Rabu, 23 September 2020

Produktifitas Aset Wakaf

 

Oleh Syaifuddin



Beruntunglah kaum muslimin Aceh mempunyai wakaf di tanah suci Makkah. Baitul Asyi atau Rumah Aceh merupakan wakaf yang disumbangkan Habib Abdurrahman bin Alwi yang lebih dikenal dengan Habib Bugak Asyi. Cerita bermula dari inisiatif Habib Bugak Asyi bersama beberapa saudagar dari Aceh pada tahun 1809 membeli sebidang tanah. Aset itu diniatkan sebagai tanah wakaf untuk jamaah haji asal Aceh. Waktu itu belum ada Republik Indonesia, maka seterusnya, wakaf itu berlaku menjadi hak jamaah haji asal Aceh.


Tanah wakaf itu berada di antara bukit Marwa dan Masjidil Haram. Tatkala dilakukan perluasan masjidil haram, tanah tersebut masuk wilayah terdampak. Tanah tersebut dibeli dan sebagai gantinya mendapat sebidang tanah pada area lain dekat masjidil haram.


Pada tanah wakaf tersebut dibangun sebuah hotel dikelola oleh badan wakaf secara profesional, sehingga mendapatkan keuntungan yang besar. Karena tanah wakaf tersebut dari awal ditujukan untuk kemaslahatan jamaah haji asal Aceh 210 tahun kemudian manfaatnya masih dapat dirasakan. Tahun 2019 dibagikan 23 milyar kepada 4.688 jamaah asal Aceh sehingga sangat membantu meringankan pelaksanaan haji para jama’ah dari Aceh.


Selain manfaat yang dibagi secara rutin kepada jama’ah haji asal Aceh. Badan pengelola wakaf juga mampu mengembangkan, sehingga aset awal telah meningkat pesat. Wakaf baitul Asyi telah memiliki banyak asset diantaranya : Hotel Elaf Masyair (hotel bintang 5 dengan 650 kamar), Hotel Ramada (hotel bintang 5 dengan 1.800 kamar), Hotel Wakaf Habib Bugak Asyi (bisa menampung 750 jama’ah), tanah dan bangunan seluas 900 meter persegi di Aziziah (kantor Wakah Habib Bugak Asyi di Makkah), Gedung di kawasan Syaikiyah (dibeli dengan harga 6 juta real, dijadikan tempat hunian warga Arab Saudi keturunan Aceh, serta para mukimin Aceh)


Tanah wakaf atau aset produktif yang berasal dari dana wakaf dapat dikelola secara lestari, dan manfaatnya dapat dirasakan ‘selamanya’. Aset wakaf yang dikelola secara profesional kemanfaatannya semakin berkembang. Sebidang tanah yang dibeli pada tahun 1809, ditangan Nadhir yang profesional dan menguasai bisnis yang tepat, asetnya naik berkali lipat. Manfaatnya terus dapat dirasakan dari generasi ke generasi.


Wakaf tunai yang diwujudkan dalam bentuk aset produktif berupa bank syari’ah, akan dapat menghasilkan manfaat yang berkelanjutan. Asset akan berkembang produktif melebih jenis aset lainnya, selain tentu saja manfaat ekonomi langsung sebagai lembaga intermediary dan akselerator perekonomian suatu daerah.


Produktifitas bank syariah yang dikelola dengan profesional dapat berkembang asetnya dari 2 milyar menjadi 20 milyar dalam waktu enam tahun, dan mampu menghimpun dana pihak ketiga sampai dengan 100 milyar. Kemampuan para pengelola bank syariahnya yang akan mempercepat akselerasi produktifitas bank syariah. Kinerja bank syariah bisa lebih cepat dari itu, bergantung pada pemilihan lokasi bisnis, strategi bisnis dan kompetensi manajemen bank syari’ah


Wakaf tunai yang dikonversi menjadi lembaga keuangan syari’ah, atau aset wakaf yang berbentuk lembaga keuangan syari’ah mempunyai fungsi ganda. Selain meningkatkan secara produktif aset juga menggerakkan perekonomian dan bisnis syari’ah. 


Profit yang dihasilkan oleh wakaf dengan aset berbentuk Bank Syari’ah lebih cepat menghasilkan aset produktif lainnya. Manfaat langsung dari keuntungan bank syari’ah juga dapat diintensifkan untuk layanan pendidikan Islam, pengembangan kegiatan keagamaan, pemberdayaan para mustahik, pengembangan sosial ekonomi, pelaksanaan dakwah dan penyiaran Islam.


24 September 2020

#135


Wakaf Untuk Pendirian Bank Syari’ah

 

Oleh Syaifuddin



Tahun 2017 pernah digulirkan oleh presiden Republik Indonesia, Joko Widodo wacana bank wakaf. Meskipun namanya bank, tetapi sejatinya yang dimaksudkan bukan bank sebagai lembaga keuangan khusus, tetapi lebih pada menghimpun dana wakaf oleh lembaga perbankan syari’ah.


Tujuan dari gagasan ini adalah memberdayakan ekonomi umat, menggerakkan ekonomi sosial. Target spesifik dari gerakan ini adalah ekonomi sektor mikro, kecil dan menengah. 


Potensi wakaf tunai ini sangat besar. Ilustrasinya bila 50 juta muslim dengan penghasilan di atas upah minimum regional mewakafkan 100 ribu setiap bulan maka dapat dihimpun wakaf sebesar 5 triliun per bulan, atau 60 triliun setahun.


Bank wakaf ini dapat dilaksanakan dengan menganalogikan (qiyas) pada wakaf dalam bentuk uang (cash waqf). Hukum waqf dalam sebagian besar dalam ranah ijtihadi. Bank wakaf dapat didirikan sejauh mana harta itu mempunyai manfaat untuk kepentingan umum.


Aset umat dalam bentuk wakaf terbukti banyak memberikan dampak lestarinya pendidikan dan layanan keagamaan seperti Universitas al-Azhar dan Pondok Modern Gontor. Sebagian besar aset wakaf di Mesir dan Palestina berusia ribuan tahun dan tetap memberikan manfaat bagi layanan umat.


Masjid, madrasah, perguruan tinggi, hotel, perkebunan dan lembaga bisnis lainnya adalah beberapa contoh pelestarian wakaf beserta manfaatnya untuk umat Islam. Menghimpun dana umat dalam bentuk aset produktif adalah kebutuhan yang sangat penting dalam mengembangkan perekonomian masyarakat modern.


Maka membentuk lembaga keuangan syari’ah berbentuk bank akan dapat membentuk aset yang sangat produktif. Bank syari’ah yang didirikan berdasarkan modal yang dihimpun dari wakaf tunai jauh lebih produktif dibandingkan dengan aset lainnya, karena produktifitas bank dapat lebih besar 6-8 kali lipat dibandingkan asset awalnya. Kelebihan regulasi perbankan yang dapat meningkatkan fungsi ekonominya.


Sebagai gambaran, Tim pengelola wakaf menginisiasi pembentukan Manajemen Nadhir dalam pengelolaan wakaf tunai untuk pembentukan asset bank syari’ah. Diperlukan 6.250 muwakif. Setiap muwakif membayar wakaf tunai Rp. 1,2 juta atau membayar Rp. 50.000 setiap bulan. Paling lambat 2 tahun akan terkumpul aset sebesar Rp. 7,5 milliar yang akan digunakan untuk pendirian bank syari’ah dan pembentukan asset produktif dalam bentuk lembaga keuangan syari’ah Bank.


Bank syari’ah milik umat ini akan mempunyai kesempatan penghimpunan dana sampai dengan Rp. 56 milliar, sehingga dana pemberdayaan ekonomi bisa dikembangkan lebih optimal. Karena modal yang dibentuk adalah dana wakaf tunai kontribusi seluruh umat Islam, maka kepemilikan bank ini selamanya menjadi milik umat yang akan dipertanggungjawabkan oleh badan pengelola wakaf (nadhir).


Modal yang dibentuk oleh badan wakaf akan dialokasikan pembiayaan ekonomi berbasis pinjaman kebajikan (qardh al hasan) untuk pembiayaan usaha mikro dan ultra mikro. Tujuannya mengembangkan kewirausahaan UKM, sehingga tidak berorientasi profit, tapi pada pengembangan ekonomi mikro. Untuk keuntungan bisnis dan biaya operasional bank syariah akan melakukan optimalisasi dari pembiayaan dana pihak ketiga. 


Bank Syari’ah melalui skema wakaf tunai  ini diharapkan mampu melahirkan produk keuangan syariah dengan akad yang lebih distingtif dibandingkan bank konvensional. Bank syari’ah membuat praktik praktik keuangan baru yang lebih menekankan akad keuangan syari’ah bagi hasil, musyarakah dan Qardh al Hasan. Harapannya bank mempraktikkan transaksi keuangan syari’ah yang lebih selektif dan sesuai dengan aspirasi masyarakat ekonomi syari’ah.


Selama menunggu 2 tahun terkumpulnya semua modal pembentukan aset Bank Syari’ah, dana yang terkumpul akan didayagunakan untuk pembiayaan qard al hasan bekerjasama dengan BMT yang didirikan oleh mahasiswa, dengan mekanisme pengamanan jaminan surat berharga dan jaminan tanggung renteng. Pembiayaan dengan plafon 500 ribu -1 juta pedagang pasar, sambil mempromosikan skema pembiayaan tanpa margin atau bagi hasil.


23 September 2020

#134


Minggu, 20 September 2020

Kesamaan Al Azhar dan Gontor

 

Oleh Syaifuddin


Al-Azhar dengan usianya yang ribuan tahun tetap konsisten berkontribusi mencetak ulama’ dan cendikiawan bagi dunia Islam. Perguruan tinggi Islm tertua yang didirikan Dinasti Fatimiyah pada tahun 953 berlokasi di Kairo, Mesir. 

Cikal bakal perguruan tinggi ini dari sebuah masjid raya al-Azhar yang dibangun atas perintah Khalifah al-Mu’izz Lidinillah. Universitas al-Azhar semakin masyhur setelah melalui berbagai dinasti diantaranya Fatimiyah, Ayyubiyah, Mamluk, Turki Utsmani, sampai Mesir modern. Tak terhitung penguasa yang menjadi pelindung bagi perkembangan ilmu pengetahuan di universitas ini. Ditopang perpustakaan dengan koleksi 7.700 buku yang berdiri sejak 1872 mendukung sistem lingkar studi (halaqah), diskusi (niqasy) dan dialog (hiwar).

Universitas al-Azhar mempunyai rektor/syekh untuk pertama kalinya pada tahun 1517, saat jawa masih diIslamkan oleh walisanga, Majapahit menjelang kejatuhannya untuk digantikan oleh penguasa penguasa muslim diantaranya Demak. Di wilayah Nusantara lainnya, armada dagang dari Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris mulai menjelajah mencari penopang modal ideologi kapitalismenya.

Satu milenium kemudian, setelah berdirinya Universitas al-Azhar, di wilayah pinggiran dunia Islam, Nusantara,  di wilayah Jawa Timur, tepatnya desa Gontor, kecamatan Mlarak, kabupaten Ponorogo, pada tanggal 19 September 1926 berdirilah Pondok Gontor.

Pesantren ini sebagaimana umumnya lembaga pendidikan Islam di Nusantara yang bermula dari masjid, Kyai, Santri, asrama dan pengajaran kitab klasik, tetapi sejak awal sudah menggunakan pendekatan yang modern. Meskipun telah melampaui tiga zaman, yaitu zaman penjajahan Belanda, zaman pendudukan Jepang dan zaman Indonesia merdeka Pondok Gontor sudah menerapkan manajemen dan pendekatan orientasi modern sejak awal. Dalam hal manajemen pondok pesantren, tradisi pengajaran, cara berpakaian, sistem asrama, penggunaan dua bahasa (Arab dan Inggris) Pondok Gontor berbeda dengan umumnya pondok pesantren di Indonesia.

Yang membuat dua lembaga pendidikan ini produktif menghasilkan ulama’ dan cendikiawan selain faktor atmosfir pengajaran atau situasi pendidikan juga ditentukan oleh kurikulumnya.

KEDUA : KURIKULUM

Kurikulum al-Azhar sangat memadahi. Menurut para pelajar, kurikulum disusun dan didesain secara berurutan atau tadarruj. Tertib ini penting untuk memudahkan para pelajar mencerna secara optimal suatu disiplin ilmu. Misalnya dalam bidang teologi, di sekolah tingkat menengah diajarkan al-Kharidah, di masa kuliah dilanjutkan dengan Jauharah al-Tauhid, dijenjang lanjut atau spesialis diajarkan al-Mawaqif. Metode ini sudah diterapkan puluhan tahun, sehingga pembelajaran suatu disiplin ilmu dapat berlangsung maksimal, tidak maju mundur dan membingungkan.

Kitab kitab yang diajarkan juga dipilih secara cermat, diseleksi secara ketat. Ratusan tahun proses seleksi kitab. Dibahas dan didiskusikan dalam berbagai majelis dan tingkat sehingga layak untuk diajarkan. Kitab kitab yang pada ahirnya menjadi kajian utama tidak tiba-tiba masuk secara sembarangan. Semua aspek dipertimbangkan, karena al-Azhar menjadi kiblat akademik dunia Islam yang bertahan ratusan hingga ribuan tahun.

Konsistensi penerapan kurikulum menjadi poin penting keunggulan al-Azhar. Kurikulum yang diajarkan, diktat perkuliahan dipilih melalui seleksi tim ahli. Dalam rentang puluhan tahun kurikulum dan diktat tidak mengalami perubahan, kecuali sedikit sekali penyesuaian penyesuaian yang diperlukan. 

Meski seleksi kitab rujukan dan diktat yang diatur sedemikian ketat, tetapi kebebasan berfikir tetap diutamakan. Dalam diktat kuliah selalu dimasukkan keragaman pendapat, perbandingan mazhab. Dalam bidang fiqh, mahasiswa biasa mendiskusikan empat mazhab Maliki, Khanafi, Syafi’i dan Hambali dengan sesekali menyinggung mazhab Syi’ah atau Zhahiri.

Dalam bidang kalam, mahasiswa dibiasakan mendiskusikan pendapat Mu’tazilah, Orientalis bahkan atheis. Bukan hanya mengetahui soal perbedaan pendapat dan memahami pemikiran mazhab, mahasiswa juga diajarkan cara bersikap terhadap perbedaan itu. Yang secara ilmiah benar diterima, bila salah akan ditunjukkan letak kesalahannya. 

Boleh berfikir bebas, tetapi tidak boleh berpikir bablas. Boleh berpikir bebas tetapi tidak berpikir ngawur. Kebebasan bertujuan untuk mencari kebenaran, obyektifitas dan keilmiahan menjadi pegangan. Sedang berpikir bablas mencari cari dalih supaya benar, bukan mencari kebenaran.

Kurikulum Pondok Gontor selama puluhan tahun tidak pernah berubah, terutama pada pelajaran pelajaran yang prinsip. Materinya mengalami penyesuaian dan pengayaan sebagaimana perubahan zaman. Konsistensi dan kekokohan kurikulum yang diajarkan membuat keluaran yang dicapai dalam proses pendidikan juga optimal. 

Kurikulum bahasa Arab, bahasa Inggris, dan ilmu ilmu keagamaan nyaris tidak pernah berubah selama puluhan tahun. Pondok Gontor menerapkan prinsip 100% pendidikan agama dan 100% pendidikan umum. Terdapat 36-45 mata pelajaran yang diajarkan mulai kelas 1 sampai dengan kelas 6. Yang diajarkan di Pondok Gontor beberapa kali lipat dibandingkan dengan lembaga pendidikan setara di luar pondok. Karena itu perubahan kurikulum yang terjadi di Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama sudah diterapkan terlebih dahulu di Pondok Gontor.

Pondok dalam menerapkan kurikulum yang unggul juga didukung oleh sistem pengajaran yang efektif, karena dignity, daya juang, kesungguhan para Ustadz. Sistem pengasuhan, pengajaran dan pendidikan yang didukung oleh manajemen Kyai sebagai pengasuh, Ustadz sebagai pengajar, didukung oleh Ustadz muda dan mudhabir membuat sistem pendidikan di Pondok Gontor berjalan dinamis.

Seorang Kyai Pondok Gontor mengilustrasikan hubungan kurikulum dan pengajar seperti orang yang memotong kayu kering dengan golok yang tajam. Perlu waktu yang lama untuk membuat kayu terpotong bila yang digunakan untuk memukul punggung golok, atau dilakukan dengan tidak serius, mungkin malah tidak pernah terpotong kayu tersebut kalau golok itu hanya dibuat main main. Tetapi di tangan pemotong kayu yang terampil, dengan kesungguhan tenaga dan golok yang tajam, sekali tebas kayu akan terpotong dengan sempurna.

Itulah gambaran penerapan kurikulum di Pondok Gontor. Kurikulum yang baik dilaksanakan oleh tenaga pendidik yang alim dan dilakukan dengan kesungguhan hati, diikuti oleh santri yang bersungguh sungguh menuntut ilmu maka hasilnya akan optimal.

Kurikulum yang kuat dan dirancang dengan serius menjadikan Universitas al-Azhar dan Pondok Gontor berhasil melahirkan cendikiawan, ulama’ dan para ahli agama.

20 September 2020

#133


Sabtu, 19 September 2020

Kekuatan Tradisi Pendidikan

Oleh Syaifuddin



Al Azhar usianya sudah ribuan tahun. Didirikan pada masa dinasti Fatimiyah. Imam Ghazali salah satu dosen yang pernah mengajar di al-Azhar, beliau wafat 1111 M bisa dihitung kira kira usianya lebih dari satu milenium. Alhamdulillah saya belum pernah kuliah di sana, mudah-mudahan anak cucu nanti ada yang tergerak studi di sana, sementara ini yang sudah siap malah perginya ke negerinya Sultan Mehmed al-Fatih.

Fasilitas al-Azhar tidak semegah namanya. Sederhana. Kelas kelasnya cenderung kotor dan berdebu. Tempat duduk jarang digunakan, debu menumpuk dan di sana sini banyak sarang laba-laba. Kelas kelas di Al-Azhar tak lebih dari dua kali dibersihkan selama satu tahun, yaitu masa masa ujian. Mesir memang negeri berdebu. Menjelang dan pasca musim dingin berhari hari debu berterbangan, menumpuk tebal, seperti di Jawa setelah abu vulkanik gunung kelud meletus. Arsitek Italia yang didatangkan untuk membangun Al-Azhar tidak bisa menghindarkan bangunan imbas dari debu.

Meskipun penampilan tua, tetapi al-Azhar tidak pernah sepi melahirkan ulama ulama besar berkaliber internasional di berbagai negeri muslim, di semua bidang ilmu keagamaan. Ada Prof Quraish Shihab (Indonesia), Dr. Said Ramadhan al-Bouthi (Syiria), Dr. Yusuf al-Qardhawi (Qatar), Prof. Wahbah Al-Zuhaili (Syiria), Dr. Sya’ban Muhammad Ismail, Dr. Hamdi Subhi Thaha, Dr. Muhammad Abu Musa, Dr. Ibrahim al-Khouli, Syekh Mutawalli al-Sya’rawi, Dr. M. Imarah, Syeikh Hasan Isa al-Ma’sharawi, Dr. Hasan al-Syafi’i, Dr. Sa’duddin Hilali, Dr. Yahya al-Qathani, Dr. Ibrahim al-Hud-Hud dan ribuan lagi.

Demikian juga Pondok Gontor, usianya akan memasuki satu abad, cukup tua untuk ukuran pesantren di Indonesia. Berkhidmat pada pendidikan di tingkat menengah yang dikenal sebagai Kulliyatul Mu’alimin al-Islamiyah (KMI). Meskipun namanya besar, tapi fasilitasnya sederhana. Meskipun semua fasilitas tersedia, tapi jangan bandingkan dengan beberapa pesantren yang memberikan fasilitas bagaikan hotel. Meskipun sederhana, Pondok Gontor tak pernah sepi melahirkan tokoh tokoh berprestasi.

Beberapa nama tokoh nasional sangat familiar dan dikenal dengan baik oleh publik. Ada Prof. Dr. Nurcholis Majid, Prof. Din Syamsuddin, Prof. Amin Abdullah, Kyai Emha Ainun Najib, Kyai Hasyim Muzadi, Lukman Hakim Syaifudin (Mantan Menteri Agama), Maftuh Basuni (Mantan Menteri Agama), Prof. Masdar Hilmi, Prof. Abdul Kadir Riyadi, Ustaz Abu Bakar Ba’asyir, Dr. Hidayat Nur Wahid, serta ribuan lainnya yang belum dapat disebutkan.

Ada beberapa kesamaan yang membuat dua lembaga ini sukses berprestasi. 

PERTAMA : PENCIPTAAN IKLIM ILMIAH

Di Al-Azhar terdapat puluhan majelis ilmu-atau yang biasa disebut talaqqi, tiada henti mulai dari pagi hingga malam. Majelis ini bisa berjalan karena keikhlasan para masyayikh dalam mengajar. Datang ke majelis majelis dari tempat tempat yang jauh. Bahkan ada yang pulang pergi Alexandri-Kairo seminggu sekali sejauh 5 jam perjalanan mobil.

Para masyayikh inilah yang menyerahkan hidupnya untuk ilmu, berkhidmat sepenuh hati untuk mengajar tanpa lelah. Mereka menjaga ilmu dengan cara mengajar. Dengan mengajarkan secara kontinue semua ilmu di majelis, membuat al-Azhar tidak pernah sepi dari atmosfir pendidikan. Ilmu yang diwariskan dari generasi ke generasi di al-Azhar.

Di Pondok Gontor kegiatan pengajaran dilaksanakan mulai jam 07 pagi sampai jam 23 malam, dengan jeda kegiatan ibadah makan dan mandi. Dilakukan setiap hari selama 10 bulan penuh. Hari jum’at libur pembelajaran kelas, tetapi tidak libur dengan pembelajaran lainnya, berorganisasi, olahraga dan aktifitas pendidikan non kelas lainnya.  Setiap hari ada kelas pagi, sore dan malam. Mata pelajaran yang diujikan antara 36-45 pelajaran, bandingkan dengan SMP dan SMA sekitar 15 pelajaran.

Santri Pondok Gontor belajar dua puluh empat jam sehari, karena aktifitasnya tidak pernah berhenti. Denyut nadi kegiatan pembelajaran berdetak terus. Santri tidak hanya belajar ilmu akademik, juga belajar berbagai hal dalam kehidupan. Setiap santri dibekali ilmu agama, ilmu umum, ilmu kemasyarakatan, khutbah, publik speaking, mengajar, bekal yang lengkap untuk menjadi pemimpin keagamaan di komunitasnya. Dokter, tentara, polisi, politisi, guru, pengusaha, menteri, dosen dan beragam pekerjaan lain adalah profesi. Di dalam diri para santri ditanamkan ilmu untuk menjadi pelayan umat, pembimbing umat, apapun profesinya.

Setiap santri menjadi guru, sehingga Pondok Gontor tidak pernah kehabisan pendidik. Meskipun ribuan santri ratusan kelas dengan berbagai ragam mata pelajaran tidak pernah kekurangan guru. Karena pendidik mengabdi dengan sepenuh jiwa, tidak mengharap bayaran. Secara berjenjang kemampuan mengorganisir, mengelola kegiatan pondok, sampai dengan mengajar dirancang sistemnya.

Sistem ini yang membuat pembelajaran di Pondok Gontor tidak pernah berhenti, tidak pernah kehabisan ustadz, tidak pernah kekurangan Kyai. Bahkan sering surplus ustadz, sehingga diperbantukan di pondok pondok pesantren atau lembaga pendidikan Islam lainnya. Setiap tahun ribuan lulusan Pondok Gontor mengabdi satu tahun sebagai guru di ribuan pondok pesantren dan lembaga pendidikan Islam. Produktifitas dalam menghasilkan pendidik dan mencetak pendidik menjadi satu sistem yang berjalan hampir seratus tahun.

19 September 2020

#132

Jumat, 18 September 2020

Belajar Menjadi Benar

 

Oleh Syaifuddin

إن كان أهل العلم يخفي علمهُ

فسيظهر الجهلَ المركبَّ جاهلُ


Jika orang berilmu menyembunyikan ilmunya

Maka orang bodoh akan akan menampakkan kebodohannya

(Asyaibani)

Munculnya kabar burung dalam dunia informasi yang datar, membanjirnya hoaks, dan merebaknya konten negatif, tendensius dan mengadu domba adalah bukti kebenaran ujaran di atas. Masa ketika setiap orang bisa memproduksi konten, asal punya pendapat dan pulsa data. Tidak ada menakanisme cek kroscek, verifikasi, rujukan yang valid. Dengan mudah, berdasarkan pengetahuan yang dangkal konten tersebut disebarluaskan. Dishare tanpa mikir panjang lagi. Asal cocok dengan pandangannya.

Dunia datar, artinya pakar atau tidak pakar dianggap sama. Orang songong asal ngomong dan ada pendukungnya lebih bernilai dibandingkan ahli yang menyampaikan kebenaran berdasarkan pengetahuan. Kebenaran diukur dari jumlah like dan subscribe. Kebohongan yang diproduksi dan diperkuat terus menerus, ahirnya dipahami sebagai kebenaran. Tak heran banyak orang awam, orang jahil su’ul adab membuly seenak udelnya terhadap orang alim, para ahli hanya karena berbeda pandangan. Orang model model ini yang rajin muncul meramaikan dunia informasi, karena orang berilmu, orang yang berpikiran lurus tidak menyempatkan diri menulis atau membuat konten yang sesuai dengan keilmuannya. 

Lebih banyak ilmuwan yang tidak menulis daripada yang menulis. Banyak orang alim menebar ilmu di dunia offline, padahal manusia milennial mainnya di dunia maya. Kekosongan ini diisi oleh beberapa pihak dengan berbagai kepentingan. Tidak peduli baik buruk, siapa yang produktif dan tekun membuat konten dialah yang menguasai arus informasi. Ahirnya yang hadir adalah konten hiburan, konten tidak jelas, bahkan konten pembodohan. Merekalah yang mendidik publik, pengendali arus informasi. Pembodohan yang lebih berkuasa. Nitizen lebih banyak terpapar dengan konten tidak jelas, karena orang alim tidak hadir. Uang jelek menyingkirkan uang baik.

Orang berilmu yang tidak rajin menulis, berbagi ilmu, membuat konten positif di jagat maya, sebenarnya punya andil tanggungjawab terhadap menurunnya kualitas kecerdasan masyarakat. Momentum pandemi, memberikan kesempatan kepada para ahli ilmu untuk turun gunung menghadirkan banyak kebenaran dan pandangan yang benar sebagai konsumsi massa.

Kesempatan yang baik, karena dunia maya pada saat pandemi adalah platform utama, paling banyak digunakan orang mengunduh dan mengunggah ilmu. Hampir semua even keilmuan melintas di dunia maya. Seminar, lokakarya, diskusi ilmiah, rapat rapat penting, perkuliahan dan segala macam majelis ilmu sekarag dilaksanakan di jaringan internet. Maka sekarang adalah saat yang tepat untuk memulai memproduksi konten pengetahuan dan konten positif melalui dunia maya. 

Jaringan internet, dunia maya menjadi medan yang sesungguhnya pendidikan masyarakat. Pertanyaan apa saja dapat dicari jawabannya di google dan youtube. Tidak semua jawaban yang tersedia semuanya benar. Yang viral, yang tranding, yang populer adalah jawaban yang tersedia di bagian atas. Kebenaran tidak berada di atas, karena kurang disediakan, atau malah tidak ada. Kebenaran berada di sudut sudut sulit dunia maya yang tidak semua nitizen memahami cara mencari, memilih, memilah dan memferivikasi. 

Ketua Rabithah Ma’had Islam yang juga guru besar informatika ITS, Prof. Agus Zainal Arifin mensinyalir, orang yang alim sebenarnya ingin berbagi ilmu tetapi tidak punya cukup keberanian untun bikin konten. Sementara yang tidak alim bersemangat, dengan percaya diri bikin konten. Akibatnya jaga maya dipenuhi dengan konten konten tidak bermutu, tidak mendidik, atau malah ngawur. Kalau ahli konten dengan ahli ilmu ini sinergi maka media sosial dan jagat maya akan dipenuhi konten yang kreatif bermanfaat dan mendidik.

Di dunia yang dibanjiri informasi, orang yang menguasai data dan mampu mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna merupakan kemampuan penting. Kecerdasan artifisial telah banyak mempermudah kehidupan manusia, tetapi kalau orang berilmu tidak memanfaatkannya, maka orang jahil yang berkuasa. Kecerdasasan Google membantu netizen menemukan dokumen yang relevan. Kecerdasan Youtube membantu netizen memilih video yang disukan netizen. Kecerdasan Twitter memilih dan meranking topik yang sedang hangat dibicarakan. Kecerdasan Tokopedia memberitahukan kepada netizen barang yang cocok untuk dibeli, baik kualitas maupun harga. Kecerdasan Gofood memberikan pilihan menu makanan yang paling cepat untuk didatangkan dan sesuai selera netizen. Kecerdasan Google Cendikia untuk menelisik publikasi ilmiah para ilmuwan dan seterusnya.

Kedepan kalau orang alim tidak bertindak, maka ia akan tenggelam ditelan sistem kecerdasan kecerdasan yang akan semakin luas bidangnya. Yang artifisial semakin cerdas, yang nyata yang riel mabniyun ala sukun. Jangan sampai.

17 September 2020

#130


Kamis, 17 September 2020

Keberkahan Bersama Gerakan

 

Oleh Syaifuddin



Banyak yang berpikir insan perguruan tinggi tidak bakal bisa mendirikan bank. alasannya sulit mendapatkan modal awal, tidak ada sumberdaya manusia, benturan peraturan dan apa gunanya. Sama seperti pikiran mustahil bahwa pemerintah daerah bisa mendirikan bank syari’ah. Hambatan dan rintangannya jauh lebih besar dan sulit, karena pemerintahan daerah tempat bertemunya berbagai kepentingan dan aspirasi politik. Tapi nyatanya banyak pemerintah daerah yang mempunyai BPRS dan Jawa Timur propinsi besar yang akan mempunyai bank syari’ah pertama, spinoffnya ditargetkan 2021.

Perguruan tinggi dengan minimal ASN 150 pegawai dan 3.000 mahasiswa tidak terlalu sulit untuk mendapatkan. Modal awal dapat ditutupi segera dengan cara melakukan takeover dari 10-15 milliar pembiayaan pegawai di berbagai bank. Dengan skema ini, bank syari’ah milik ASN  bisa mendistribusikan profit ke para pemegang saham. Prinsip demokrasi ekonomi dari, oleh dan untuk ASN bisa terbentuk, seperti prinsip kerja Grameen Bank ide Muhamad Yunus di Bangladesh.

Penyediaan sumberdaya manusia, tidak terlalu sulit. Perlu waktu dua tahun untuk mengapgrade sumberdaya insani yang dikombinasikan antara profesional, freshgraduate dan dosen. Beberapa BPRS milik pemerintah daerah mengkombinasikan ASN dengan karyawan non ASN bisa. Kampus punya sumberdaya insani yang melimpah baik lulusannya maupun civitas akademika. 

Badan hukumnya perseroan terbatas, yang statusnya dipisahkan dari kampus sebagai BHMN atau satuan kerja pemerintah. Bank didirikan oleh ASN sebagai pemegang saham. Jadi bukan kampus yang mempunyai PT. Bank syari’ah masalah hukumnya tak terjangkau oleh pengetahuan saya.

Lembaga keuangan syariah berbentuk bank ini diperlukan untuk menjawab masalah penguatan ekonomi dan edukasi keuangan syari’ah. Regulasi bank memberikan keleluasaan untuk menghimpun dana pihak ke-3 maksimal 8 kali lipat dari modal. Lebih dari cukup untuk mengcover pembiayaan ASN di kampus. Bank syari’ah dengan skema bisnis dapat memfasilitasi pendirian dan kegiatan pembiayaan mikro keuangan syari’ah melalui Baytul mal wa tamwil (BMT) atau koperasi syari’ah yang dimotori oleh sarjana sarjana lulusan program studi ekonomi syari’ah, akuntansi syari’ah, manajemen keuangan syari’ah, perbankan syari’ah dan hukum ekonomi syari’ah. Sumberdaya insani yang banyak dan mumpuni. Dari mulai Dewan Pengawas Syari’ah (DPS), manajer, akunting, ahli keuangan syari’ah dapat dipenuhi dari lulusan lulusan tersebut.

Dengan modal 5-10 miliar, bank syari’ah dapat menghimpun dana pihak ke-tiga melalui tabungan, deposito dan kemitraan lainya sebesar 40-80 miliar. Bisa memfasilitasi pendirian dan menggerakkan ratusan BMT atau koperasi syari’ah, menyerap ratusan lulusan jurusan ekonomi syari’ah dan menyediakan pembiayaan keuangan mikro yang diperlukan usaha mikro, ultra mikro dan kecil di wilayah kepulauan.

Tanpa perlu menunggu dana pembinaan dari dinas koperasi dan pembinaan UKM, atau uluran tangan dari pemerintah dengan skema yang bermacam macam, seperti KUR atau kredit ultra mikro, bank syari’ah dapat menggerakkan keuangan sektor mikro. Beberap riset internasional menyimpulkan bahwa BPRS lebih sesuai dan lebih berhasil melakukan pembiayaan usaha mikro dan usaha kecil. BPRS dan BPRS ini salah satu keunikan lembaga keuangan di Indonesia yang dianggap berhasil memberikan kredit/pembiayaan di usaha kecil. Negara lain belum ada yang punya, negara negara lain menggunakan kelembagaan bank umum atau bank umum syari’ah saja.

Banyak perguruan tinggi, terutama yang mempunyai program studi atau jurusan ekonomi syari’ah memerlukan tempat praktikum. Solusinya adalah dengan laboratorium mini bank, paling jauh mendirikan koperasi syari’ah atau lembaga pengelola zakat. Beberapa UIN mampu menghimpun dana zakat berjumlah milliaran setiap tahun. Dikelola untuk penyaluran konsumtif maupun produktif dalam bentuk refolving fund. 

Di satu sisi mempunyai sumber modal yang cukup, di sisi lain ada kebutuhan untuk tempat mahasiswa melakukan praktik perbankan syari’ah atau praktik di lembaga keuangan syari’ah. Kalau kampus bisa bikin hotel, minimarket dan profit center lainnya, mengapa tidak berani bikin bank syari’ah? Ini masalah keberanian mengambil inisiatif, seperti pemerintah daerah yang berani mengambil inisiatif mendirikan bank.

Keberadaan bank syari’ah bermanfaat langsung untuk mempraktikkan teori teori ekonomi yang dipelajari oleh mahasiswa dan diajarkan oleh dosen. Civitas langsung dapat merasakan denyut perbankan syari’ah dan masyarakat ekonomi. Kalau di laboratorium semuanya simulasi dan artifisial, maka di bank syari’ah riel, laboratorium sosial ekonomi di masyarakat. Praktik praktik perbankan syari’ah yang menyimpang dari teori fiqh muamalah kontemporer dapat langsung dikaji. Teori dan praktik keuangan syari’ah langsung ditangani oleh ahlinya. Selama masih ada dikotomi ilmuwan praktisi dengan ilmuwan teoritisi, maka masalah kesenjangan keuangan syari’ah antara teori dan praktik akan terus terjadi.

Mendirikan bank syari’ah berbentuk BPRS tidak sulit sulit amat. Kalau tidak mampu mengerjakan sendiri, bisa menggunakan jasa konsultan yang akan menyelesaikan mulai dari perijinanan, pengadaan fasilitas perbankan dengan standar tertentu sampai perekrutan sumberdaya insani perbankan. Tinggal tunggu jadi. Tentu konsultan akan melibatkan tim pendiri untuk menyesuaikan selera. Biayanya akan diperhitungkan dalam perhitungan break even point. Biaya biaya yang muncul dalam proses pendirian sampai dengan bank beroperasional akan tercapai dalam perhitungan tersebut, sebagai perhitungan dalam bahasa awam balik modal. Perlu waktu rata rata 18 bulan bank balik modal, dan mulai membukukan keuntungan.

Pengalaman mendirikan bank syari’ah di Ternate, memakai jasa konsultan perlu waktu sekitar 6 bula dari mulai nol sampai lounching, padahal berangan angannya ada 7 tahunan menurut pak walikota. Ada BPRS yang perlu waktu lebih dari 4 tahun diurus sendiri, ada juga yang perlu waktu 3 tahun. Ini masalah strategi saja, masing masing cara punya kelebihan dan kekurangan. Biaya juga kurang lebih sama.

Penjelasan di atas berdasarkan pengalaman pernah terlibat dalam pendirian bank syari’ah, tidak ngarang. Beberapa asumsi perlu penyesuaian sesuai dengan perkembangan dan regulasi perbankan syari’ah yang memang berkembang dinamis. Dulu waktu didirikan bank syariah dengan modal awal dibawah 3 miliar,  tidak menduga jika setelah 7 tahun  mampu menghimpun dana hampir 100 miliar. Keberkahan muncul dari pergerakan.

Tulisan ini perlu saya sampaikan karena potensi keuangan syari’ah dan perbankan syari’ah masih terbuka sangat lebar. Sekarang market share dan aset bank syari’ah masih sekitar 5%, kalau asumsinya penduduk muslim semestinya mendapatkan pilihan bank syari’ah yang proporsional, maka selisihnya masih jauh. Jangan nunggu diserbu bank syari’ah dari Thailand, Malaysia, Singapura dan Brunai.

17 September 2020

#130


Rabu, 16 September 2020

Belajar Mengamalkan Ilmu

 

Oleh Syaifuddin



Tulisan ini ekspresi kebahagiaan dari kejadian sore ini. Beberapa mahasiswa yang sudah selesai dan akan selesai kuliah menghadap. Mau membeli beberapa buku koperasi syari’ah. Untuk apa beli buku banyak banyak, kuliah sudah selesai dan semuanya sudah lulus. Mata kuliah koperasi syari’ah dan baytul mal wa tamwil (BMT) sudah tidak diajarkan lagi di program studi perbankan syari’ah. Materinya sudah melebur dengan Lembaga Keuangan Syari’ah (LKS).

Ahirnya mereka bercerita tentang apa dan yang akan dikerjakan oleh para sarjana baru ini. Mereka sudah menjalankan koperasi syari’ah dengan bentuk kelembagaan BMT, salah satunya di pasar Dufa Dufa. Langsung berbunga bunga dalam hati. Cita cita dari penulisan buku koperasi syari’ah dulu adalah harapan supaya para ahli madya perbankan syari’ah, anak anak dari D3 menggerakkan keuangan mikro syari’ah di pulau pulau yang potensi ekonominya sangat besar.

Impian yang ditanam sepuluh tahun lalu mulai berkecambah dalam jiwa mahasiswa perbankan syari’ah, walaupun lebih lambat dari yang saya bayangkan. Pembiayaan sektor mikro dan ultra mikro di Maluku Utara masih menjadi target pasar terbesar dari pelepas uang (rentenir). Pembiayaan dengan modal 500 ribu- 5juta tidak bisa dijangkau oleh bank, dan ini makanan paling empuk dari para pelepas uang, karena bunganya sekitar 20 % dalam sebulan yang diangsur setiap hari.

Kebahagiaan penulis buku adalah ada yang membaca, menjadikan buku sebagai rujukan, bukunya dibeli dan bermanfaat dalam kehidupan nyata. Saya bahagia karena buku saya laku, tetapi yang paling bahagia karena buku tersebut bermanfaat. Buku itu menjadi pedoman operasional, manajemen dan pengembangan koperasi syari’ah. Anak anak didik saya berkontribusi dalam memasyarakatkan ekonomi syari’ah, dan mengekonomi syari’ahkan masyarakat dengan memanfaatkan buku saya.

Koperasi syari’ah memenangkan para pedagang kecil dalam kompetisi melawan para pelepas uang. Jika pedagang kecil dan pelaku usaha informal tidak tergantung lagi kepada para pelepas uang, harapannya dapat mengalihkan dana pinjaman mereka ke sektor riel di Ternate yang belum tergarap. Pedagang kecil selamat, pelepas uang juga dapat berinvestasi di tempat yang tepat.

Setelah menanyakan skema pembiayaan yang mereka jalankan, saya bertanya dari mana modalnya didapatkan, cara mengelola, bagaimana caranya pembiayaan kompetitif. Lembaga keuangan syari’ah tidak hanya harus lebih baik dalam menggunakan model transaksi, tetapi juga harus lebih menguntungkan buat pedagang. Biayanya harus lebih murah dibanding lembaga keuangan konvensional.

Kepada mereka saya bagikan beberapa kiat supaya BMT kompetitif dibandingkan lembaga keuangan konvensional, termasuk dengan bank. Pertama, BMT harus berjejaring baik dalam penyediaan modal bersama maupun berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan semua stakeholder, termasuk akademisi kampus. Kedua, bekerjasama dengan Bank Syari’ah atau Lembaga Keuangan Syari’ah untuk mendapatkan biaya dana yang paling kecil biayanya. Ketiga, membangun kemitraan dengan BAZNAS untuk pembiayaan al-qardh hasan untuk bersinergi mentransformasikan mustahik menjadi muzaki.

Dalam hal pengembangan BMT di Ternate secara khusus dan Maluku Utara secara umum inisiatif  para sarjana baru ini sangat menyegarkan ditengah lesunya pengembangan keuangan  mikro syari’ah. Sarjana lulusan IAIN dengan gagasan brilian ini keren. Menepis anggapan publik bahwa sarjana IAIN hanyak unggul di bidang keagamaan tetapi lemah di bidang lain, ekonomi misalnya. Gagasan ini sebaiknya digelorakan dan disupport secara kelembagaan. 

Kampus dapat memfasilitasi pengembangan kelembagaan keuangan mikro syari’ah dalam skema pengabdian masyarakat, penelitian dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Lembaga keuangan mikro syari’ah  memberikan dampak yang lebih lestari dalam menopang perekonomian masyarakat, dibandingkan bantuan charity atau sumbangan sembako atau fasilitas lainnya. 

Sudah ada modal sosial, modal intelektual, modal jaringan dan modal pasar yang sangat potensial. Sudah ratusan sarjana ekonomi yang diluluskan IAIN Ternate. Sebagian besar pejabat, dari tingkat menengah sampai atas di seluruh wilayah Maluku Utara mempunyai hubungan emosional dengan IAIN Ternate sebagai perguruan tinggi tertua di Maluku Utara, modal sosial yang lumayan. Jaringan multisektor dari bidang politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan keagamaan di seluruh wilayah Maluku Utara dimiliki oleh IAIN Ternate. Maluku Utara mempunyai potensi ekonomi yang sangat besar dan beragam dari sektor kelautan, maritim, pertambangan, pertanian dan perkebunan, perdagangan, pariwisata. Wilayah daratan dan lautan sangat luas, mau bikin apa saja bisa, bahkan bikin pabrik baterei lithium yang menjadi masa depan energi duniapun bisa. Semuanya bisa dikerjakan, hanya belum dikerjakan saja.

Kalau kampus Islam negeri mau berbuat hal kecil ini saja. Memfasilitasi pengembangan kelembagaan keuangan mikro syari’ah di seluruh tempat yang potensi ekonominya bagus. Maka akan mampu membuat perbedaan besar. Cara berpromosi yang sederhana, efisien, tetapi berdampak besar. Tindakan yang bisa membawa jargon rahmatan lil alamin,  manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat.

16 September 2020

#129