehidupan komunal dan sistem pendidikan pesantren. Takjub dengan ketekunan santri, hangatnya relasi ustadz dan santri, tentu juga kyai dan kehidupan pondok pesantren. Akrab, guyub, penuh kesantunan dan kesahajaan. Terpesona denga pemandangan yang elok dan langka, pak Bagong mbatin, pingin membuat “pesantren” seni, 70 persen praktik, 30 persen teori. Dan padepokan pesantren seninya Kiai Bagong melestarikan dan melahirkan seniman seniman handal sudah 42 tahun, diantaranya almarhum seniman Djaduk dan pak Butet Kertaredjasa.


Pondok pesantren punya ragam bentuk sistem yang sangat banyak, mungkin bisa ratusan model. Dari puluhan ribu pondok pesantren di Indonesia masing masing mempunyai strategi dan sistem yang berbeda beda.  Dari sekian banyak perbedaan pondok pesantren mempunyai satu persamaan yaitu dicirikan dengan adanya empat unsur Kyai, Santri, Masjid dan Asrama, kecuali pesantren online.


Para peneliti tentang pondok pesantren mengkalisifikasikan pondok pesantren berdasarkan model pendidikan kedalam 7 kategori : pesantren salaf klasik tradisional, pesantren modern, salafiyah modern, pesantren campuran (Mondok dan Kalong), pesantren takhassus, pesantren salafi, dan Boarding School bermodel pesantren.


Tradisi pendidikan Islam dalam bentuk pondok pesantren di Indonesia berumur 500 tahun lebih. Banyak pondok pesantren yang berusia diatas seratus tahun dan masih tetap bertahan. Pondok Modern tertua yang pernah ada diantaranya Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, Jawa Timur. Pondok pesantren awal yang dikenal dalam sejarah diantaranya yang dikenal sebagai Langgar Bubrah di Jawa Tengah, Pondok Sunan Ampel di Surabaya yang sekarang bertransformasi menjadi pesantren di kawasan nDersemo, dan Pesantren Sunan Giri di Perbukitan Giri Kedaton Gresik yang menginspirasi lahirnya sistem pendidikan Islam Pangaji di wilayah Maluku  Kieraha (Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, sebagian Sulawesi dan sebagian Pilipina).


Apa yang mengilhami pendirian Padepokan Seni Bagong Kussudardja karena pesantren mempunyai tradisi pendidikan yang sangat kuat. Pendidikan yang dijalankan dengan kesungguhan, keikhlasan, tanggungjawab dan terlembagakan budaya pendidikan dengan nilai, mileu bersumber dari ajaran Islam. Pak Bagong hanya mengambil satu nilai dari sekian banyak nilai yang dipelihara di pondok pesantren. Kalau di pondok pesantren dari subuh sampai malam orang belajar agama, di padepokan dari subuh sampai malam : latihan seni, berpikir seni, mengolah dan berkarya seni.


Di Pondok Gontor misalnya mempunyai sistem pendidikan yang disebut sebagai Kulliyyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI). Pendidikan setingkat SMP dan SMA yang dipersiapkan menjadi guru umat, pendidik bangsa. Sistem ini sudah diterapkan lebih dari 60 tahun, nyaris tanpa perubahan. Uniknya meskipun sudah tua kurikulumnya tetapi lulusannya tidak pernah ketinggalan zaman. 


Bukan berarti pondok tidak mengadopsi perubahan. Setiap kali perubahan kurikulum pendidikan setingkat SMP dan SMA yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia akan diadopsi, ternyata hasil kajian menunjukkan kurikulum dan buku daras KMI lebih relevan menjawab tantangan zaman. Misalnya dalam pelajaran bahasa Inggris, pernah ditawarkan buku ajar terbitan dalam negeri untuk menggantikan buku ajar terbitan oxford yang berusia lebih dari seabad, ternyata buku penggantinya tidak lebih baik. Kurikulum memang punya peran penting, namun yang lebih penting lagi sistem pendidikan yang dijalankan secara konsisten oleh para pendidiknya dengan budaya dan nilai pondok yang dipegang dengan kuat.


Di satu pondok Gontor saja, terdapat 450 guru yang mengajar 30 mata pelajaran, 100 kelas dan 4000 santri, yang harus dikelola dan dijadwalkan dengan rapi oleh Direktur KMI. Dua puluh orang staf KMI pada pagi buta, sebelum para santri mengganti sarung dengan celana panjang dan kemeja mereka sudah harus mengecek absensi, memeriksa kelas, menyediakan kelengkapan kelengkapan lain yang diperlukan Direktur. 


Kala mentari terbit, para guru telah berdasi rapi menyerbu dapur sebelum masuk ke kelas para staf KMI giliran melakukan tabkir, berdiri di sudut sudut pondok mengawasi santri yang menyemut berduyun duyun menuju kelas. Jam 7 tepat aktifitas pengajaran di kelas sudah dimulai tapi mereka terus bekerja: masuk kelas, menyiapkan rapat rapat, supervisi pelajaran kelas, mengkoordinasikan guru yunior, menyiapkan map map guru senior, memeriksa kelas, asrama rayon dan seterusnya.


Para staf KMI ini sibuk sepanjang waktu. Pada masa ujian pertengahan tahun atau akhir tahun bila di lembaga lain, pekerjaan lebih sedikit tapi bagi mereka itu waktu puncak kesibukan. Meskipun ada panitia ujian yang langsung disupervisi oleh Kyai dan Direktur KMI kesibukan mereka tetap tinggi. Mendamping para guru, menyelesaikan tugas tugas administratif berikutnya, mempersiapkan data prestasi santri untuk pengambilan kebijakan Direktur KMI, untuk penempatan santri di kampus kampus cabang, setelah kenaikan kelas ataukah di pertengahan tahun itu.


Ustadz Nasrullah Zarkasyi Allahu yarham menyebut mereka ini (staf KMI)  the real principal. Orang orang mengetahui dan sangat hapal dengan rinci tugas rutinnya, bekerja tanpa komando, dengan kesadaran dan keikhlasan tinggi. Ya betul. Mereka bekerja tanpa dibayar. Mereka lah nyawa KMI. Mereka bekerja tanpa imbalan jasa, tanpa gaji, tanpa fasilitas. Santri Gontor berhutang terima kasih kepada mereka. Sistem seperti ini tidak bisa berjalan baik hampir seratus tahun jika tidak dibangun berdasarkan nilai yang mendarah daging.


Pondok Gontor meletakkan keikhlasan sebagai nyawa penggerak inisiatif dan aktifitas pondok secara keseluruhan. Keberkahan itu timbul karena sistem dibangun dalam kerangka ibadah. Pengabdian dan kesungguhan memberikan pelayanan terbaik tidak berdasarkan materi yang diterima. Para staf yang bekerja fulltime, sepanjang waktu sepanjang tahun, bisa dikata sama sekali tidak digaji. Keikhlasan yang tinggi menimbulkan kecintaan pada tugas.


Dalam benak mereka suara lonceng pondok, lalu lalang para santri, gemuruh suara anak anak dari kelas yang mengulang pelajaran, waktu istirahat, atau berduyun duyun keluar dari kelas menuju berbagai rayon asrama santri, pemandangan yang melahirkan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri. Di usia muda, 20-25 tahun mereka sudah merasakan cinta dan kebahagiaan seorang guru. Guru yang berdedikasi pada santri dan menikmati pekerjaannya. Guru yang tidak pernah bosan melihat santri. Gaji menjadi tidak berarti, mengalahkan anugerah nikmat memberi. Mereka mendapat pelajaran hidup yang paling berharga dengan menjadi bagian dari penerapan nilai nilai pondok.


Itulah millieu pondok Gontor yang dijaga bertahun tahun dan menjadi etos, budaya kerja sejak pondok didirikan. Orang orang terlibat menjadi dinamis, aktif, penuh inisiatif dan bertanggungjawab, menjadi satu kesatuan sistem yang bergerak terus sepanjang waktu. Muncul kesadaran tinggi, tanggung jawab mengemban amanah masing masing dengan pengabdian total. 


Keunggulan seperti ini berbeda beda antar satu pondok dengan pondok lainnya. Setiap pondok mengembangkan nilai yang paling sesuai dengan tujuan pondok didirikan. Kekayaan khazanah yang membuat pendidikan Islam terus berjalan, agama terus terpeliharan. Pondok pesantren tidak akan pernah mati dan bahkan terus berkembang sebagai tulang punggung agama. Pondok pesantren menjadi benteng tanggu peradaban Islam dan kokohnya Republik Indonesia.


6 Oktober 2020

#148


Minggu, 04 Oktober 2020

Berkah Musibah : Menulis



Oleh Syaifuddin


Bunga tumbuh pada saat dahan kurus dan daun berguguran. Panas membuat bunga bougenvil menampilkan bunganya. Tanaman mampu mempersembahkan keindahan karena derita dan nestapa yang menimpanya. 


Mangga yang manis berbunga pada saat panas menyengat, buahnya segar karena kurang air. Sinar mentari yang terik diubahnya menjadi daya kehidupan, menghijaukan daun menebalkan dahan, menghasilkan buah yang banyak. Tetumbuhan mampu menyerap carbon dan polusi di udara, mengubahnya menjadi oksigen yang dihirup mahluk hidup lainnya.


Tanaman merica berbuah lebat pada saat panas mentari dan melemah pada saat udara teduh dan berlimpah hujan. Maka ketika panas sedang tinggi tingginya diberikan pupuk, sehingga semakin panas dan menyuburkan buahnya.


Alam memberi kita pelajaran kepada manusia. Sebuah kemampuan mengubah apa yang buruk buat manusia, adalah media untuk produktif. Tempaan adalah stimulus untuk menghasilkan. Ujian adalah cara menaikkan level. Kemudahan lahir dari kesulitan.


Pandemi yang hadir dalam tujuh bulan terakhir, terlepas dari apa penyebabnya, menjadi ujian bersama. Semua terpengaruh. Sudah ratusan ribu korban meninggal, jutaan menusia terinfeksi. Pendidikan terganggu. Sekolah sekolah tutup, universitas sunyi. Kantor kantor dan pabrik beroperasi sebagian. Ekonomi terpengaruh. Resesi mulai menyapa negara negara, satu demi satu. Depresi ekonomi sudah di depan mata. Resesi itu bila tetanggamu kehilangan pekerjaan, depresi itu jika kamu juga mulai kehilangan pekerjaan.


Dampak negatif pandemi semakin banyak bila kita kupas. Tapi tidak akan mengubah apapun. Seperti tumbuhan yang merespon dengan tepat kondisi alam yang menimpanya. Kering kerontang dan sengatan panas matahari tidak membuatnya mati, tapi melahirkan kreasi. Ujian menjadikan manusia berubah lebih baik.


Banyak produktifitas menulis lahir di masa pandemi ini. Tidak sedikit Covid-19 melahirkan banyak artikel ilmiah. Ada ratusan artikel scopus bertema pandemi. Tidak saja dari bidang kesehatan tapi multidisiplin. Banyak buku berterbitan, edisi cetak maupun digital. Jutaan orang tergerak untuk menulis. Pandemi memberikan iklim yang kondusif bagi manusia untuk menulis. Manusia hidup dalam ancaman hawatir dan takut, tapi kemajuan teknologi yang diperoleh manusia masih memungkinkan untuk menulis. Dalam 75 tahun terahir kita tidak bertemu dengan perang dunia, pandemi ini dampaknya lebih dirasakan daripada perang dunia.


Guru guru menulis tergerak untuk membuka kursus kursus menulis. Ada yang berbayar mahal, karena membidik sasaran penulis dengan tingkat kemampuan tinggi. Ada yang berbayar sedang, karena bertujuan menggerakkan sebanyak mungkin penulis. Berbayar dengan tujuan supaya serius mengikuti ste demi step kepenulisan. Dan tidak sedikit guru guru yang membimbing dan mendampingi proses menulis secara gratisan. Semuanya bertujuan menggerakkan kemampuan menulis masyarakat. Sebab menulis mempunyai multi manfaat, keterampilan menulis berguna dalam semua bidang kehidupan.


Semua orang dapat menulis, tergantung kemauan. Setiap orang dapat menulis setiap hari, asal konsisten dan mampu menjaga minat atau spirit. Supaya semangat menulis selalu terjaga, diperlukan kelompok yang bisa saling menolong. Mengingatkan, mengoreksi dan menjaga supaya gelora menulis tetap terpelihara. Sepertinya sederhana, kelompok penting untuk menjaga minat dan tujuan menulis dapat tercapai. 


Menulis itu pertarungan dalam diri sendiri, mengorganisirnya untuk dituangkan dalam bahasa simbol yang mudah dipahami oleh orang lain. Tulisan yang baik dan diproduksi secara terus menerus memerlukan energi besar. Dengan berkelompok energi itu dapat terus dipelihara. Grup penulis membuat optimal menggali potensi menulis, sebab jalan sendiri terlalu sepi, kecuali bagi yang sudah terlatih.


Kebanggan tersendiri dan menjadi kebahagiaan, bila tulisan menggerakkan meskipun hanya satu orang. Seorang pembaca yang puluhan tahun tidak pernah menulis buku, ahirnya menerbitkan buku, karena selalu membaca tulisan di blog dan melihat buku yang saya terbitkan. Dampak positifnya terus mempengaruhi, sehingga dia terus menulis lagi dan merencanakan menerbitkan satu buku berikutnya dalam waktu dekat. Menurutnya menerbitkan karya buku mempunyai kenikmatan dan menaikkan kepercayaan diri. 


Sama seperti yang kita alami. Tergerak menulis karena terpengaruh oleh orang lain. Untuk terus menjaga spirit dan konsistensi menulis diperlukan kesungguhan. Kesungguhan hanya bisa ditumbuhkan dan dijaga dalam diri masing masing. Keteguhan itu lahir dari kesiapan meminggirkan hambatan dan rintangan. Pada awalnya menulis itu tidak punya konsekuensi apapun. Menulis tidak mendapat ganjaran, berhenti menulis tidak ada sangsi. 


Seperti apa yang sudah dilakukan oleh tetumbuhan dalam merespon panas dan polusi dan hal hal negatif yang hadir, manusia juga harus lebih positif dalam menghadapi pandemi. Dengan akal dan budi yang dianugerahkan kepada manusia beriman, seyogyanya pandemi menghasilkan buah terbaik yang dapat kita hasilkan.


4 Oktober 2020

#147


Kamis, 01 Oktober 2020

Riset Terbaru Bank Syari’ah

 

Oleh Syaifuddin



Meskipun pertumbuhan bank syari’ah di Indonesia cukup pesat dan mengalahkan pertumbuhan bank konvensional , dalam hal jumlah asset dan nasabah bank syari’ah masih kalah dengan bank konvensional. Lima persen bank syari’ah sembilan puluh lima persen konvensional, perbandingannya 1:19. Tak heran jika ke mana mana lebih mudah ketemu bank yang tanpa syari’ah. Lebih mudah ketemu masjid daripada bank syari’ah. Fasilitas ibadah sangat mudah ditemui, fasilitas muamalah kurang. Dapat juga ditarik pada konklusi, potret keberagamaan masyarakat kita, kuat di ibadah individual, tapi lemah di ibadah sosial.


Secara internasional, belum ada data yang cuku valid perbandingan bank Islam dengan bank konvensional. Secara global bank syari’ah punya banyak keunggulan dibandingkan bank konvensional. Keunggulan yang dimiliki tidak hanya di negara yang mayoritas muslim saja, tetapi juga di negara yang minoritas muslim, misalnya Amerika, Inggris, Singapura, India dan Australia.


Keunggulan bank syari’ah dalam riset riset kekinian antara lain :


KEUNGGULAN EFISIENSI. Dalam hal efisiensi bersih bank syari’ah lebih baik dibandingkan dengan bank konvensional. Efisiensi bersih artinya kemampuan bank syari’ah menghemat pengeluaran bersih. Pengeluaran bersih adalah pengeluaran setelah dipotong oleh biaya operasional, pajak, zakat dan seterusnya. Bank syari’ah lebih unggul diaspek afisiensi bersih karena kapabilitas manajer bank bank syari’ah sangat bagus.


Dalam hal efisiensi jenis bank syari’ah lebih rendah dibandingkan bank konvensional. Ketiadaan standar baku dan banyaknya produk keuangan yang dibuat oleh bank syari’ah membuatnya tidak efisien. Di bank konvensional untuk semua jenis produk keuangan bank akadnya kredit/pinjam, yang membedakan tingkat bunga antar produk, tergantung jangka waktu dan risiko. Untuk perumahan, pendidikan, kesehatan, pertanian, perdagangan, konsumtif, maritim, kelautan, usaha kecil, pertambangan dan ratusan produk keuangan perbankan konvensional semuanya pakai satu akad, kredit. (Jill Johnes : 2014)


Di Bank syari’ah untuk kredit perumahan misalnya bisa menggunakan akad bay’ al-murabahah, dapat juga menggunakan bay’ al-istishna’, bisa pulamenggunakan multi jasa. Satu jenis pembiayaan di beberapa bank bisa menggunakan bermacam akad. Belum lagi antar negara yang berbeda mazhab fiqhnya. Mazhab fiqh syi’i dengan sunni ragam mazhabnya juga beda lagi. Maka bila terjadi transaksi antar bank Islam antar negara dengan akad produk yang berbeda, akan terjadi kesulitan. Maka pada aspek ini bank syari’ah tidak efisien. Tetapi di aspek kemudahan, saling menguntungkan dan seterusnya di aspek akad lebih menarik minat bank syari’ah dibandingkan bank konvensional.


Pada efisiensi bruto, bank syari’ah dengan bank konvensional, posisinya imbang. Sama efisiennya atau sama sama kurang efisiennya tergantung pada regulasi setiap negara. Kesimpulan hasil riset yang bersifat general dan di puluhan negara, harus dilihat lagi dalam aspek mikro bank, sehingga bank syari’ah mempunyai keunggulan dan terus mempertahankan keunggulan, untuk menarik minat konsumen.


KEUNGGULAN RASIO KEUANGAN. Pada periode yang agak panjang pernak dilakukan penelitian pada ratusan laporan keuangan bank syari’ah dan konvensional secara proporsional di berbagai negara. Bank syari’ah unggul semua di profitabilitas, likuiditas dan tingkat keuntungan investasi.


Profitabilitas adalah kemampuan bank memperoleh keuntungan. Usaha bank syari’ah secara umum di negara manapun, pada periode pengamatan rata rata lebih untung bisnisnya dibandingkan bank konvensional.


Likuiditas adalah rasio keuangan bank yang menunjukkan kecukupan uang tunai. Pada masa masa tertentu penarikan uang di bank tinggi, misalnya pada saat hari raya keagamaan, tahun ajaran baru dan even even lainnya. Pada saat normal bank punya kecukupan dana rata rata yang siap ditarik atau dipindahbukukan ke bank lain, dihitung berdasarkan pengalaman pengalaman sebelumnya. Dalam hal ketersediaan dana ini bank syari’ah lebih unggul dibandingkan bank konvensional. (Asma Salman:2018)


Return of investment adalah kemampuan bank untuk memberikan keuntungan kepada para investor. Sebagai contoh, regulasi perbankan di Indonesia, jumlah modal bank rata rata di bawah 15% seluruh dana yang dikelola. Lebih banyak dana pihak lain daripada dana bank sendiri. Salah satu penyumbangnya adalah investor. Investor lebih nyaman berinvestasi di bank syari’ah, karena tingkat pengembaliannya lebih menguntungkan. 


KEUNGGULAN DALAM MEMPENGARUHI. Di negara yang menggunakan perbankan dengan dua sistem, yaitu regulasi bank syari’ah dan regulasi bank konvensional diatur berbeda, maka bank syari’ah yang mempengaruhi tingkat penetapan bunga yang berlaku di bank konvensional. Negara yang menggunakan dual sistem banking ini misalnya Indonesia, Malaysia, Kerajaan Saudi Arabia, Republik Iran dan beberapa negara yang berpenduduk mayoritas muslim lainnya.


Uniknya tingkat suku bunga yang digunakan oleh bank konvensional tidak berpengaruh terhadap penetapan bagi hasil yang digunakan oleh bank bank syari’ah yang ada di negara negara tersebut.

Nisabah bagi hasil sebuah bank syari’ah dipengaruhi oleh bank syari’ah lainnya.


Bila bank konvensional pemimpin pasar mempunyai asset yang besar dan memberikan kredit dalam jumlah besar kepada nasabah yang banyak, maka dia yang akan mengendalikan bunga pasar, meskipun bank sentral sudah menetapkan tingkat suku bunga. (Celline Meslier : 2017)


Karena inilah usulan menteri BUMN untuk menyatukan beberapa bank syari’ah milik pemerintah, dengan cara merger. Bank syari’ah yang besar dan kuat dengan asset besar dan nasabah banyak tidak mudah didikte oleh bank konvensional. Dengan kekuatan bank syari’ah mekanisme pasar dan pergerakan ekonomi ditentukan oleh ekonomi sektor riel. Tapi kalau bank konvensional pengendali tingkat suku bunga pasar, maka ekonomi gelembung yang terjadi di masyarakat, yang sangat rentan dengan krisis moneter dan krisis ekonomi.


Referensi :

1. Jill Johnes, Marwan Izzeldin, Vasileios Pappas, A Comparison of Performance of Islamic and Conventional Banks 2004–2009, Journal of Economic Behavior & Organization Volume 103, Supplement, July 2014, Pages S93-S107

2. Asma Salman, , Huma Nawaz, Islamic Financial System and Conventional Banking: A Comparison, Arab Economic and Businnes Journal Volume 13, Issue 2 December 2018, Pages 155-167

3. Celine Meslier, Tastafiyan Risfandy, Amine Tarazi, Dual Market Competition and Deposit Rate Setting in Islamic and Conventional Banks, Economic Modelling, Volume 63, Juni 2017, 318-333

1 Oktober 2020

#146


Rabu, 30 September 2020

Nandur Ngunduh| Tlaten Panen


oleh Syaifuddin



Muhammad Ridwan telah 23 tahun bersama Baytul Mal wa Tamwil (BMT) Bina Ihsanul Fikri (BIF) Yogyakarta. Lembaga Keuangan Syari’ah (LKS) yang didirikan pada tahun 1997, sejak dia masih mahasiswa sampai menjadi doktor. Keteguhan dan keyakinan pada prinsip, energi yang tidak akan pernah padam.


BMT, lembaga yang dianggitnya dianggap tidak jelas, tidak punya prospek, seperti main main bagi masyarakat Gedong Kuning, satu blok sebelah timur kebun binatang Gembira Loka. Bank Mu’amalat LKS yang lebih besar dan menasional baru umur lima tahun, tidak dikenal, asing dan semacam utopia, apalagi lembaga ini yang bagaikan setitik noktah dalam selembar koran.


Waktu Mas Ridwan ngantor di BMT nya, sambil sesekali distribusi sembako, kerap dipandang sebelah mata oleh kawan kawan mahasiswa yang kampusnya waktu itu di Muja Muju, samping kebun binatang Gembira Loka. Mahasiswa yang banyak belajar ekonomi syari’ah, perbankan keuangan syariah dan LKS saja menganggap aneh, apalagi masyarakat awam.


Tahun 90 an adalah masa tersulit bagi ekonomi syari’ah mendapatkan pengakuan masyarakat dan dunia akademik. Tiga kota saja yang punya studi perbankan syari’ah, Yogyakarta, Surabaya dan Semarang itupun kampus swasta. Kampus keagamaan Islam negeri (UIN, IAIN dan STAIN) belum bisa menerima kehadiran ekonomi syari’ah dalam rumpun ilmu syari’ah. Perguruan tinggi negeri umum, seperti Universitas Airlangga di Surabaya yang justru lebih awal bisa menerima kehadiran program studi rumpun ekonomi syari’ah, baru disusul kampus Islam pada tahun 2009 an.


Setelah menyelesaikan kuliahnya dan menyandang gelar sarjana ekonomi, mas Ridwan menetap di Yogyakarta, hijrah dari kampung halamannya di Jawa Timur. Dia sudah terlanjur jatuh cinta dengan Jogja dan BMT. Dengan bekal keilmuannya, manajemen konsentrasi manajemen bank syari’ah mas Ridwan tekun membina ekonomi umat berdasarkan prinsip prinsip syari’ah. Mas Ridwan sudah teken kontrak mewakafkan hidupnya untuk membumikan ekonomi syari’ah melalui BMT BIF.


Pengalaman mahasiswa zaman kami dulu, apalagi yang mengambil studi ekonomi, lazimnya sambil kerja, berwirausaha atau kegiatan ekonomi apapun. Mempraktikkan ilmu sekaligus mulai membangun kemandirian. Tidak sedikit yang menikah lebih awal sebelum wisuda, karena secara ekonomi sudah yakin bisa menghidupi rumah tangga. Mahasiswa yang menunggu kiriman orang tua, kesannya tidak keren.


BMT BIF terus berproses berkhidmat untuk umat, dengan sabar dan telaten mas Ridwan terus mentransformasikan lembaga ini. Semula kontrak tempat disebelah pasar, tahun 2010 an sudah mempunyai gedung sendiri. Dari nasabah anggota yang berjumlah puluhan, sekarang menjadi lebih dari 50.000 nasabah. Dari modal kurang 20 juta menjadi puluhan milliar. Dari tabungan anggota yang berkisar puluhan juta saja menjadi puluhan milliar. Dari pembiayaan kepada nasabah 15 juta, di tahun lalu sudah memberikan pembiayaan hampir 100 milliar.


BMT pada awalnya berbadan hukum BMT, lembaga keuangan non formal, didata di pusat inkubasi usaha kecil (PINBUK) yang diinisiasi oleh Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Kebetulan menteri koperasi dan UKM nya zaman presiden Habibi adalah pak Adi Sasono, yang juga pengurus ICMI. Setelah tahun 2010 an koperasi syari’ah yang melakukan usaha simpan pinjam bisa menggunakan nama Koperasi Jasa Keuangan Syari’ah (KJKS), maka BMT BIF mendaftarkan sebagai KJKS.


Dengan asset milliaran sangat mudah bagi BMT BIF bertransformasi menjadi bank pembiayaan rakyat syari’ah (BPRS) tapi tidak dilakukan. Keuangan sektor mikro yang menjadi sasaran pemberdayaan koperasi syari’ah justru lebih membutuhkan kehadiran LKS mikro dibandingkan sektor ekonomi yang diatasnya. Sama seperti yang dilakukan oleh BMT Sidogiri, salah satu BMT terbesar di tanah air yang lahir dan berkembang dari pondok pesantren dan kultur pedesaan di Pasuruan Jawa Timur, tetap konsisten di jalurnya walaupun assetnya sudah sekitar 1,5 trilliun. Manajernya saja bergaji di atas 30 juta, meskipun karyawan dan pengelola bank bersarung berpeci ala santri.


KJKS BMT BIF sekarang sudah mempunyai 11 cabang yang beroperasi di wilayah kota Yogyakarta dan sekitarnya. 


Pegiat ekonomi syari’ah dan para pelajar yang menekuni rumpun keilmuan ekonomi bisnis Islam seharusnya punya etos seperti mas Ridwan. Yakin menjalani karena mempunyai visi pengembangan ekonomi syari’ah. Mengimani ketentuan Allah dan mewujudkan keyakinan itu dalam kerja yang terstruktur, terencana dan inovatif. 


Ekonomi dan bisnis Islam pada masyarakat muslim adalah kebutuhan yang harus diupayakan bersama. Sebagai wujud kepatuhan secara menyeluruh terhadap Islam tidak hanya diwujudkan dalam aspek ibadah (relasi hamba dengan Tuhan), wajib pula diwujudkan dalam ranah mu’amalah iqtishadi (hubungan manusia dengan sesama dalam bidang ekonomi). Mas Ridwan yakin dengan itu, dan menjalankan ijtihad para ahlinya, dengan penuh kesungguhan mewujudkannya, dengan penuh kreatifitas mencari peluang peluang pengembangan.


Dia tidak takut menjadi miskin karena memperkaya umat, buktinya ekonomi rumah tangganya makin mapan. Antiknya, mas Ridwan berlomba lomba mendahului adzan subuh di masjid, lomba banyak-banyakan memelihara anak yatim, dan lomba menghafal al-Qur’an di usia 40 an. Dia tidak takut bodoh dan ketinggalan ilmu, karena setiap waktu dia mencerdaskan umat. Pendidikannya pun membaik terus, setelah sarjana masih berlanjut ke megister dan ke doktor. Ada berkah dari aktifitasnya sebagai khadimul umat.


Ada  pelajaran paling penting dari apa yang dikerjakan oleh teman kuliah saya ini. Pertama, keyakinan harus diperjuangkan, tidak peduli betapa beratnya. Kalau tangan kanan tak tahan, pindahkan ke tangan kiri. Tangan kiri lelah pindahkan ke tangan lainnya, terus pegang erat, jangan diletakkan, apalagi ditinggalkan. Kedua,  keyakinan yang benar terus dijajakan, dipasarkan, ditawarkan dengan cara cara kreatif. Inovasi tidak boleh berhenti. Dalam aspek apapun, kelembagaan harus terus bergerak mengikuti laju perkembangan zaman. Karena perilaku ekonomi masyarakat juga dinamis. Ketiga, kalau kita menyelesaikan masalah perekonomian umat, Tuhan akan mengurus ekonomi dan kemakmuran kita. Keempat, Ilmu akan terus berkembang bila diamalkan, ekonomi syari’ah akan terus berkembang bila dipraktikkan.



26 September 2020

#145


Selasa, 29 September 2020

Menulis Dari Kursi Roda

 

Oleh Syaifuddin



Menulis adalah cara bersukur terbaik. Tanpa sedikitpun kekurangan dan keterbatasan, mengapa kita terhalang untuk menulis. Meskipun hanya 300 kata perhari. Di mana sulitnya? Perlu waktu paling lama 30 menit untuk menulis, kalaupun tidak ada ide, tidak ada bahan untuk tulis, hanya perlu waktu kurang dari 30 menit tambahan untuk membaca.


Bandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Wesley Wee, pengidap cerebral palsy, 38 tahun. Penyakit yang membuat aktifitasnya sangat terbatas. Hidupnya tergolek di kursi roda, untuk makan dan ganti pakaian musti mendapat pertolongan. Untuk menulis ia hanya bisa menggunakan satu ibu jari kaki. Hanya satu jempol, dan itupun jempol kaki.


Untuk menulis 300 kata, mungkin ia perlu satu hari, bandingkan dengan apa yang dapat kita bisa perbuat dalam menulis. Perlu tekad, dan mental kuat untuk menyelesaikan sebuah buku. Wesley punya tekat bagus dan tau caranya bersyukur. Waktu lima tahun diperlukan untuk menuntaskan buku “Finding Hapinnes Against the Odd”, dipintal hari demi hari, disusun dengan tekun dengan ketukan jempol kaki.


Dengan keterbatasan Wesley mau berbagi. Melalui buku ia berbagi pengalaman, berbagi spirit. Tidak ada yang mustahil, jika bersungguh sungguh mengusahakan. Man jadda wa jada, bunyi makhfudhat anak anak pesantren, siapa yang bersungguh sungguh akan berhasil. Wesley memberi insipirasi kepada halayak, jangan menyerah dengan keterbatasan, apalagi hanya dengan rasa malas atau rasa enggan. “Jangan menyerah, sebab kalau cepat menyerah maka semuanya selesai”, katanya.


Memikirkannnya saja tidak mudah, apalagi menjalankannya. Maka kita yang diberi kelebihan fisik yang tidak bermasalah, kesempatan yang selalu ada, fasilitas yang tersedia, tetapi tidak bisa berkarya lebih baik dari Wesley. Kesempatan dan peluang paling berharga dalam hidup kita telah terbuang percuma. Menulis sebagai ungkapan syukur, sebagai tanda terima kasih, berbahagia dan mau berbagi karena Dia telah memberi semua yang tidak kita minta. Jika kita bersyukur, Tuhan tambahkan anugerah.


Wesley dengan satu jempol kaki bisa menulis setiap hari, kita yang punya sepuluh jari tangan ditambah 2 jempol kaki yang masih lengkap, apakah masih ada alasan lain untuk tidak menulis.


Mari kita bangun kesadaran diri untuk menulis, sebagai ihtiar belajar sepanjang hayat. Dengan menulis, berarti kita terus belajar. Dengan selalu menulis setiap hari kita terus membaca, baik bacaan yang tersurat maupun yang tersirat. Dengan terus menulis pikiran kita selalu hidup, memori otak kita berkembang. Dengan terus menulis pengetahuan kita semakin bertambah, logika kita semakin bagus. 


Kita perlu belajar juga dari anak muda yang luar biasa, Habibie Afsyah. Dari kursi roda Habibie terus berkarya. Baca apa yang ditulis “Bagi orang lain adalah kursi roda biasa. Tapi tidak, bagiku ini adalah panggung. Panggung yang Allah sediakan untuk hidupku. Di atas panggung inilah pula aku bekerja, berkarya dan berbagi manfaat untuk sesama. 



Habibie dilahirkan dengan keterbatasan, pada usia empat tahun dia baru menyadari tidak akan bisa berjalan selamanya. Mamanya yang memompakan semangat, menyediakan kakinya untuk Habibie kecil.


Habibie sadar betul dengan keterbatasan, karenanya tantangang untuk memberikan yang terbaik, menjadi etos. Ia produktif dalam menulis. Beberapa karya buku telah dilahirkannya. Ia juga dikenal hebat dalam marketing online. “Tanpa karya mungkin saya hanya dikenal sebagai Habibie Afsyah yang lumpuh dan sebagainya. Ia menyalurkan bakat menulisnya dalam dunia internet marketing. Pengalamannya yang panjang dalam internet marketing, mengantarkan pada profesinya sekarang sebagai web concultant.


Habibie penyandang difabel. Kaki lumpuh, tangan kiri tidak berfungsi juga tangan kanan yang nyaris tidak berfungsi, kecuali dua jarinya saja yaitu jempol dan ibu jari. Dengan dua jarinya inilah ia menulis dan menghasilkan banyak karya. Diantaranya  menjual dengan website, menjual dengan marketplace, menjual dengan media sosial dan lainnya.


Dua jari, dengan telunjuk dan jempolnya, Habibie tidak berputus asa. Dia mengasah terus kemampuan menulis. Dia berpikir positif, memberikan sumbangsih bagi kehidupan. Melalui tulisan dia melayani apa yang diperlukan oleh konsumen. Dia menggali keterampilan marketing. Atas dedikasi dan ketekunannya, dia mendapatkan penghargaan nasional Best of The Best Wirausaha dan penghargaan Danamon Awards.


Habibie yang kini berusia 32 tahun terlahir sempurna. Sebuah penyakit bawaan menggerogoti fungsi motorik, sehingga di usia 4 tahun, sudah harus tergolek di kursi roda. Mamanya Hj. Endang yang menjadi kakinya, di atas kursi roda Habibie berkarya dan menciptakan panggungnya.


Dengan menulis daya nalar, daya kritis akan terus berkembang. Dengan terus menulis, kita memberi inspirasi, memberi manfaat, memberi pengetahuan, menyalakan suluh, menerangi. Dengan menulis kesehatan kita terjaga, pikiran lebih sehat, obat anti pikun. Dengan selalu menulis kita senantiasa mendatangkan kebahagiaan dan optimisme, serta membagikan kebahgiaan dan optimisme bagi orang lain.


Banyak orang yang dilahirkan dengan keterbatasan seperti Wesley dan Habibie, tapi bersedia berbagi tanpa batas. Shane Burcaw, seorang blogger asal Amerika. Ia menderita spinal muscular athropy, gangguan genetik yang membuat ototnya tidak berkembang. Hidupnya dihabiskan di atas kursi roda. Meskipun geraknya terbatas, Shane produktif berkarya. Melalui blog ia berbagi tulisan. Ia memandang hidupnya dengan positif. 


Ia bagi sikap hidupnya dalam karya tulis. Ada tiga buku yang dihasilkan oleh Shane. Laughing at Nightmare (2014), Not So Different : What You Want to Ask About Having a Disability (2017) dan Strangers Assume My Girlfriend is My Nurse (2019). Ayo kita bandingkan dengan apa yang sudah kita hasilkan dalam hidup ini. Berapa buku yang kita terbitkan, berapa lembar halaman tulisan yang sudah kita hasilkan? Pemikiran dan pengalaman yang berguna bagi orang lain.


Bila mereka bisa menginspirasi di tengah kesulitan. Apa yang sudah kita berikan sebagai rasa syukur atas kesempurnaan yang Tuhan anugerahkan. Kita jadikan cermin, menjadi pelajaran, menjadi daya dorong untuk bisa berbuat lebih. Menulis menjadi manivestasi berterimakasih, bentuk refleksi aktualisasi diri.



26 September 2020

#144