Selasa, 20 Oktober 2020

Nahdhiyin Perkotaan

 Oleh Syaifuddin





Ada gejala perilaku ekonomi Islam warga Nahdhatul Ulama’ (NU) atau yang familiar dengan sebutan warga nahdhiyin. Njelimet sekali mungkin istilah yang saya gunakan, ada perilaku ekonomi ada perilaku ekonomi Islam. Untuk menyederhanakan pembahasan, yang saya maksudkan dengan perilaku ekonomi Islam adalah bagaimana warga nahdhiyin berhubungan dengan istilah istilah dan praktik ekonomi syari’ah, perbankan syari’ah, pasar modal syari’ah, bisnis syari’ah, mudharabah, musyarakah, bay’ almurabahah dan seterusnya.


Semula saya menangkap di permukaan, ada yang berbeda antara cara nahdhiyin di Ternate dan tempat lain, terutama di kota kota besar Jawa dalam mempraktikan ekonomi syariah. Setidaknya di kalangan menengah ke atas yang sangat dekat dengan terma, istilah dan praktik ekonomi syari’ah, seperti perbankan syari’ah, baytul mal wa tamwil. Sementara saya menyebutnya dengan perilaku ekonomi nahdhiyin perkotaan.


Islam berkemajuan masyarakatnya dulu disebut dengan masyarakat Islam perkotaan, sementara muslim tradisional dewasa ini mengidentifikasi sebagai Islam nusantara. Sejak kemunculannya di tahun 1990 an yang gegap gempita, berakrab ria dengan ekonomi syari’ah adalah muslim perkotaan. Muslim tradisional masih menjaga jarak, sembari mencari format respon yang paling tepat terhadap fenomena ini. Sementara nahdhiyin Ternate sudah familiar dengan ekonomi syari’ah sejajar dengan muslim perkotaan.


Dalam praktiknya, muslim perkotaan dengan nahdhiyin perkotaan amaliah beragamanya nyaris serupa. Tidak ada perbedaan yang fundmental. Cukup lama saya kesulitan membuat kesimpulan terhadap fenomena ini. Setelah munculnya fenomena Ustadz Abdus Shomad dan pergerakan FPI dari waktu ke waktu, saya mulai bisa membuat benang merah. Semakin jelas dengan teori amaliah, fikrah dan harokah untuk melihat perilaku nahdhiyin.


Waktu meneliti tentang perilaku konsumen nahdhiyin di perbankan syari’ah, saya kesulitan untuk mengidentifikasi responden dari segi amaliahnya. Semuanya mengamalkan sholawat, tahlil, manakib dan ziarah kubur. Sebagai pembeda supaya jelas responden saya, maka pengurus organisasi di lingkungan NU sebagai indikator lainnya.


Dan itu cukup efektif menjelaskan apa ciri uniknya perilaku konsumen nahdhiyin pada bank syari’ah di Ternate. Memberikan landasan argumen yang kuat, mengoreksi kesalahan saya menempatkan pengurus MUI sebagai responden, meskipun yang bersangkutan juga pengurus wilayah NU. Unsur nahdhiyinnya yang didahulukan, keulamaannya di MUI sebagai pendukung. 


Gejala perilaku ekonomi Islam nahdhiyin perkotaan di Ternate tidak terlalu terlihat di masyarakat kota di Jawa. Sebenarnya berkembang, tetapi dalam kantong kantong yang terbatas. Program studi ekonomi syari’ah, di berbagai perguruan tinggi Islam yang memberikan andil berkembangnya praktik ekonomi syari’ah, yang terbatas itu misalnya dengan keberadaan BMT di Pondok Sidogiri dan BPRS di Salafiyah Syafi’iyah. Namun, secara umum konsumen atau nasabahnya masih masyarakat muslim perkotaan yang berkemajuan. 


Mulai terlihat ada pergeseran gejala.

Dua rois syuriah NU KH. Sahal Mahfudh dan KH. Ma’ruf Amin adalah kontributor utama lahirnya fatwa fatwa keuangan syari’ah sebagai pedoman lembaga lembaga ekonomi syari’ah dapat tumbuh dan berkembang pesat seperti saat ini.  Kedua tokoh ini memberikan pijakan “Islamic Yuris” yang kokoh dan bahkan tidak dimiliki oleh negara negara lain. Fatwa keuangan syari’ah nampaknya sederhana, tapi sesungguhnya itu yang paling utama dibutuhkan industri keuangan syari’ah dan ekonomi syari’ah.


Nah, jika di level tinggi tokoh tokoh NU berperan penting dalam membangun struktur ekonomi dan industri keuangan syari’ah, mengapa di level menengah sampai bawah terjadi anomali? Gejala nahdhiyin perkotaan dan teori amaliah, fikrah dan harakah bisa memberikan penjelasan, sekaligus seperangkat solusi untuk memperbaiki keadaan. 


20 Oktober 2020

#149

 


Senin, 05 Oktober 2020

Belajar Dari Nilai Filosofis Pondok Pesantren

 

Oleh Syaifuddin



Pondok pesantren menjadi inspirasi lahirnya madrasah, berdirinya pondok pesantren lain  atau munculnya universitas Islam sesuatu yang lumrah. Tapi menjadi inspirasi lahirnya padepokan seni, yang didirikan oleh pak Bagong seniman keraton Jogjakarta, baru tidak biasa.


Tanpa modal harta yang memadahi, tidak dibekali ilmu pedagogi pak Bagong Kussudardja mendirikan Padepokan Seni Bagong Kussudardja (PSBK) gara gara kesengsem dan kesetrum kehidupan pesantren. Pak Bagong yang kristen sebelumnya ikut shooting film Al Kautsar, salah satu lokasinya di pesantren Pabelan, Mungkid, Magelang.


Pak Bagong kepincut kehidupan komunal dan sistem pendidikan pesantren. Takjub dengan ketekunan santri, hangatnya relasi ustadz dan santri, tentu juga kyai dan kehidupan pondok pesantren. Akrab, guyub, penuh kesantunan dan kesahajaan. Terpesona denga pemandangan yang elok dan langka, pak Bagong mbatin, pingin membuat “pesantren” seni, 70 persen praktik, 30 persen teori. Dan padepokan pesantren seninya Kiai Bagong melestarikan dan melahirkan seniman seniman handal sudah 42 tahun, diantaranya almarhum seniman Djaduk dan pak Butet Kertaredjasa.


Pondok pesantren punya ragam bentuk sistem yang sangat banyak, mungkin bisa ratusan model. Dari puluhan ribu pondok pesantren di Indonesia masing masing mempunyai strategi dan sistem yang berbeda beda.  Dari sekian banyak perbedaan pondok pesantren mempunyai satu persamaan yaitu dicirikan dengan adanya empat unsur Kyai, Santri, Masjid dan Asrama, kecuali pesantren online.


Para peneliti tentang pondok pesantren mengkalisifikasikan pondok pesantren berdasarkan model pendidikan kedalam 7 kategori : pesantren salaf klasik tradisional, pesantren modern, salafiyah modern, pesantren campuran (Mondok dan Kalong), pesantren takhassus, pesantren salafi, dan Boarding School bermodel pesantren.


Tradisi pendidikan Islam dalam bentuk pondok pesantren di Indonesia berumur 500 tahun lebih. Banyak pondok pesantren yang berusia diatas seratus tahun dan masih tetap bertahan. Pondok Modern tertua yang pernah ada diantaranya Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, Jawa Timur. Pondok pesantren awal yang dikenal dalam sejarah diantaranya yang dikenal sebagai Langgar Bubrah di Jawa Tengah, Pondok Sunan Ampel di Surabaya yang sekarang bertransformasi menjadi pesantren di kawasan nDersemo, dan Pesantren Sunan Giri di Perbukitan Giri Kedaton Gresik yang menginspirasi lahirnya sistem pendidikan Islam Pangaji di wilayah Maluku  Kieraha (Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, sebagian Sulawesi dan sebagian Pilipina).


Apa yang mengilhami pendirian Padepokan Seni Bagong Kussudardja karena pesantren mempunyai tradisi pendidikan yang sangat kuat. Pendidikan yang dijalankan dengan kesungguhan, keikhlasan, tanggungjawab dan terlembagakan budaya pendidikan dengan nilai, mileu bersumber dari ajaran Islam. Pak Bagong hanya mengambil satu nilai dari sekian banyak nilai yang dipelihara di pondok pesantren. Kalau di pondok pesantren dari subuh sampai malam orang belajar agama, di padepokan dari subuh sampai malam : latihan seni, berpikir seni, mengolah dan berkarya seni.


Di Pondok Gontor misalnya mempunyai sistem pendidikan yang disebut sebagai Kulliyyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI). Pendidikan setingkat SMP dan SMA yang dipersiapkan menjadi guru umat, pendidik bangsa. Sistem ini sudah diterapkan lebih dari 60 tahun, nyaris tanpa perubahan. Uniknya meskipun sudah tua kurikulumnya tetapi lulusannya tidak pernah ketinggalan zaman. 


Bukan berarti pondok tidak mengadopsi perubahan. Setiap kali perubahan kurikulum pendidikan setingkat SMP dan SMA yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia akan diadopsi, ternyata hasil kajian menunjukkan kurikulum dan buku daras KMI lebih relevan menjawab tantangan zaman. Misalnya dalam pelajaran bahasa Inggris, pernah ditawarkan buku ajar terbitan dalam negeri untuk menggantikan buku ajar terbitan oxford yang berusia lebih dari seabad, ternyata buku penggantinya tidak lebih baik. Kurikulum memang punya peran penting, namun yang lebih penting lagi sistem pendidikan yang dijalankan secara konsisten oleh para pendidiknya dengan budaya dan nilai pondok yang dipegang dengan kuat.


Di satu pondok Gontor saja, terdapat 450 guru yang mengajar 30 mata pelajaran, 100 kelas dan 4000 santri, yang harus dikelola dan dijadwalkan dengan rapi oleh Direktur KMI. Dua puluh orang staf KMI pada pagi buta, sebelum para santri mengganti sarung dengan celana panjang dan kemeja mereka sudah harus mengecek absensi, memeriksa kelas, menyediakan kelengkapan kelengkapan lain yang diperlukan Direktur. 


Kala mentari terbit, para guru telah berdasi rapi menyerbu dapur sebelum masuk ke kelas para staf KMI giliran melakukan tabkir, berdiri di sudut sudut pondok mengawasi santri yang menyemut berduyun duyun menuju kelas. Jam 7 tepat aktifitas pengajaran di kelas sudah dimulai tapi mereka terus bekerja: masuk kelas, menyiapkan rapat rapat, supervisi pelajaran kelas, mengkoordinasikan guru yunior, menyiapkan map map guru senior, memeriksa kelas, asrama rayon dan seterusnya.


Para staf KMI ini sibuk sepanjang waktu. Pada masa ujian pertengahan tahun atau akhir tahun bila di lembaga lain, pekerjaan lebih sedikit tapi bagi mereka itu waktu puncak kesibukan. Meskipun ada panitia ujian yang langsung disupervisi oleh Kyai dan Direktur KMI kesibukan mereka tetap tinggi. Mendamping para guru, menyelesaikan tugas tugas administratif berikutnya, mempersiapkan data prestasi santri untuk pengambilan kebijakan Direktur KMI, untuk penempatan santri di kampus kampus cabang, setelah kenaikan kelas ataukah di pertengahan tahun itu.


Ustadz Nasrullah Zarkasyi Allahu yarham menyebut mereka ini (staf KMI)  the real principal. Orang orang mengetahui dan sangat hapal dengan rinci tugas rutinnya, bekerja tanpa komando, dengan kesadaran dan keikhlasan tinggi. Ya betul. Mereka bekerja tanpa dibayar. Mereka lah nyawa KMI. Mereka bekerja tanpa imbalan jasa, tanpa gaji, tanpa fasilitas. Santri Gontor berhutang terima kasih kepada mereka. Sistem seperti ini tidak bisa berjalan baik hampir seratus tahun jika tidak dibangun berdasarkan nilai yang mendarah daging.


Pondok Gontor meletakkan keikhlasan sebagai nyawa penggerak inisiatif dan aktifitas pondok secara keseluruhan. Keberkahan itu timbul karena sistem dibangun dalam kerangka ibadah. Pengabdian dan kesungguhan memberikan pelayanan terbaik tidak berdasarkan materi yang diterima. Para staf yang bekerja fulltime, sepanjang waktu sepanjang tahun, bisa dikata sama sekali tidak digaji. Keikhlasan yang tinggi menimbulkan kecintaan pada tugas.


Dalam benak mereka suara lonceng pondok, lalu lalang para santri, gemuruh suara anak anak dari kelas yang mengulang pelajaran, waktu istirahat, atau berduyun duyun keluar dari kelas menuju berbagai rayon asrama santri, pemandangan yang melahirkan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri. Di usia muda, 20-25 tahun mereka sudah merasakan cinta dan kebahagiaan seorang guru. Guru yang berdedikasi pada santri dan menikmati pekerjaannya. Guru yang tidak pernah bosan melihat santri. Gaji menjadi tidak berarti, mengalahkan anugerah nikmat memberi. Mereka mendapat pelajaran hidup yang paling berharga dengan menjadi bagian dari penerapan nilai nilai pondok.


Itulah millieu pondok Gontor yang dijaga bertahun tahun dan menjadi etos, budaya kerja sejak pondok didirikan. Orang orang terlibat menjadi dinamis, aktif, penuh inisiatif dan bertanggungjawab, menjadi satu kesatuan sistem yang bergerak terus sepanjang waktu. Muncul kesadaran tinggi, tanggung jawab mengemban amanah masing masing dengan pengabdian total. 


Keunggulan seperti ini berbeda beda antar satu pondok dengan pondok lainnya. Setiap pondok mengembangkan nilai yang paling sesuai dengan tujuan pondok didirikan. Kekayaan khazanah yang membuat pendidikan Islam terus berjalan, agama terus terpeliharan. Pondok pesantren tidak akan pernah mati dan bahkan terus berkembang sebagai tulang punggung agama. Pondok pesantren menjadi benteng tanggu peradaban Islam dan kokohnya Republik Indonesia.


6 Oktober 2020

#148


Minggu, 04 Oktober 2020

Berkah Musibah : Menulis



Oleh Syaifuddin


Bunga tumbuh pada saat dahan kurus dan daun berguguran. Panas membuat bunga bougenvil menampilkan bunganya. Tanaman mampu mempersembahkan keindahan karena derita dan nestapa yang menimpanya. 


Mangga yang manis berbunga pada saat panas menyengat, buahnya segar karena kurang air. Sinar mentari yang terik diubahnya menjadi daya kehidupan, menghijaukan daun menebalkan dahan, menghasilkan buah yang banyak. Tetumbuhan mampu menyerap carbon dan polusi di udara, mengubahnya menjadi oksigen yang dihirup mahluk hidup lainnya.


Tanaman merica berbuah lebat pada saat panas mentari dan melemah pada saat udara teduh dan berlimpah hujan. Maka ketika panas sedang tinggi tingginya diberikan pupuk, sehingga semakin panas dan menyuburkan buahnya.


Alam memberi kita pelajaran kepada manusia. Sebuah kemampuan mengubah apa yang buruk buat manusia, adalah media untuk produktif. Tempaan adalah stimulus untuk menghasilkan. Ujian adalah cara menaikkan level. Kemudahan lahir dari kesulitan.


Pandemi yang hadir dalam tujuh bulan terakhir, terlepas dari apa penyebabnya, menjadi ujian bersama. Semua terpengaruh. Sudah ratusan ribu korban meninggal, jutaan menusia terinfeksi. Pendidikan terganggu. Sekolah sekolah tutup, universitas sunyi. Kantor kantor dan pabrik beroperasi sebagian. Ekonomi terpengaruh. Resesi mulai menyapa negara negara, satu demi satu. Depresi ekonomi sudah di depan mata. Resesi itu bila tetanggamu kehilangan pekerjaan, depresi itu jika kamu juga mulai kehilangan pekerjaan.


Dampak negatif pandemi semakin banyak bila kita kupas. Tapi tidak akan mengubah apapun. Seperti tumbuhan yang merespon dengan tepat kondisi alam yang menimpanya. Kering kerontang dan sengatan panas matahari tidak membuatnya mati, tapi melahirkan kreasi. Ujian menjadikan manusia berubah lebih baik.


Banyak produktifitas menulis lahir di masa pandemi ini. Tidak sedikit Covid-19 melahirkan banyak artikel ilmiah. Ada ratusan artikel scopus bertema pandemi. Tidak saja dari bidang kesehatan tapi multidisiplin. Banyak buku berterbitan, edisi cetak maupun digital. Jutaan orang tergerak untuk menulis. Pandemi memberikan iklim yang kondusif bagi manusia untuk menulis. Manusia hidup dalam ancaman hawatir dan takut, tapi kemajuan teknologi yang diperoleh manusia masih memungkinkan untuk menulis. Dalam 75 tahun terahir kita tidak bertemu dengan perang dunia, pandemi ini dampaknya lebih dirasakan daripada perang dunia.


Guru guru menulis tergerak untuk membuka kursus kursus menulis. Ada yang berbayar mahal, karena membidik sasaran penulis dengan tingkat kemampuan tinggi. Ada yang berbayar sedang, karena bertujuan menggerakkan sebanyak mungkin penulis. Berbayar dengan tujuan supaya serius mengikuti ste demi step kepenulisan. Dan tidak sedikit guru guru yang membimbing dan mendampingi proses menulis secara gratisan. Semuanya bertujuan menggerakkan kemampuan menulis masyarakat. Sebab menulis mempunyai multi manfaat, keterampilan menulis berguna dalam semua bidang kehidupan.


Semua orang dapat menulis, tergantung kemauan. Setiap orang dapat menulis setiap hari, asal konsisten dan mampu menjaga minat atau spirit. Supaya semangat menulis selalu terjaga, diperlukan kelompok yang bisa saling menolong. Mengingatkan, mengoreksi dan menjaga supaya gelora menulis tetap terpelihara. Sepertinya sederhana, kelompok penting untuk menjaga minat dan tujuan menulis dapat tercapai. 


Menulis itu pertarungan dalam diri sendiri, mengorganisirnya untuk dituangkan dalam bahasa simbol yang mudah dipahami oleh orang lain. Tulisan yang baik dan diproduksi secara terus menerus memerlukan energi besar. Dengan berkelompok energi itu dapat terus dipelihara. Grup penulis membuat optimal menggali potensi menulis, sebab jalan sendiri terlalu sepi, kecuali bagi yang sudah terlatih.


Kebanggan tersendiri dan menjadi kebahagiaan, bila tulisan menggerakkan meskipun hanya satu orang. Seorang pembaca yang puluhan tahun tidak pernah menulis buku, ahirnya menerbitkan buku, karena selalu membaca tulisan di blog dan melihat buku yang saya terbitkan. Dampak positifnya terus mempengaruhi, sehingga dia terus menulis lagi dan merencanakan menerbitkan satu buku berikutnya dalam waktu dekat. Menurutnya menerbitkan karya buku mempunyai kenikmatan dan menaikkan kepercayaan diri. 


Sama seperti yang kita alami. Tergerak menulis karena terpengaruh oleh orang lain. Untuk terus menjaga spirit dan konsistensi menulis diperlukan kesungguhan. Kesungguhan hanya bisa ditumbuhkan dan dijaga dalam diri masing masing. Keteguhan itu lahir dari kesiapan meminggirkan hambatan dan rintangan. Pada awalnya menulis itu tidak punya konsekuensi apapun. Menulis tidak mendapat ganjaran, berhenti menulis tidak ada sangsi. 


Seperti apa yang sudah dilakukan oleh tetumbuhan dalam merespon panas dan polusi dan hal hal negatif yang hadir, manusia juga harus lebih positif dalam menghadapi pandemi. Dengan akal dan budi yang dianugerahkan kepada manusia beriman, seyogyanya pandemi menghasilkan buah terbaik yang dapat kita hasilkan.


4 Oktober 2020

#147

 


Kamis, 01 Oktober 2020

Riset Terbaru Bank Syari’ah

 

Oleh Syaifuddin



Meskipun pertumbuhan bank syari’ah di Indonesia cukup pesat dan mengalahkan pertumbuhan bank konvensional , dalam hal jumlah asset dan nasabah bank syari’ah masih kalah dengan bank konvensional. Lima persen bank syari’ah sembilan puluh lima persen konvensional, perbandingannya 1:19. Tak heran jika ke mana mana lebih mudah ketemu bank yang tanpa syari’ah. Lebih mudah ketemu masjid daripada bank syari’ah. Fasilitas ibadah sangat mudah ditemui, fasilitas muamalah kurang. Dapat juga ditarik pada konklusi, potret keberagamaan masyarakat kita, kuat di ibadah individual, tapi lemah di ibadah sosial.


Secara internasional, belum ada data yang cuku valid perbandingan bank Islam dengan bank konvensional. Secara global bank syari’ah punya banyak keunggulan dibandingkan bank konvensional. Keunggulan yang dimiliki tidak hanya di negara yang mayoritas muslim saja, tetapi juga di negara yang minoritas muslim, misalnya Amerika, Inggris, Singapura, India dan Australia.


Keunggulan bank syari’ah dalam riset riset kekinian antara lain :


KEUNGGULAN EFISIENSI. Dalam hal efisiensi bersih bank syari’ah lebih baik dibandingkan dengan bank konvensional. Efisiensi bersih artinya kemampuan bank syari’ah menghemat pengeluaran bersih. Pengeluaran bersih adalah pengeluaran setelah dipotong oleh biaya operasional, pajak, zakat dan seterusnya. Bank syari’ah lebih unggul diaspek afisiensi bersih karena kapabilitas manajer bank bank syari’ah sangat bagus.


Dalam hal efisiensi jenis bank syari’ah lebih rendah dibandingkan bank konvensional. Ketiadaan standar baku dan banyaknya produk keuangan yang dibuat oleh bank syari’ah membuatnya tidak efisien. Di bank konvensional untuk semua jenis produk keuangan bank akadnya kredit/pinjam, yang membedakan tingkat bunga antar produk, tergantung jangka waktu dan risiko. Untuk perumahan, pendidikan, kesehatan, pertanian, perdagangan, konsumtif, maritim, kelautan, usaha kecil, pertambangan dan ratusan produk keuangan perbankan konvensional semuanya pakai satu akad, kredit. (Jill Johnes : 2014)


Di Bank syari’ah untuk kredit perumahan misalnya bisa menggunakan akad bay’ al-murabahah, dapat juga menggunakan bay’ al-istishna’, bisa pulamenggunakan multi jasa. Satu jenis pembiayaan di beberapa bank bisa menggunakan bermacam akad. Belum lagi antar negara yang berbeda mazhab fiqhnya. Mazhab fiqh syi’i dengan sunni ragam mazhabnya juga beda lagi. Maka bila terjadi transaksi antar bank Islam antar negara dengan akad produk yang berbeda, akan terjadi kesulitan. Maka pada aspek ini bank syari’ah tidak efisien. Tetapi di aspek kemudahan, saling menguntungkan dan seterusnya di aspek akad lebih menarik minat bank syari’ah dibandingkan bank konvensional.


Pada efisiensi bruto, bank syari’ah dengan bank konvensional, posisinya imbang. Sama efisiennya atau sama sama kurang efisiennya tergantung pada regulasi setiap negara. Kesimpulan hasil riset yang bersifat general dan di puluhan negara, harus dilihat lagi dalam aspek mikro bank, sehingga bank syari’ah mempunyai keunggulan dan terus mempertahankan keunggulan, untuk menarik minat konsumen.


KEUNGGULAN RASIO KEUANGAN. Pada periode yang agak panjang pernak dilakukan penelitian pada ratusan laporan keuangan bank syari’ah dan konvensional secara proporsional di berbagai negara. Bank syari’ah unggul semua di profitabilitas, likuiditas dan tingkat keuntungan investasi.


Profitabilitas adalah kemampuan bank memperoleh keuntungan. Usaha bank syari’ah secara umum di negara manapun, pada periode pengamatan rata rata lebih untung bisnisnya dibandingkan bank konvensional.


Likuiditas adalah rasio keuangan bank yang menunjukkan kecukupan uang tunai. Pada masa masa tertentu penarikan uang di bank tinggi, misalnya pada saat hari raya keagamaan, tahun ajaran baru dan even even lainnya. Pada saat normal bank punya kecukupan dana rata rata yang siap ditarik atau dipindahbukukan ke bank lain, dihitung berdasarkan pengalaman pengalaman sebelumnya. Dalam hal ketersediaan dana ini bank syari’ah lebih unggul dibandingkan bank konvensional. (Asma Salman:2018)


Return of investment adalah kemampuan bank untuk memberikan keuntungan kepada para investor. Sebagai contoh, regulasi perbankan di Indonesia, jumlah modal bank rata rata di bawah 15% seluruh dana yang dikelola. Lebih banyak dana pihak lain daripada dana bank sendiri. Salah satu penyumbangnya adalah investor. Investor lebih nyaman berinvestasi di bank syari’ah, karena tingkat pengembaliannya lebih menguntungkan. 


KEUNGGULAN DALAM MEMPENGARUHI. Di negara yang menggunakan perbankan dengan dua sistem, yaitu regulasi bank syari’ah dan regulasi bank konvensional diatur berbeda, maka bank syari’ah yang mempengaruhi tingkat penetapan bunga yang berlaku di bank konvensional. Negara yang menggunakan dual sistem banking ini misalnya Indonesia, Malaysia, Kerajaan Saudi Arabia, Republik Iran dan beberapa negara yang berpenduduk mayoritas muslim lainnya.


Uniknya tingkat suku bunga yang digunakan oleh bank konvensional tidak berpengaruh terhadap penetapan bagi hasil yang digunakan oleh bank bank syari’ah yang ada di negara negara tersebut.

Nisabah bagi hasil sebuah bank syari’ah dipengaruhi oleh bank syari’ah lainnya.


Bila bank konvensional pemimpin pasar mempunyai asset yang besar dan memberikan kredit dalam jumlah besar kepada nasabah yang banyak, maka dia yang akan mengendalikan bunga pasar, meskipun bank sentral sudah menetapkan tingkat suku bunga. (Celline Meslier : 2017)


Karena inilah usulan menteri BUMN untuk menyatukan beberapa bank syari’ah milik pemerintah, dengan cara merger. Bank syari’ah yang besar dan kuat dengan asset besar dan nasabah banyak tidak mudah didikte oleh bank konvensional. Dengan kekuatan bank syari’ah mekanisme pasar dan pergerakan ekonomi ditentukan oleh ekonomi sektor riel. Tapi kalau bank konvensional pengendali tingkat suku bunga pasar, maka ekonomi gelembung yang terjadi di masyarakat, yang sangat rentan dengan krisis moneter dan krisis ekonomi.


Referensi :

1. Jill Johnes, Marwan Izzeldin, Vasileios Pappas, A Comparison of Performance of Islamic and Conventional Banks 2004–2009, Journal of Economic Behavior & Organization Volume 103, Supplement, July 2014, Pages S93-S107

2. Asma Salman, , Huma Nawaz, Islamic Financial System and Conventional Banking: A Comparison, Arab Economic and Businnes Journal Volume 13, Issue 2 December 2018, Pages 155-167

3. Celine Meslier, Tastafiyan Risfandy, Amine Tarazi, Dual Market Competition and Deposit Rate Setting in Islamic and Conventional Banks, Economic Modelling, Volume 63, Juni 2017, 318-333

1 Oktober 2020

#146

 


Rabu, 30 September 2020

Nandur Ngunduh| Tlaten Panen


oleh Syaifuddin



Muhammad Ridwan telah 23 tahun bersama Baytul Mal wa Tamwil (BMT) Bina Ihsanul Fikri (BIF) Yogyakarta. Lembaga Keuangan Syari’ah (LKS) yang didirikan pada tahun 1997, sejak dia masih mahasiswa sampai menjadi doktor. Keteguhan dan keyakinan pada prinsip, energi yang tidak akan pernah padam.


BMT, lembaga yang dianggitnya dianggap tidak jelas, tidak punya prospek, seperti main main bagi masyarakat Gedong Kuning, satu blok sebelah timur kebun binatang Gembira Loka. Bank Mu’amalat LKS yang lebih besar dan menasional baru umur lima tahun, tidak dikenal, asing dan semacam utopia, apalagi lembaga ini yang bagaikan setitik noktah dalam selembar koran.


Waktu Mas Ridwan ngantor di BMT nya, sambil sesekali distribusi sembako, kerap dipandang sebelah mata oleh kawan kawan mahasiswa yang kampusnya waktu itu di Muja Muju, samping kebun binatang Gembira Loka. Mahasiswa yang banyak belajar ekonomi syari’ah, perbankan keuangan syariah dan LKS saja menganggap aneh, apalagi masyarakat awam.


Tahun 90 an adalah masa tersulit bagi ekonomi syari’ah mendapatkan pengakuan masyarakat dan dunia akademik. Tiga kota saja yang punya studi perbankan syari’ah, Yogyakarta, Surabaya dan Semarang itupun kampus swasta. Kampus keagamaan Islam negeri (UIN, IAIN dan STAIN) belum bisa menerima kehadiran ekonomi syari’ah dalam rumpun ilmu syari’ah. Perguruan tinggi negeri umum, seperti Universitas Airlangga di Surabaya yang justru lebih awal bisa menerima kehadiran program studi rumpun ekonomi syari’ah, baru disusul kampus Islam pada tahun 2009 an.


Setelah menyelesaikan kuliahnya dan menyandang gelar sarjana ekonomi, mas Ridwan menetap di Yogyakarta, hijrah dari kampung halamannya di Jawa Timur. Dia sudah terlanjur jatuh cinta dengan Jogja dan BMT. Dengan bekal keilmuannya, manajemen konsentrasi manajemen bank syari’ah mas Ridwan tekun membina ekonomi umat berdasarkan prinsip prinsip syari’ah. Mas Ridwan sudah teken kontrak mewakafkan hidupnya untuk membumikan ekonomi syari’ah melalui BMT BIF.


Pengalaman mahasiswa zaman kami dulu, apalagi yang mengambil studi ekonomi, lazimnya sambil kerja, berwirausaha atau kegiatan ekonomi apapun. Mempraktikkan ilmu sekaligus mulai membangun kemandirian. Tidak sedikit yang menikah lebih awal sebelum wisuda, karena secara ekonomi sudah yakin bisa menghidupi rumah tangga. Mahasiswa yang menunggu kiriman orang tua, kesannya tidak keren.


BMT BIF terus berproses berkhidmat untuk umat, dengan sabar dan telaten mas Ridwan terus mentransformasikan lembaga ini. Semula kontrak tempat disebelah pasar, tahun 2010 an sudah mempunyai gedung sendiri. Dari nasabah anggota yang berjumlah puluhan, sekarang menjadi lebih dari 50.000 nasabah. Dari modal kurang 20 juta menjadi puluhan milliar. Dari tabungan anggota yang berkisar puluhan juta saja menjadi puluhan milliar. Dari pembiayaan kepada nasabah 15 juta, di tahun lalu sudah memberikan pembiayaan hampir 100 milliar.


BMT pada awalnya berbadan hukum BMT, lembaga keuangan non formal, didata di pusat inkubasi usaha kecil (PINBUK) yang diinisiasi oleh Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Kebetulan menteri koperasi dan UKM nya zaman presiden Habibi adalah pak Adi Sasono, yang juga pengurus ICMI. Setelah tahun 2010 an koperasi syari’ah yang melakukan usaha simpan pinjam bisa menggunakan nama Koperasi Jasa Keuangan Syari’ah (KJKS), maka BMT BIF mendaftarkan sebagai KJKS.


Dengan asset milliaran sangat mudah bagi BMT BIF bertransformasi menjadi bank pembiayaan rakyat syari’ah (BPRS) tapi tidak dilakukan. Keuangan sektor mikro yang menjadi sasaran pemberdayaan koperasi syari’ah justru lebih membutuhkan kehadiran LKS mikro dibandingkan sektor ekonomi yang diatasnya. Sama seperti yang dilakukan oleh BMT Sidogiri, salah satu BMT terbesar di tanah air yang lahir dan berkembang dari pondok pesantren dan kultur pedesaan di Pasuruan Jawa Timur, tetap konsisten di jalurnya walaupun assetnya sudah sekitar 1,5 trilliun. Manajernya saja bergaji di atas 30 juta, meskipun karyawan dan pengelola bank bersarung berpeci ala santri.


KJKS BMT BIF sekarang sudah mempunyai 11 cabang yang beroperasi di wilayah kota Yogyakarta dan sekitarnya. 


Pegiat ekonomi syari’ah dan para pelajar yang menekuni rumpun keilmuan ekonomi bisnis Islam seharusnya punya etos seperti mas Ridwan. Yakin menjalani karena mempunyai visi pengembangan ekonomi syari’ah. Mengimani ketentuan Allah dan mewujudkan keyakinan itu dalam kerja yang terstruktur, terencana dan inovatif. 


Ekonomi dan bisnis Islam pada masyarakat muslim adalah kebutuhan yang harus diupayakan bersama. Sebagai wujud kepatuhan secara menyeluruh terhadap Islam tidak hanya diwujudkan dalam aspek ibadah (relasi hamba dengan Tuhan), wajib pula diwujudkan dalam ranah mu’amalah iqtishadi (hubungan manusia dengan sesama dalam bidang ekonomi). Mas Ridwan yakin dengan itu, dan menjalankan ijtihad para ahlinya, dengan penuh kesungguhan mewujudkannya, dengan penuh kreatifitas mencari peluang peluang pengembangan.


Dia tidak takut menjadi miskin karena memperkaya umat, buktinya ekonomi rumah tangganya makin mapan. Antiknya, mas Ridwan berlomba lomba mendahului adzan subuh di masjid, lomba banyak-banyakan memelihara anak yatim, dan lomba menghafal al-Qur’an di usia 40 an. Dia tidak takut bodoh dan ketinggalan ilmu, karena setiap waktu dia mencerdaskan umat. Pendidikannya pun membaik terus, setelah sarjana masih berlanjut ke megister dan ke doktor. Ada berkah dari aktifitasnya sebagai khadimul umat.


Ada  pelajaran paling penting dari apa yang dikerjakan oleh teman kuliah saya ini. Pertama, keyakinan harus diperjuangkan, tidak peduli betapa beratnya. Kalau tangan kanan tak tahan, pindahkan ke tangan kiri. Tangan kiri lelah pindahkan ke tangan lainnya, terus pegang erat, jangan diletakkan, apalagi ditinggalkan. Kedua,  keyakinan yang benar terus dijajakan, dipasarkan, ditawarkan dengan cara cara kreatif. Inovasi tidak boleh berhenti. Dalam aspek apapun, kelembagaan harus terus bergerak mengikuti laju perkembangan zaman. Karena perilaku ekonomi masyarakat juga dinamis. Ketiga, kalau kita menyelesaikan masalah perekonomian umat, Tuhan akan mengurus ekonomi dan kemakmuran kita. Keempat, Ilmu akan terus berkembang bila diamalkan, ekonomi syari’ah akan terus berkembang bila dipraktikkan.



26 September 2020

#145


Selasa, 29 September 2020

Menulis Dari Kursi Roda

 

Oleh Syaifuddin



Menulis adalah cara bersukur terbaik. Tanpa sedikitpun kekurangan dan keterbatasan, mengapa kita terhalang untuk menulis. Meskipun hanya 300 kata perhari. Di mana sulitnya? Perlu waktu paling lama 30 menit untuk menulis, kalaupun tidak ada ide, tidak ada bahan untuk tulis, hanya perlu waktu kurang dari 30 menit tambahan untuk membaca.


Bandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Wesley Wee, pengidap cerebral palsy, 38 tahun. Penyakit yang membuat aktifitasnya sangat terbatas. Hidupnya tergolek di kursi roda, untuk makan dan ganti pakaian musti mendapat pertolongan. Untuk menulis ia hanya bisa menggunakan satu ibu jari kaki. Hanya satu jempol, dan itupun jempol kaki.


Untuk menulis 300 kata, mungkin ia perlu satu hari, bandingkan dengan apa yang dapat kita bisa perbuat dalam menulis. Perlu tekad, dan mental kuat untuk menyelesaikan sebuah buku. Wesley punya tekat bagus dan tau caranya bersyukur. Waktu lima tahun diperlukan untuk menuntaskan buku “Finding Hapinnes Against the Odd”, dipintal hari demi hari, disusun dengan tekun dengan ketukan jempol kaki.


Dengan keterbatasan Wesley mau berbagi. Melalui buku ia berbagi pengalaman, berbagi spirit. Tidak ada yang mustahil, jika bersungguh sungguh mengusahakan. Man jadda wa jada, bunyi makhfudhat anak anak pesantren, siapa yang bersungguh sungguh akan berhasil. Wesley memberi insipirasi kepada halayak, jangan menyerah dengan keterbatasan, apalagi hanya dengan rasa malas atau rasa enggan. “Jangan menyerah, sebab kalau cepat menyerah maka semuanya selesai”, katanya.


Memikirkannnya saja tidak mudah, apalagi menjalankannya. Maka kita yang diberi kelebihan fisik yang tidak bermasalah, kesempatan yang selalu ada, fasilitas yang tersedia, tetapi tidak bisa berkarya lebih baik dari Wesley. Kesempatan dan peluang paling berharga dalam hidup kita telah terbuang percuma. Menulis sebagai ungkapan syukur, sebagai tanda terima kasih, berbahagia dan mau berbagi karena Dia telah memberi semua yang tidak kita minta. Jika kita bersyukur, Tuhan tambahkan anugerah.


Wesley dengan satu jempol kaki bisa menulis setiap hari, kita yang punya sepuluh jari tangan ditambah 2 jempol kaki yang masih lengkap, apakah masih ada alasan lain untuk tidak menulis.


Mari kita bangun kesadaran diri untuk menulis, sebagai ihtiar belajar sepanjang hayat. Dengan menulis, berarti kita terus belajar. Dengan selalu menulis setiap hari kita terus membaca, baik bacaan yang tersurat maupun yang tersirat. Dengan terus menulis pikiran kita selalu hidup, memori otak kita berkembang. Dengan terus menulis pengetahuan kita semakin bertambah, logika kita semakin bagus. 


Kita perlu belajar juga dari anak muda yang luar biasa, Habibie Afsyah. Dari kursi roda Habibie terus berkarya. Baca apa yang ditulis “Bagi orang lain adalah kursi roda biasa. Tapi tidak, bagiku ini adalah panggung. Panggung yang Allah sediakan untuk hidupku. Di atas panggung inilah pula aku bekerja, berkarya dan berbagi manfaat untuk sesama. 



Habibie dilahirkan dengan keterbatasan, pada usia empat tahun dia baru menyadari tidak akan bisa berjalan selamanya. Mamanya yang memompakan semangat, menyediakan kakinya untuk Habibie kecil.


Habibie sadar betul dengan keterbatasan, karenanya tantangang untuk memberikan yang terbaik, menjadi etos. Ia produktif dalam menulis. Beberapa karya buku telah dilahirkannya. Ia juga dikenal hebat dalam marketing online. “Tanpa karya mungkin saya hanya dikenal sebagai Habibie Afsyah yang lumpuh dan sebagainya. Ia menyalurkan bakat menulisnya dalam dunia internet marketing. Pengalamannya yang panjang dalam internet marketing, mengantarkan pada profesinya sekarang sebagai web concultant.


Habibie penyandang difabel. Kaki lumpuh, tangan kiri tidak berfungsi juga tangan kanan yang nyaris tidak berfungsi, kecuali dua jarinya saja yaitu jempol dan ibu jari. Dengan dua jarinya inilah ia menulis dan menghasilkan banyak karya. Diantaranya  menjual dengan website, menjual dengan marketplace, menjual dengan media sosial dan lainnya.


Dua jari, dengan telunjuk dan jempolnya, Habibie tidak berputus asa. Dia mengasah terus kemampuan menulis. Dia berpikir positif, memberikan sumbangsih bagi kehidupan. Melalui tulisan dia melayani apa yang diperlukan oleh konsumen. Dia menggali keterampilan marketing. Atas dedikasi dan ketekunannya, dia mendapatkan penghargaan nasional Best of The Best Wirausaha dan penghargaan Danamon Awards.


Habibie yang kini berusia 32 tahun terlahir sempurna. Sebuah penyakit bawaan menggerogoti fungsi motorik, sehingga di usia 4 tahun, sudah harus tergolek di kursi roda. Mamanya Hj. Endang yang menjadi kakinya, di atas kursi roda Habibie berkarya dan menciptakan panggungnya.


Dengan menulis daya nalar, daya kritis akan terus berkembang. Dengan terus menulis, kita memberi inspirasi, memberi manfaat, memberi pengetahuan, menyalakan suluh, menerangi. Dengan menulis kesehatan kita terjaga, pikiran lebih sehat, obat anti pikun. Dengan selalu menulis kita senantiasa mendatangkan kebahagiaan dan optimisme, serta membagikan kebahgiaan dan optimisme bagi orang lain.


Banyak orang yang dilahirkan dengan keterbatasan seperti Wesley dan Habibie, tapi bersedia berbagi tanpa batas. Shane Burcaw, seorang blogger asal Amerika. Ia menderita spinal muscular athropy, gangguan genetik yang membuat ototnya tidak berkembang. Hidupnya dihabiskan di atas kursi roda. Meskipun geraknya terbatas, Shane produktif berkarya. Melalui blog ia berbagi tulisan. Ia memandang hidupnya dengan positif. 


Ia bagi sikap hidupnya dalam karya tulis. Ada tiga buku yang dihasilkan oleh Shane. Laughing at Nightmare (2014), Not So Different : What You Want to Ask About Having a Disability (2017) dan Strangers Assume My Girlfriend is My Nurse (2019). Ayo kita bandingkan dengan apa yang sudah kita hasilkan dalam hidup ini. Berapa buku yang kita terbitkan, berapa lembar halaman tulisan yang sudah kita hasilkan? Pemikiran dan pengalaman yang berguna bagi orang lain.


Bila mereka bisa menginspirasi di tengah kesulitan. Apa yang sudah kita berikan sebagai rasa syukur atas kesempurnaan yang Tuhan anugerahkan. Kita jadikan cermin, menjadi pelajaran, menjadi daya dorong untuk bisa berbuat lebih. Menulis menjadi manivestasi berterimakasih, bentuk refleksi aktualisasi diri.



26 September 2020

#144

 


Senin, 28 September 2020

Sekolah Secara Benar !

 

Oleh Syaifuddin



Dalam budaya masyarakat kita titel seakan segalanya. Bungkus lebih diutamakan daripada isi. Kemasan diagungkan ketimbang substansi. Pulang dari Makkah tidak dipanggil pak haji, tidak menjawab. Sudah mencapai guru besar, lupa dipanggil dengan gelar profesor, merajuk. Tidak dipanggil doktor, merasa turun kelas. Kalau sudah jadi pejabat hilang namanya jadi pak Menteri, bu Wali, pak camat, pak lurah.


Akibatnya ada yang tergila gila dengan gelar pangkat, meskipun dengan cara culas dan berbohong. Berapa tahun yang lalu banyak dijual Dr., MBA, Ph.D abal abal yang dikeluarkan oleh perguruan tinggi di Amerika. Perguruan tinggi yang menyaru nama kampus terkenal, padahal lembaga kursus. Untuk menyamarkan diberilah lebel honoris causa. Yudisiumnya di hotel. Hanya demi gelar rela membayar sekian juta, tanpa proses studi selayaknya dengan menghasilkan karya akadmik tesis atau disertasi. Itu karena masyarakat gila gelar.


Belum terlalu lama publik dibuat heboh dengan wawancara di youtube antara Erdian Aji Prihartanto atau Enji dengan Hadi Pranoto, seputar klaim penemuan obat Covid-19. Dua orang ini dilaporkan ke polisi karena dugaan penyebaran berita bohong. Hadi Pranoto mengaku sebagai Dr. dan memanggil dirinya profesor. Belakangan hari dia meralat, bahwa atribut itu hanya panggilan kesayangan.


Main tipu tipu dengan gelar palsu bukan barang baru, di tahun 60 an, ada Djokosutomo yang menambahkan gelar profesor di depan dan gelar M.A dibelakang namanya. Ternyata M.A itu adalah kependekan dari namanya sendiri, Marto Atmodjo. Nipunya lebih berkelas dan gemblung.


Di tanah air, gelar pendidikan jenjang sarjana yang pertama kali ada tiga yaitu : gelar meester in de rechten (Mr.) untuk bidang hukum, dokter (Arts.) untuk kedokteran dan insinyur (Ir.) untuk teknik. Disiplin ilmu yang dianggap penting oleh Belanda di wilayah jajahan yaitu ilmu hukum, kedokteran, teknik dan arsitektur. Penamaan tiga gelar tersebut mengikuti aturan di negeri Belanda. Pada tahun 1930 an jenjang pendidikan diperluas sampai jenjang doktoral dan memperluas disiplin ilmu baru.


Setelah Indonesia merdeka, di tahun 1950 an perguruan tinggi pada zaman Belanda telah berubah menjadi universitas. Gelar akademik di tingkat sarjana pun berkembang dengan hadirnya gelar baru Drs., M.A., dan M.Sc.


Kebingungan penerapan gelar Dr. untuk doktor dan dokter juga pernah memantik polemik di tahun 1960 an. Menimbulkan salah panggil dalam wisuda wisuda. Memicu kerancuan di masyarakat. Dokter bukanlah gelar akademik, tetapi sebutan profesi seseorang yang telah menempuh profesi kedokteran. Singkatan Dr. hanya untuk pemegang gelar doktor, yang diberikan kepada seseorang yang telah menempuh promosi atas karya disertasinya atau penghargaan universitas atas jasa jasa seseorang (doctor honoris causa).


Gila pangkat/titel ini juga sudah berlangsung sejak tahun 1960 an. Orang menampilkan semua gelar berderet deret meskipun keilmuannya linier. Dr. yang sudah menyelesaikan jenjang sarjana dan magisternya dalam bidang yang sama, lazimnya menggunakan gelar tertinggi saja. Boleh memakai gelar yang lain bila disiplin ilmunya berbeda beda.

Kalau zaman dulu gelar ini digunakan untuk menipu dengan berlagak sebagai Mr. Fulan dan Nyonya Ir. Empok. Sekarang tipuan ini naik kelas biasanya digunakan calon anggota legislatif  di semua tingkat atau  calon kepala daerah. Dengan gelar yang berenteng diharapkan dapat menaikkan citra. Penipuannya naik level.


Ada sebagian orang yang fanatik dengan gelar, waktu guru besar minta dipanggil profesor, tapi sebelum itu jabatannya lektor kepala, tidak minta dipanggil bapak lektor kepala doktor bla bla bla, padahal kedua duanya sama jabatan akademik. Profesor atau lektor kepala disematkan kepada seseorang yang masih menjadi dosen, kalau sudah pensiun atau alih bertugas di bidang lain, jabatan akademiknya tidak ada.


Di sisi lain rasio jumlah doktor (yang beneran, bukan doktor palsu) menentukan kualitas pendidikan. Dalam 1 juta penduduk di Indonesia terdapat 143 doktor, dibawah Malaysia dengan  rasio 509 doktor, India dengan 1.410 doktor, Jepang dengan 6.438 doktor, Amerika serikat dengan 9.850 doktor. 


Di Indonesia jumlah doktor mencapai 75.000 akan sampai pada angka 100.000 di tahun 2022 dan 150.000 doktor akan tercapai pada 2026. Ini doktor asli semua, karena negara betul betul menggenjot kualitas pendidikan pada tingkat doktoral dengan berbagai beasiswa seperti LPDP dan program 5000 doktor. Mulai tahun 2016 LPDP dan program 5000 doktor sudah memanen ribuan doktor lulusan dalam dan luar negeri.


Ayo sana cari ilmu yang bener. Gelar itu bonus, bukan tujuan. 

28 September 2020

#142